Akhirnya Kita MUSMA

Akhirnya Kita MUSMA

Sebuah Catatan Proses:

TPS ditarik kembali oleh KPR ditengah berlangsunya Pemira

Fisip 08:11 WIB (20/12/2010), KPR  datang ke kampus Fisip membawa  kotak TPS. Tiba-tiba teriakan menyeruak “Wueh, Berani banget itu KPR!”. Segerombol teman-teman mahasiswa Fisip memang sedang standby menanti  jawaban dari surat tuntutan mereka terhadap DLM BEM-Universitas (BEM-U)agar melaksanakan terlebih dahulu MUSMA (Musyawarah Mahsiswa), menata AD/ART dan melaporkan pertanggung jawaban setahun kepengurusan sebelum kemudian diadakan PEMIRA. Teriakan keras itu ternyata adalah ekspresi dari dihinanya Keluarga Besar Mahsiswa Fisip, surat tuntutan belum juga diproses, KPR tanpa permisi membawa masuk dan menaruh TPS.

Beberapa mahasiswa dari UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) dan BEM Fisip seketika langsung manghardik KPR. Sebuah perdebatan panjang terjadi. KPR bersikukuh  dengan dalih “Ini kita hanya melaksanakan tugas”, sayangnya jawaban tersebut dianggap tidak bisa memuaskan. Ditengah debat panjang antara KPR dan Mahasiswa Fisip datanglah kabar adanya kejadian serupa di Peternakan. Merasa satu permasalahan, sebagian mahasiswa Fisip, termasuk diantaranya menteri Sosial Politik Wildansyah langsung menuju sekretariat KPR di PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa).

Sesampainya satu pasukan FISIP ini di sekretariat KPR.  Disana DLM Fak.Peternakan ternyata sedang meminta TPS yang ada di kampusnya untuk segera ditarik. Setelah KPR mengamini dengan terpaksa permintaan DLM Faperta, dari FISIP juga menuntut serupa dan KPR akhirnya menarik TPS di dua Faklutas tersebut.

Tidak hanya di dua Fakultas FISIP dan Peternakan. Penutupan TPS juga terjadi di Fakultas pertanian, dipelopori oleh teman-teman UKM setempat. Fakultas Pertanian, Peternakan dan FISIP akhirnya bergabung satu barisan, keliling ke setiap kampus sembari menyuarakan tuntutuan akan adanya MUSMA dan LPJ (Laporan pertanggjawaban BEM Universitas), seiring dengan bergabungnya mereka turut serta pula didalamnya Aliansi Persma.

Di tiap kampus, barisan tiga Fakultas dan Aliansi Persma ini berbagi wacana, tentang pentingnya MUSMA dan Tuntutan terhadap adanya MUSMA sebelum pemira. Berorasi ditiap TPS, serta membagi selebaran bertuliskan “Tolak Pemira. MUSMA dan LPJ Harga Mati”,selebaran tersebut juga ditempel di tiap kotak suara dan diminta untuk tidak dicabut, karena bagaimanapun itu merupakan suara mahasiswa.

KPR mengambil sikap, menarik semua kotak TPS karena setiap TPS diseluruh kampus di datangi oleh teman-teman yang menuntut musma ini. “Jam sebelas tadi siang kita tarik semua TPS” jelas Andi anggota DLM Unsoed, pernyatan serupa juga disampaikan presiden BEM-U “Tadi siang TPS semua ditarik”.

***

PKM 13:28 WIB

Berawal dari pesan singkat Presiden BEM U yan meminta pergtemuan pukul 13:00 WIB di PKM. Dengan segera, teman-teman yang menuntut musma langsung menuju PKM. Di pendopo tepatnya, sebuah negosiasi dan pertemuan singkat terjadi. Berujung pada sebuah putusan Presiden BEM-U mengundang seluruh Fakultas, berdialog menyoal Pemira dan MUSMA. Saat siang itu pula, teman-teman yang menuntut MUSMA melakukan pembakaran spanduk Pemira di PKM. Ekspresi simbolik dari ketidak puasan kinerja DLM dan BEM Universitas.

Akhirnya Kita MUSMA

PKM 16:20-22:30

Pertemuan seluruh Fakultas dilangsungkan di Pendopo PKM. Awalnya perdebatan panjang soal MUSMA atau Pemira terlebih dahulu, sebagian bersikukuh bahwa pemira dilaksanakan terlebih dahulu sebelum MUSMA. Terjadi kontroversi tentang ART pasal 4 KBMU. Persoalan tidak tegasnya AD/ART tesebut sebenarnay hanya bisa diselesaikan di Musyawarah Mahasiswa sebagai institusi.

Presiden BEM U merasa tidak ingin terjebak hanya menyoal ART pasal mepat tentang MUSMA dan Pemira, ia pun melontarkan sebuah penyataan “Sepertiynya kita disini tidak hanya menyoal ART, tetapi mungkin ada masalah yang lebih besar”. Menanggapi persoalan tersebut kemudian forum berjalan flashback menyoal kesejarahan dan banyak perkara yang tidak diselesaikan di waktu sebelumnya. Selain persoalan  kasus-kasus yang belum tuntas, harapan dan cita-cita agar tetap ada sebuah lembaga strategis mahasiswa tingkat universitas yang terbuka, tidak elitis, mengakomodir permasalah fakultas. Maka sampailah pada sebuah kesepakatan akan diadakannya MUSMA, dan Pemira yang sedang berlangsung dibatalkan.

MUSMA kemudian bukan lagi tuntutan Keluarga Besar Mahsiswa FISIP, Peternakan, dan Pertanian, melainkan juga tuntutan bersama forum malam itu. Bersama berkomitmen untuk mengadakanMUSMA demi membangun KBMU (Keluarga Besar Mahasiswa Unsoed) yang aspiratif terhadap permasalahan di Fakultas.

PKM 16:35 (21/12/2010)

Di senja yang enggan lagi menampakan cahanya, undangan dari DLM tentang sosialisasi MUSMA mulai disebar. Tepatnya MUSMA akan dilaksanakan di PKM 25 Desember 2010. Tingkat Partisipasi Mahsiswa dan Unit Kegiatan dinanti, untuk bersama membangun lebaga yang akomodatif.

Mari teman-teman Mahsiswa dan UKM kita bangun Lembaga Universitas Berbasis Fakultas.
Angela Ashes; Geli melihat Kemiskinan

Angela Ashes; Geli melihat Kemiskinan

Tak ada yang menarik dari sebuah kemiskinan, kondisi paling ditakuti bagi siapapun yang hidup didunia. Enggan menatapnya apalagi mengalaminya, karena bagaimanapun itu luka dunia. Tapi kisah ngeri kemiskinan Frank Mccourt, bisa menjadi menarik untuk disaksikan karena kekejaman Ekonomi bisa terbingkai dalam humor tanpa melepas suasana tangis.

Angela Ashes adalah sebuah film yang diangkat dari Novel kisah nyata penulisnya, Frank Mccourt. Kisah kemiskinan paling mengerikan sepanjang abad di Eropa, tepatnya di Irlandia pada masa penjajahan Inggris tahun 1930an. Versi Novelnya mendapatkan penghargaan berlipat-lipat, dari Pulitzer Prize, National Book Critics Circle Award hingga Royal Society of Literature Award dan menjadi best Seller dipertengahan abad 19.

Kisah hidup frank Maccourt dalam pergelutannya bersama kemiskinan, kematian, penyakit, kelaparan tragis dan cuaca tak pernah mendukung. Seorang sastrawan terkemuka di Amerika yang terpaksa menghabiskan masa kecil di Irlandia negeri paling miskin di Eropa saat itu, karena ayahnya Malachy (Robert Carlyle) kehilangan pekerjaan hingga keadaan memaksa mereka kembali keluarga orang tua Ibunya, Angela (Emily Watson).

Pokok masalah dalam kehidupan Frank Maccourt adalah ayahnya yang alkoholik dan pengangguran. Bahkan hingga keluarganya dianggap mendapat kutukan kemiskinan serta kesengsaraan dari tuhan bagi para Katolik akibat tidak pernah berdo’a dan memujiNya. Kesengsaraan nampak jelas saat adiknya meninggal satu persatu hingga meninggal dunia karena kelaparan.

Ayah Frank tidak pernah mendapat pekerjaan, keluarganya dihidupi dari uang tunjangan yang sudah terpotong untuk bermabuk-mabukan. Pernah Malachy mendapat pekerjaan, akan tetapi uang gaji yang seharusnya menjadi surga bagi anak-anaknya dirumah, dihabiskan untuk bermabuk-mabukan di pub. Dia memang bukan lelaki bertanggung jawab, uang kiriman untuk biaya bayinya yang baru lahir saja dia habiskan untuk membeli alcohol, bahkan di akhir cerita Malachy tidak mengirimi uang tunjangan relawan perang dan tidak pulang kembali ke rumah saat pergi ke Inggris menjadi tentara.

Selain soal ayahnya, sisi menarik Film yang digarap oleh Paramount Pictures adalah kekocakan alur cerita serta celoteh Frank dan keluarganya menanggapi kontradiksi-kontradiksi kehidupan juga kritik-kritik kecil bagi kuasa gereja beserta kepatuhan fanatisme orang-orang Irlandia.

Humor dan kelincahan McCourt di Novelnya mampu dibawa kedalam Film, menyaksikan film ini setting kemiskinan akut, kehidupan yang suram bisa terabaikan. Kemenangan kemenangan McCourt kecil seringkali mengejutkan, membuat tersenyum, tertawa sendiri atau haru lalu tersindir. Film ini bukan kategori komedi, kelucuan yang mebangkitkan tawa muncul dari hentakan alur cerita yang kritis melihat keadaan Irlandia di tahun 1930an, tawa yang dihasilkan dari cernaan cerdas penonton menangkap film.

Secara keselurahan film ini banyak memiliki kelebihan dibanding kekurangannya. Kritik dalam bagi film ini muncul ditujukan bagi McCourt yang tingkat akurasi ingatannya diragukan oleh public, isu ini mencuat pasca wawancaranya di Irlandia di tahun 2000. Selebihnya atas terciptanya Film ini penuh dengan apresiasi dan pwenghargaan yang dating silih berganti.
Kartu Merah Untuk DLM KBMU

Kartu Merah Untuk DLM KBMU

Sudah melanggar AD/ART, tidak ada koordinasi diantara DLM KBMU pula

Tak terasa satu periode kepemimpinan Presiden BEM Unsoed, Helmi Shoim, hampir berakhir. Pamflet pengumuman pembentukan Komisi Pemilihan Umum Raya (KPR) pun telah disebar. Pembentukan KPR, menandakan akan segera dilaksanakan Pemira, pesta demokrasi terbesar mahasiswa Unsoed.

Hal ini ditegaskan oleh Lukman, Dewan Legislatif Mahasiswa Keluarga Besar Mahasiswa Unsoed (DLM KBMU) yang bertanggung jawab atas pembentukan KPR. “Saat ini DLM memang sedang membentuk KPR. Soalnya bulan November akan diadakan Pemira, kemudian bulan Desember akan diadakan Musyawarah Mahasiswa (Musma).”

Secara umum, Musma dilaksanakan lebih dahulu sebelum Pemira. Seperti yang dikatakan oleh Andi Ali Said Akbar, dosen Ilmu Politik Fisip Unsoed, “Dalam logika berorganisasi memang seharusnya diadakan musyawarah sebelum pemilihan ketua”. Dalam musyawarah itulah nantinya akan dibahas evaluasi kepengurusan periode sebelumnya, dasar organisasi hingga mekanisme pembentukan struktur. Aneh, jika mekanisme pembentukan KPR sudah dilaksanakan padahal belum dirumuskan.

Pernyataan dosen muda tersebut sesuai dengan isi AD/ART KBMU. Khususnya dalam ART Pasal 4 tentang Musyawarah Mahasiswa. Beberapa poinnya menjelaskan bahwa Musyawarah Mahasiswa Membahas dan menetapkan mekanisme pemilihan BEM Unsoed dan DLM Unsoed. AD/ART yang merupakan dasar organisasi telah menjelaskannya secara jelas. Dengan pelaksanaan Pemira sebelum Musma, berarti DLM KBMU sudah melanggar AD/ART.

Logikanya dengan diadakan Pemira sebelum Musma, berarti sudah ada Presiden BEM Unsoed terpilih beserta DLM KBMU. Padahal dengan begitu pembahasan AD/ART bisa saja didominasi oleh segolongan kabinet terpilih.

Sangat lucu, pelanggaran AD/ART ini hanya berlandaskan alasan konyol DLM akan ketakutan yang tidak beralasan. “ Agar tidak terjadi kekosongan kekuasaan,” ujar Lukman. Namun, alasan DLM dibantah oleh Muhammad Abdunnafik Mu’iz, mantan Presidium tahun lalu. “Tidak akan terjadi kekosongan kekuasaan karena setelah Musma berakhir kemudian dilaksanakan LPJ dari BEM dan DLM, BEM memang dibekukan. Tetapi kekuasaan masih dipegang oleh DLM yang bertanggung jawab atas pelaksanaan Pemira di bantu oleh Presidium.”

Seakan belum cukup pelanggaran AD/ART, di dalam tubuh DLM KBMU sendiri pun tidak ada koordinasi. Rendi Retissu, Ketua Umum DLM KBMU justru menyatakan bahwa DLM masih bingung akan melaksanakan Pemira atau Musma dulu. Pernyataan Rendi ini tentu sangat bertolak belakang dengan pernyataan Lukman yang secara tegas sudah merencanakan akan mengadakan Pemira sebelum Musma.

Sudah melanggar AD/ART, tidak ada koordinasi diantara DLM KBMU pula. Lantas selama ini DLM KBMU bertugas dengan landasan apa? Jangan-jangan AD/ART sudah dianggap sampah. Jangan-jangan DLM KBMU melaksanakan Musma di akhir untuk mempertahankan status quo.
Dibalik Kelimpahruahan Produk Teknologi

Dibalik Kelimpahruahan Produk Teknologi

“ Terjadi kelimpahruahan barang konsumsi yang sebenarnya tidak dibutuhan, tetapi dengan ‘manipulasi teknologi’ barang-barang kebutuhan itu seperti sebuah kebutuhan nyata.”



Produk  merupakan roh dari aktivitas sebuah industri. Tanpa produk, jelas industri akan mati. Disinilah kemudian industri dituntut untuk mempertahankan kelangsungan akumulatif kapitalnya. Salah satunya dengan terus mengembangkan inovasi teknologi. Tentu kita semua dapat membandingkan produk berteknologi tahun 2000 dengan sekarang. Kita akan memperoleh pemahaman bahwa produk-produk tersebut mengalami metamorfosis dengan begitu cepat. Metamorfosis ini terjadi berbarengan dengan teknologi baru yang berhasil diciptakan.

Persaingan pasar yang semakin ketat antar berbagai industri, mengharuskan tiap industri  terus menggulirkan teknologi sebagai alat ampuh menarik hati konsumen. Terutama  agar hasil produksi terus laku di pasaran. Masyarakat dikonstruksi sedemikian rupa untuk terus melakukan tindak konsumtif berdasarkan fantasi, halusinasi, ilusi pada tanda atau simbol yang diciptakan kapitalisme lewat media massa. Contohnya iklan yang menciptakan model-model realitas yang tidak jelas asal-usulnya. Di dalam iklan terdapat tanda-tanda yang mencerminkan kebohongan-kebohongan yang membuat masyarakat mengkonsumsinya (Ritzer,2006:137, Storey, 2005:111).

Membludaknya produk berteknologi dipasar semata-mata untuk menjaga kelangsungan hidup industri kapitalisme. Produk yang dihasilkan sudah tidak lagi mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, tetapi lebih daripada  akumulasi kapital/keuntungan. “ Perusahaan pada intinya hanya mencari keuntungan besar dalam melakukan produksi,” ungkap Hasatama Hikmah alumni FISIP UNSOED yang saat ini bekerja sebagai marketing di sebuah industri ternama di Indonesia.

Ditengah arus produk yang sedemikian besar di pasar, akhirnya produk berteknologi yang notabene bertujuan untuk mempermudah dan mengefektifkan aktivitas manusia justru malah menimbulkan tidak keefektifan. Iqbal Prihastowo mahasiswa jurusan politik sks 2009 FISIP UNSOED disela-sela kegiatannya mengatakan,” Teknologi sekarang digunakan hanya untuk prestise belaka.” Lelaki berkulit sawo matang ini menganggap esensi penggunaan teknologi sudah bergeser lebih kearah gaya hidup.

Ternyata ketidakefektifan penggunaan teknologi yang disebabkan suatu kondisi yang diciptakan oleh kepentingan kapitalisme mempunyai dampak yang negatif bagi kehidupan sosial. Hal ini dirasakan oleh Cipto AN 2009, mahasiswa berambut gondrong ini mengatakan teknologi membuat gaya berpikir kita menjadi instant. Baginya, teknologi menciptakan budaya malas. Misal ketika teknologi belum membludak, dulu mahasiswa ketika mengerjakan tugas kuliah lebih aktif untuk cari buku di perpustakaan. Namun sekarang banyak memakai jalur praktis melalui internet. Tak jarang mereka hanya copy-paste saja.

Teoritisi Mazhab Frankfurt, Herbert Marcuse mengatakan bahwa teknologi yang sejatinya dibuat oleh manusia malahan menguasai umat manusia itu sendiri. Manusia mengkonsumsi bukan lagi didasarkan kepada kebutuhan akan tetapi karena keinginan. Angga Cahya, mahasiswa hukum 2007  yang mengaku menggunakan teknologi itu supaya ‘gaul’ dan ikut trend. “ Apalagi cewe sering beli barang karena keinginan, bukan kebutuhan. Gak butuh tapi dibutuh-butuhin,” tambah Riski Sukma mahasiswa jurusan elektro.

Apa yang kemudian Jean Baudrillard anggap sebagai kondisi Hiperrealitas, yakni sebuah kondisi matinya realitas. Diambil alih oleh sesuatu yang disebut non-realitas. Lewat Iptek, Hiperrealitas menawarkan berbagai pengalaman, penjelajahan dan panorama baru yang artifisial tetapi dianggap nyata. Ia merenggut apa yang disebut realitas alamiah: eksotisme, keaslian dan transenden.

Lebih jauh lagi, kerangkeng teknologi menumbuhkan ketergantungan bagi penikmat dan penggunanya. “ Tak ada teknologi hidup terasa hampa,” dara manis jurusan Akuntansi 2009 Diah Ayu P dengan jujur mengatakan hal tersebut sambil tersenyum kecil menunjukan handphone-nya yang sedari tadi digenggam. Setidaknya itulah yang terjadi dari teknologi, berangkat dari sejarah kebutuhan hidup untuk mengefektifkan, berujung pada ketergantungan, prestise dan label. (Agus, Nike, Arief, Mugi)
Ukuran Besar Tidak Berarti Kebutuhan Besar

Ukuran Besar Tidak Berarti Kebutuhan Besar

“Hidangan kapital yang tampak lezat

sangat menggiurkan untuk terus dilahap, manusia berakhir dalam jebakan”



Selamat datang di restoran siap saji dengan hidangan dari kapitalisme yaitu teknologi. Zainul Hakim seorang mahasiswa politik 2008, sang pemilik wajah unik mulai menceritakan hidangannya yang berupa hardisk yaitu sebuah alat penyimpan data. Dengan gaya diasik-asikkan ia bertutur, ternyata dokumen di dalam hardisk yang ia miliki terkadang tidak ia nikmati. Alasannya, saking banyaknya dokumen yang ia simpan karena kapasitas memori yang besar membuat ia asal simpan data.

Seorang mahasiswa angkatan 2008 yang bernama Susan Agustin si pecinta karaoke dan lagu-lagu melankolis menyimpan begitu banyak lagu dalam hardisknya. Ibaratnya Susan ini memiliki brankas lagu dari yang jadul hingga masa kini, selayaknya stasiun radio. Susan menuturkan “Tak semua lagu-lagunya gw sukain, tapi tetap gw simpen”.

Lain lagi dengan Wulan Mauliyatun Zuhna yang menyimpan begitu banyak film di hardisknya. Film-film tersebut ia dapatkan dari pacarnya yang memang hobi men-download dari internet. Nyatanya Wulan mengaku hanya sedikit film yang ia tonton. Hal ini disampaikan pula oleh Satrio Hapsoro, lelaki semi gondrong yang biasa berkaos agak longgar. “Banyak film yang tak sempat tertonton di hardisk-ku”,katanya.

Kawan-kawan kita ini memiliki kebutuhan baru karena adanya space besar dalam hardisk yang memungkinkan mereka menyimpan begitu banyak data. Akhirnya mereka yang tadinya tidak usah menonton film, mendengar lagu, atau melahap dokumen-dokumen harus melakukan rutinitas tersebut demi sebuah kebutuhan yang dibuat teknologi.

Memang hardisk nampak sebagai hidangan istimewa dengan bumbu ekstra. Bagaimana tidak menggugah selera, hardisk dikemas dengan kapasitas memori tinggi yang memungkinkan penikmatnya menyimpan banyak data. Dewasa ini, di restoran siap saji yang dimiliki para kapital hardisk menjadi sebuah “kebutuhan”.

Sedikit dari Jurgen Habermas tentang tindakan instrumental. Manusia diatur teknologi bukan manusia yang mengejar teknologi. Ini terjadi di kehidupan saat ini, “kapsitas besar hardisk menjadi sebuah kebutuhan baru yang terus harus terpenuhi”, kata Regina Kartika Ayu, Komunikasi 2010.

Sedikit flash-back dengan masa lalu yang suram saat kita hanya disediakan disket dengan kapasitas kecil dan bertingkah menyebalkan karena mudah rusak. Kemudian meningkat pada hadirnya flashdisk berukuran 128 serta 512 Kb, bahagia tak terkira dengan kehadiran benda kecil itu. Bangga nian saat sang flashdisk menyangkol di dada sebagai bandul kalung. Hingga hari ini para kapital menyajikan hidangan sangat istimewa dengan kapasitas space (ruang) hingga ukuran tera yaitu si sakti hardisk.

Penuturan cermat dari Sulyana Dadan S.sos. M.Si, sebagai masyarakat yang hidup di era teknologi semestinya kita menggunakan sudut pandang yang cerdas dalam menanggapi teknologi. Memandang teknologi dari sudut positif serta negatifnya. Nah, untuk kasus kebutuhan yang dibuat kapital dengan hidangan berupa hardisk kapasitas besar ini, kita pun harus bisa membedakan yang mana kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah hal-hal yang mesti terpenuhi saat itu juga sedangkan keinginan dapat ditunda. Sekarang masalahnya masyarakat sering kali lupa diri, mendadak tak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Contohnya, menyantap hardisk bermemori besar karena ngakunya itu kebutuhan, padahal penggunannya tidak optimal. Hanya untuk mengikuti zaman saja. Zamannya disket ya pakai disket, zamannya hardisk ya ikutan pakai. Anna Nurhasanah, Mahasiswa Sosiologi 2008 bertutur, “Tidak semua santapan produk yang tersedia itu dibutuhkan oleh masyarakat”. Permasalahan semacam ini yang semestinya jadi perhatian.

Kalau menurut Firdaus Putra S.Sos, permasalahan yang timbul karena ketersediaan space yang besar adalah bisa terjadinya penurunan makna. Dahulu kita harus memilih dengan selektif dokumen-dokumen yang akan kita save karena keterbatasan memori. Alhasil, kita melahap semua data yang disimpan karena memang hanya beberapa dokumen yang kita miliki. Berbeda dengan saat ini, banyak data-data baik berupa film atau catatan-catatan yang terbengkalai dalam alat penyimpan data kita. Inilah yang dialami kawan-kawan hari ini.

Penyusutan makna terjadi gila-gilaan saat data-data menjadi sampah karena tak dilirik pemiliknya. Menurut Firdaus lagi yang terpenting dalam menghadapi kemajuan teknologi yang melimpah seperti saat ini adalah menggunakan teknologi secara bijak. “Kita mesti paham betul teknologi apa yang memang kita butuhkan sehingga efektifitasnya tetap terjaga”, tutur Annisa M.T jurusan AN angkatan 2008.

Melek teknologi akan menjadikan kita memaknai  hal-hal penting yang kita butuhkan. Sehingga kita tidak menjadi konsumen yang dipermainkan para kapital. Teknologi itu bukan hanya untuk dinikmati tapi untuk dimaknai. Selamat terjebak menikmati hidangan dari kapital dengan pola konsumsi sehat.
Selera Matik, Selera Konstruk

Selera Matik, Selera Konstruk

Oleh : Allaela Dwi H.

Kamu terlihat paling cantik. Dengan skuter matik yang menawan. Dengan gaya klasik zaman sekarang” (SKJ)

“Cewek pantesnya pake motor matik biar kelihatan lebih feminim” itulah kalimat yang terlihat dilayar kaca handphone salah satu tim mading dari Puput anak komunikasi 2009.  Bukan hanya Puput yang beranggapan seperti itu, tapi Fedrianti dari sasing 2009 juga mengatakan “Kalo cewek pake motor matik lebih keliahatan ceweknya”. Motor matik merupakan motornya para kaum hawa, motor matik bila dipakai oleh para perempuan akan kelihatan lebih feminim. Seperti itulah anggapan yang sedang berkembang disekitar kita, sebuah pembedaan dengan alasan jenis kelamin.

Mengapa sampai terjadi anggapan seperti itu? Ada asap pastilah ada api. Mungkin Itulah peribahasa yang sesuai untuk memulai pencarian sebab musabab jika perempuan pakai matik akan kelihatan lebih feminim. Lalu siapakah sang api?

Setelah Tim Mading Solidaritas melakukan penelusuran, ternyata mainstream pembedaan kendaraan roda dua berdasar jenis kelamin terjadi karena sebuah konstruk. Sebagaimana yang disampaikan oleh Trianasari, dosen jurusan politik “Perempuan berada dalam sebuah konstruk budaya. Konteks saat ini berbeda, masalahnya siapa yang diuntungkan akan berkembangnya budaya tersebut”. Pada akhirnya memang pertanyaan siapa yang diuntungkan akan anggapan motor matik adalah motor perempuan menjadi sebuah pertanyaan, agar terang dimanakah akar dari konstruk ini.

Adapun data-data yang Tim Mading Solidaritas peroleh terkait siapa yang diuntungkan oleh konstruk ini adalah para produsen kendaraan roda dua tersebut. Mereka ternyata sengaja membuat konstruk tersebut agar muncul segmen baru untuk produk mereka. Sebuah pernyataan memastikan segementasi baru ini, muncul dari DDS-Rep Office Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) Jateng-DIY, Muliadi “Motor jenis matik harus menjadi pilihan. Terutama bagi kalangan muda dan wanita”. Data lain yang mencengangkan juga ditunjukan oleh www.motorplus-onlne.com;  600 ribu wanita per tahun tercatat sebagai pengendara baru matik. Jumlah ini diprediksi terus bertambah.

Banyak cara digunakan oleh para produsen agar sebuah cara pandang baru mengenai Perempuan meringsuk masuk dalam benak kita perlahan tanpa disadari, hingga pada akhirnya menjadi selera yang tak dapat dipungkiri. Semisal adalah menyebarkan cara pandang seolah perempuan telah ketinggalan, dan salah satu caranya agar terdepan adalah mengugunakan motor matik, maka dibuatlah iklan dengan slogan “Wanita jangan mau ketinggalan”. Terkait hal ini seorang mahasiswa sosiologi angatan 2004, Arif Wicaksono berpendapat “Budaya membuat seolah perempuan telah ketinggalan”.

Fakta lain kepentingan para produsen ternyata telah mengkonstruk cara berpikir bahkan selera kita adalah munculnya sebuah lirik lagu dari SKJ “Kamu terlihat paling cantik. Dengan skuter matik yang menawan. Dengan gaya klasik zaman sekarang”. Juga terdapat bukti lain yang mengindikasikan bahwa perempuan cantik dan ideal adalah yang sebagaimana Iklan citrakan, indikasi ini bisa kita dapatkan dalam lirik lagu band ST 12 “blAa... bla... bla....“.

“Ya, tinggal bagaimana kita mengambil sikap selanjutnya, menyadari akan adanya hegemoni”  Ucap Didik Ari Prasetyo, salah seorang sarjana Komunikasi saat Tim mading meminta untuk menanggapi adanya komunikasi yang menghegemoni dilakukan produsen motor matik terhadap Perempuan pada khususnya.

Jika kita telah menyadari akan hal ini, maka tak sepantasnya lagi menilai sesuatu akan perbedaan jenis kelamin menggunakan citra motor matik. Seperti menilai bahwa sisi feminim akan semakin nampak jika bermotor matic, jangan sampai kita terjebak pada konstruk kepentingan para pemodal sehingga terkeruk habislah uang di saku kita.
Cijo; Gerbang Berbagi Informasi

Cijo; Gerbang Berbagi Informasi

Semua orang bisa mengambil peran dalam arus informasi di dunia maya. Apakah kita hanya akan menjadi penonton?



Kompasiana.com merupakan web yang tidak terdengar asing di telinga kita. Web ini sering menjadi rujukan ketika kita sedang mencari informasi. Tak jauh berbeda nasibnya dengan kompasiana.com, kompas.com  pun menawarkan berbagai informasi yang kita perlukan.

Eits, jangan salah walaupun sama-sama gudang informasi, keduanya memilki  perbedaan tipis, yakni penulisan beritanya. Kompasiana.com berisi informasi atau berita yang ditulis oleh masyarakat biasa. Sedangkan dalam kompas.com ditulis oleh wartawan profesional tentunya dengan editan ketat lembaga penerbitan kompas. Berbeda dengan kompasiana, siapa saja bisa menulis berita atau opini tanpa harus terikat oleh suatu lembaga.

Adanya kompasiana.com merupakan cerminan bahwa kini masyarakat dapat berperan aktif dalam menyampaikan sebuah informasi. Keterlibatan masyarakat dalam berbagi informasi itulah yang melahirkan citizen journalism, yang sering di sebut CiJo.

CiJo menurut Shayne Bowman dan Chris Willis, para pengamat media, adalah tindakan warganegara memainkan peran aktif dalam proses pengumpulan, pelaporan, analisis, dan menyebarkan berita dan informasi. Cijo menjamin masyarakat umum untuk memiliki otoritas penuh dalam mengumpulkan, mengolah, dan mempublikasikan sebuah informasi.

“Dalam citizen journalism semua orang bisa menulis tanpa melihat apakah ia wartawan atau bukan” Ucap Edi Santoso M.Si. Dengan berkembangnya internet dan CiJo maka bukan hanya wartawan saja yang dapat menulis berita tetapi masyarakat pun dapat menulis.  Masyarakat bebas menulis apa saja bahkan yang selama ini tidak tersentuh oleh media umum. Keluh kesah, opini atau kritikan bagi pemerintah dapat langsung tersalurkan tanpa perantara.

Cijo memang menawarkan kebebasan untuk menulis dan berbagi informasi kepada khalayak luas. Mulai dari bahasa, sampai arah tulisan menjadi kebebasan si penulis. Tetapi tetap saja, tulisan yang dihasilkan harus menaati etika dan nilai kebenaran agar bisa dipertanggungjawabkan.

CiJo tak hanya berkembang di dunia maya, hal ini diungkapkan oleh Amhad Tsar Blenzinsky lewat tulisannya yang dimuat di kompasiana.com. Tulisan yang berjudul “Mencoba Memahami Citizen Journalism” mencontohkan adanya CiJo di Radio Elshinta Jakarta. Radio Elshinta memiliki program talkshow yang mengajak para pendengar untuk aktif berpartisipasi. Pendengar dapat menelepon untuk menyampaikan berita yang ada disekitarnya maupun pendapatnya.

Tetapi tetap saja yang paling populer adalah CiJo dari internet. Dengan media internet tiap penjuru bumi dapat membacanya tanpa terbentur jarak. “Saya lebih tertarik kepada internet karena lebih praktis, simple dan tidak ribet.” ujar Dinda Bagjana, mahasiswa fakultas hukum Unsoed.

Ditambah lagi menurut internetworldstats.com jumlah pengguna internet di dunia mencapat 1.574.313.184 pada tahun 2008. Sedangkan untuk indonesia mencapai 25.000.000 naik dari tahun 2000 yang hanya 2.000.000 dan menduduki posisi ke lima di asia setelah Cina, Jepang, India dan Korea selatan. Dengan jumlah yang seperti itu menjadi pesona sendiri bagi orang untuk saling bertukar dan menambah informasi lewat internet.

Sekarang memang banyak yang mencari informasi lewat internet salah satunya adalah Sukma Nurwibawa mahasiswa jurusan akutansi FE Unsoed. “Saya sering ngenet untuk mencari bahan buat tugas yang tidak ada di perpustakaan atau untuk menambah informasi”.

Informasi menarik yang beredar di internet menjadi sebuah magnet yang menarik orang untuk membaca. Seperti yang diutarakan oleh Santi Indara Astuti dalam tulisannya “Citizen Journalism Sebuah Fenomena”, menyatakan bahwa CiJo terkadang mengangkat isu-isu kecil yang menarik tapi tidak diangkat oleh media umum. Hal seperti itulah yang menjadi daya tarik dari Cijo kini.

Tengok saja kaskus.us yang booming di kalangan pecandu internet. Kaskus menyediakan informasi unik dan luput dari media massa. “Saya sering buka kaskus.us bila ngenet karena informasi yang disajikan unik dan menarik gan” ujar Iyan Deriyana mahasiswa jurusan administrasi negara 2007 Fisip Unsoed.

CiJo memang memberikan sebuah perubahan baru bagi kebebasan berpendapat dalam bentuk tulisan. Seperti yang diutarakan oleh Wimar Witoelar  dalam seminar bertema “Citizen Journalism, The Real Future of News and Information?” di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. “Saat ini adalah era demokratisasi total karena banyak sumber berita baru yang datang dari citizen journalism”, ujar mantan juru bicara presiden Indonesia ini.

Tidak ada salahnya CiJo di internet ini dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh kita. Seperti yang diungkapkan Wildanshah, seorang mahasiswa yang gemar berbagi lewat tulisannya di facebook. “Di internet kita dapat bertukar pikiran, tempat untuk kreatifitas. Disayangkan jika internet apalagi Facebook di manfaatkan untuk berlebay ria padahal banyak fenomena yang ada di sekitar kita”.

Internet jangan hanya untuk hiburan semata tapi juga untuk tempat berbagi. Misalnya tempat untuk mendiskusikan bahan kuliah, menyalurkan pendapat, dan mencari perspektif baru. Media sudah ada, tinggal kita meluangkan sedikit waktu untuk berbagi lewat tulisan. Saatnya kita membagi, bukan hanya dibagi!
Konservatisme

Konservatisme

Konservatisme
Oleh: Aulia El hakim

 
Berangkat dari jauh, from Wall Street Journal. Jurnal ini membahasakan dengan lugas sekalipun tidak mendefinisikan, konservatisme “nyaris tidak lebih dari keyakinan naluriah bahwa masyarakat yang ada sekarang mulai dibangun ribuan tahun silam, yang dalam tahun-tahun itu umat manusia menemukan hal-hal yang kini harus mereka pertahankan” dan oleh C. Wright Mills dianggap sebagai perilaku defensif untuk mempertahankan status quo. Dan penulis akan mendudukan posisi kita dalam kelompok konservatif yang memiliki potensi besar timbulnya pembodohan masal, ditengah pembicaraan tentang pencerahan dikampus.

Mari kita membayangkan Lenin hidup kembali, sedangkan kita merupakan pemuja yang membangkitkan sebuah doxa “Mencaci Liberalisme” ditengah-tengah ranah kampus. Flashback ke abad 19 dan awal abad 20an, Amerika utara yang berpusat di Amerika serikat membuat sebuah liberalisme menjadi sekedar teknis, simbol, dogma, serta slogan-slogan untuk membangin integrasi. Adapun di Uni Soviet Marxisme berjalan serupa, sekaligus bersifat ‘ideologi identitas’ untuk mengcounter kekuatan Adidaya lawannya. Dalam blok soviet, unsur-unsur marxisme merupakan bahan baku utama bagi paham resmi yang tidak lepas dari interpretasi resmi, dan panduan resmi bagi semua budaya dan politik serta jalan hidup bagi warganya.

Membayangkan kampus dengan berpikir memperjuangkan rakyat miskin atau menjadi Marxis (C. Wright Mills menyebut Marx terjual sebab memperjuangkan ‘Miskin’) maka baik, dan berbicara liberalisme disebut berbahaya. Sedemikian rupa liberalisme hari ini menjadi caci maki, tapi pernahkah kita sejenak bersikap inklusif selayaknya intelektual pencari kebenaran sebagaimana Plato.

Luangkan cukup waktu, mempelajari liberalisme diluar cara pandang marxis. Semisal dengan mendalami Max Weber atau menelaah jauh apa yang dikatan Liberalisme menurut Isai’ah Berlin sebagai nalar negative = ‘cara pandang terdekat dengan sifat manusia’ sangat humanis. Pernahkah kita inklusif sebelum menghujatnya? Jika tidak Lenin lah kita, menutup paradigma lain, kaum liyan yang tak pernah berusaha kita pahami.

Memahami sebuah objek dari sudut lain, sebelum akhirnya menjatuhkan justifikasi ke Bumi. Memikul sebuah ilmu dan menunda penghakiman dini -sebagaimana Ayu Utami ceritakan melalui Bilangan Fu- adalah kearifan, daripada menjadi sama saja dengan para fanatisme.

Atau seperti yang sudah di ingatkan oleh Qishar Mahbubani dalam bukunya “Can Asia Think?” memunculkan sebuah kongklusi bahwa bangsa Asia sangat terobsesi pada kerukunan dan stabilitas, sehingga tidak terbuka pada saling mengkritik dan membunuh (mendekonstruksi) dirinya sendiri dan orang lain. Dengan kata lain bangsa kita memiliki kecenderungan membangun kestabilan laiknya Lenin, Amerika serikat, Hitler namun dalam bentuk yang halus. Sampai pada suatu hari Tan Malaka pun menekankan adanya Logika –dalam MADILOG- sebagai tantangan di Indonesai agar bangsa ini mulai cerdas.

Sayangnya habitus konservatisme sudah menjiwa, merasuk kedalam sanubari diri sehingga secara wajar tanpa sengaja kita telah menjalani, sekalipun secara verbal menolak sifat ini. Tetap saja doxa pencacian terhadap Liberalisme tertransformasikan secara cepat pada tiap generasi tanpa banyak yang memahami.

Dan tulisan ini bukan untuk membela Liberalisme sekalipun penulis pernah bergelut panjang dan sempat membangun kerjasama diseminasi wacana liberalism dikampus. Penulis hanya resah jika lembaga pendidikan ini menjadi ajang justifikasi paradigma tanpa penggalian lebih dan malu pada diri sendiri karena hidup bersama teman-teman yang memperjuangkan pendidikan, namun justru sedang membangun fondasi pembodohan masal.

(Aulia El Hakim)

Usaha Kecil dan Menengah ; Pilihan Kemandirian Bagi Banyumas



Oleh : Ade Yulia dan Wiwit Putra
 
Ratusan pegiat UKM meramaikan perekonomian Banyumas. Namun hanya segelintir yang punya kekuatan dan menghasilkan omset menggiurkan. Sisanya jalan di tempat dengan nafas tercekat di kerongkongan, bahkan ada yang menunggu gulung tikar



Siang itu matahari terlihat kaku dengan sesekali sembunyi di balik awan mendung musim penghujan. Kadang tanpa enggan, hujan tanggung pun turun sekedar membasahi jalan-jalan kampung yang tenang. Musim seperti ini memang menjadi pekerjaan tambahan bagi Toyo, salah seorang pekerja pembuat Mie Raket yang jika sudah masak sering disebut mireng, “Mie Goreng,” katanya. Bukan hanya nama-nama instansi yang biasa diakronim, makanan dari aci ini pun ikut-ikutan disingkat.

Usaha pembuatan mireng milik Hj. Kamsiah ini baru berdiri awal September lalu. Laba sebesar 560.000 rupiah per minggu, harus dengan pintar di-manage agar terus berputar dan dikurangi gaji bagi lima orang pekerjanya.
Tak jauh dari usaha mireng di desa Kedung Ringin, Jatilawang ini, berdiri pula usaha pembuatan kerupuk soto milik Tarsudi. Usaha yang telah digeluti selama hampir 30 tahun ini, menghasilkan laba 600.000 rupiah. Bukan laba bersih tentunya, karena dengan laba tersebut ke-delapan pekerjanya harus digaji.

Kuantitas dan Kualitas
Ini hanya sepenggal cerita dari Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Banyumas, yang masih harus mengatur napas agar bisa bertahan. Masalah demi masalah terus menjangkiti mereka. Berkali-kali membuat tersengal, sesak napas, bahkan gulung tikar. Salah satunya adalah permasalahan Sumber Daya Manusia (SDM) baik dari segi kuantitas maupun kualitas.
Segi kuantitas sendiri terkait dengan jumlah orang yang mau bekerja dan tetap tinggal di daerah. Namun, kenyataan berbicara lain. Sulitnya mencari orang yang mau bekerja di daerah menjadi salah satu kendala utama. Realita kebanyakan  orang lebih suka bekerja di luar daerah, menjadi lazim. Kota besar seperti Jakarta lah tujuannnya. Menganggap kota besar memiliki gudang uang yang siap dibagikan kepada siapa saja yang mau pergi ke sana.
            Kendala inilah yang dialami oleh para pemilik usaha mireng dan kerupuk soto. Di tahun 90-an, mireng dan kerupuk soto masih menjadi pilihan usaha favorit warga desa Kedung Ringin, Jatilawang, Banyumas ini. Seiring berjalannya waktu, warga desa lebih memilih hengkang ke kota besar, dibanding menggeluti usaha di desanya sendiri. Seperti yang diungkap Toyo bahwa dulu mayoritas penduduk desa memiliki usaha kecil seperti mireng dan kerupuk soto. Ia pun mengakui, dirinya dulu juga mempunyai usaha yang sama, tapi akhirnya harus gulung tikar dan bekerja pada orang lain, memproduksi mireng milik Kamsiah. Bapak ini juga menambahkan bahwa di daerahnya tidak banyak usaha mireng yang bisa bertahan.  Hanya tersisa sekitar sepuluh usaha kecil seperti itu sekarang.
            Kesulitan untuk mendapatkan warga desa yang mau bekerja inilah yang dirasakan Kamsiah dan Tarsudi. Padahal Kamsiah, pemilik usaha mireng mengaku, bahwa usahanya hanya sekedar menciptakan lahan pekerjaan bagi warga desa, tapi toh hanya sedikit yang mau ikut bekerja.
            Tak jauh berbeda, usaha kerupuk soto pun sepi peminat. Banyaknya warga yang enggan menekuni usaha di desanya sendiri, membuat Tarsudi, sang pemilik lebih memilih untuk merangkul sanak keluarganya. Entah kenapa, usaha di desa tampak seperti pilihan terakhir warga desa. Sayang, jika kondisi ini terus berlanjut. Desa sebagai sentra usaha bisa jadi hanya tinggal angan-angan.
            Tak hanya soal jumlah tenaga kerja, dari segi kualitas SDM yang ada pun sangat minim. Seperti yang dialami oleh Umar, pemilik usaha tongkol dan bandeng presto Desa Adisara, Jatilawang.  Selama 18 tahun usahanya  berdiri tidak pernah mendapat pelatihan, baik dari pihak swasta maupun pemerintah.
            “Dulu sempat ada pelatihan, malah ada mahasiswanya juga. Tapi yang dilatih cuma bos-bos bandengnya tok,” sesal perempuan yang biasanya dipanggil Bu Umar. Keterampilan Bu Umar soal pengolahan ikan memang cukup mumpuni. Namun kurang dalam hal pengelolaan dan pemasaran produk. Padahal dalam usaha, kemampuan yang dibutuhkan bukan hanya soal produksi. Manajemen dan pemasaran produk menjadi wajib untuk dikuasainya.
            Inilah yang seringkali membuat usaha Bu Umar kalah dengan para bos. Si bos yang telah mendapat pelatihan, lebih cakap dalam me-manage usahanya. Maka tak heran, akhirnya Bu Umar mencoba bertahan dengan mencuri ilmu dari tetangganya mulai dari manajemen pengelolaan hingga pemasarannya. Ya, mencuri ilmu tak jadi soal. Apa boleh buat, pelatihan memang tak kunjung tiba.
Perhatian dari pemerintah daerah memang masih sangat minim. Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Kab. Banyumas yang berwenang dalam pengembangan UKM, juga belum terdengar gaungnya. Salah satu staf Kasi Pengembangan UKM yang enggan disebutkan namanya, menerangkan bahwa pelatihan sudah seringkali dilakukan. “Tapi bukan untuk pelaku usaha, tapi masyarakat luas agar mau mendirikan usaha,” jelasnya.
Apa yang dilakukan oleh Disperindagkop, justru terdengar aneh. Pelatihan ditujukan kepada masyarakat agar mau mendirikan usaha, namun setelah usaha itu berdiri, malah dicuekin. Tak ada kontinuitas, praktek pun mandek. Bahayanya ketika rintisan usaha baru jadi mentah dan usaha yang sudah berdiri hanya jalan di tempat.
Tampak dari usaha Bu Umar, walaupun sudah bertahan hingga 18 tahun, hanya menghasilkan laba kotor 2.250.000 rupiah per bulan. “Yang penting selama ini bisa buat menyekolahkan anak,” ujar perempuan berambut ikal ini. Sayang bukan, jika usaha yang digeluti belasan tahun hanya menjadi sandaran hidup dan tidak punya prospek ke depan?
Pegiat UKM lain bernama Eni Andayani mencoba menanggapi persoalan yang banyak dialami oleh UKM. “Harusnya kita (UKM) dikasih pelatihan bagaimana menjalankan usaha bisnis yang inovatif,” papar pemilik usaha mendoan dan tempe kripik Sawangan No. 1. Manajemen dan inovasi bisnis pun menjadi barang langka. Para pegiat UKM terpaksa harus mencari sendiri. Karena jika hanya menunggu pemerintah, entah sampai kapan usaha itu akan tetap jalan di tempat.

Modal, Dimana Engkau Berada?
            Tidak hanya soal SDM yang jadi kendala, permasalahan modal pun sering membuat UKM ngos-ngosan. Modal yang tidak besar, membuat untung pun tidak besar.  Inilah yang dialami oleh Kamsiah, Tarsudi, dan Umar. Mereka harus berhutang untuk menambal biaya produksi. Bisa pinjam sana-sini, mulai dari tetangga kaya sampai pinjam pada saudara.
            Lihat saja Tarsudi si pemilik usaha kerupuk soto. “Saya ya, modalnya pinjem,” cerita lelaki bertubuh kekar ini. Modal yang dimiliki Tarsudi memang kurang memadai. Ini berakibat pada keuntungan yang nanti diperoleh. Apalagi produksinya pun membutuhkan waktu yang lumayan lama.
            Satu kali produksi hingga proses pemasaran, kerupuk soto membutuhkan waktu seminggu. Untuk satu kali produksi, menghasilkan laba sebesar 150.000 rupiah. Berarti dalam sebulan, ada 600.000 rupiah, yang akan digunakan untuk kembali membeli bahan baku dan membayar pekerja.
            Padahal usaha ini sudah berjalan selama kurang lebih 30 tahun, namun omset yang dihasilkan masih saja pas-pasan. “Sing (yang-red) penting telaten lah,” katanya dengan logat Banyumas yang kental. Ketelatenan inilah yang membuat Tarsudi bertahan. Padahal keuntungan yang diperoleh hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Oleh karenanya, Tarsudi harus bekerja sekaligus sebagai petani. Karena bekal ketelatenan saja tidaklah cukup. Lagi-lagi, selain terbentur masalah SDM, UKM harus terbentur masalah modal yang membuat prospek usahanya menjadi tak jelas.
Disisi lain, pemerintah telah menyediakan modal lewat Disperindagkop. Bahkan awalnya modal dipinjamkan tanpa bunga. Namun kini muncul bunga sebesar 0,5 %. Dari keterangan Bagian Pengembangan UKM Disperindagkop, modal tanpa bunga malah membuat peminjam malas untuk melunasi. Bunga pun dimunculkan untuk merangsang peminjam agar mau membayar tepat waktu.
Sayang, minimnya jumlah modal yang disediakan dan prosesnya yang cukup rumit membuat beberapa pemilik UKM enggan mengakses dana tersebut. “Kalau saya mending pinjam ke bank, nggak repot!” celetuk Daryanti, pemilik usaha Jenang Jaket Mersi. Tidak terkecuali Eni Andayani, Kamsiah, Tarsudi, dan Umar pun enggan dan berpandangan hampir serupa.
Permodalan dan pelatihan SDM, diakui oleh staf Pengembangan UKM Disperindagkop, sebagai tugas pokok mereka. Sialnya, tugas pokok yang mereka emban malah serba minim.
Bahkan bagi Eni Andayani, pemilik usaha Sawangan No. 1, Disperindagkop menganakemaskan beberapa UKM saja. “Yang diperhatikan yang bisa melobi saja. Dinas industri ngapain aja sih? Yang diperhatikan cuma orang-orang itu saja,” protes perempuan yang mengenakan jilbab ini, dengan nada kecewa. “Kalau pemerintah tidak peduli, usaha-usaha mikro bisa gulung tikar,” kritik Ibu tujuh anak ini.

Adu Saing
Imbas modal yang tidak memadai, tidak berhenti di situ saja. Seperti yang dialami Bu Umar, dengan keterbatasan modal, akhirnya ia memilih untuk berhutang kepada tengkulak atau yang biasa dipanggil ‘bos’. “Nanti kalau udah untung, baru bayar utang ke bos,” ujarnya.
            Dengan keterbatasan modal ini, akhirnya mengarah pada sebuah persaingan. Baik persaingan dengan sesama pelaku usaha, tengkulak, maupun dengan pelaku usaha lain yang bermodal lebih besar. Persaingan yang cukup menghimpit dialami oleh pemilik usaha tongkol dan bandeng dengan para tengkulak di Desa Adisara, Jatilawang.
Sistem usaha tongkol dan bandeng di Desa Adisara dapat menjadi contoh persaingan tidak sehat dengan para tengkulak. Di desa tersebut, ada si bos sebagai agen-agen yang menyetok ikan kepada warga yang memproduksinya. Stok ikan yang diberikan, boleh dibayar belakangan. Tercatat ada empat agen penyetok ikan di desa ini. Si bos pun menjatah, minimal 10kg ikan yang dibagi ke pengecer.
            Kecuali bandeng, yang memproduksi ikan ini sampai pada pemasaran adalah para pengecer. Para bos sepertinya malas untuk mempresto bandeng, karena mempresto membutuhkan waktu yang lumayan lama. Tidak ada permasalahan memang, malah pengecer merasa lebih untung dengan memproduksi bandeng presto karena para bos tidak memproduksi dan menjualnya juga. Justru persaingan ada pada produksi tongkol. Selain menyetok ikan tongkol, si bos juga ikut memproduksinya sampai pada pemasaran.
            Persaingan terjadi di pasar ketika harga jual ditawarkan secara berbeda. Harga agen lebih murah dari pengecer di pasar. Jelas menurut teori ekonomi, harga lebih murah karena biaya produksinya sedikit. Para pengecer seperti Bu Umar mendapatkan biaya produksi tambahan ketika membeli ikan dari agen yang harganya sudah diambil untung oleh si bos. Kasus-kasus seperti inilah yang harusnya mendapat perhatian lebih dari pemerintah.
            Tidak hanya persaingan dengan tengkulak, persaingan dengan pelaku usaha lain yang bermodal besar, perlu mendapat perlindungan dari pemerintah. Padahal pada pengertian UKM dalam Keputusan Presiden RI No.99 tahun 1998, jelas disebutkan, UKM yaitu “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan ladang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.” Namun pertanyaannya kini adalah, sudahkah UKM terlindungi?


Potensi Besar
Daryanti, Eni Andayani, Kamsiah, Tarsudi, dan Umar hanyalah sebagian kecil dari pegiat UKM di Banyumas. Banyumas ternyata memiliki 578.564 unit Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Jumlahnya begitu banyak dan beragam sektornya. Ini jelas menjadi potensi yang seharusnya bisa dimaksimalkan baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Bayangkan saja, jika satu unit usaha bisa memperkerjakan minimal 20 orang, maka akan menyerap sebanyak 11.571.280 orang tenaga kerja. Itu saja jika usahanya masih bertaraf kecil dengan jumlah tenaga kerja antara 5 – 20 orang. Padahal penduduk Banyumas saja hanya kurang lebih 1 juta. Dengan kebutuhan tenaga kerja yang besar, bisa dipastikan penduduk Banyumas tak perlu merantau ke kota besar ataupun negeri orang. Bahkan para pencari kerja dari luarlah yang berduyun-duyun mendatangi Banyumas. Fantastis bukan?
Apalagi jika omset yang dihasilkan bisa mencapai puluhan atau ratusan juta, seperti yang dihasilkan oleh Sawangan No.1 dan Jenang Jaket Mersi. Sawangan No.1, setiap bulannya memproduksi sekitar 30.000 lembar kripik tempe, dengan harga 1000 rupiah per lembar. Jika dikalikan, akan menghasilkan omset sebanyak 30 juta rupiah. Ini hanya omset penjualan kripik tempe, padahal usaha ini juga memproduksi berbagai macam makanan.
Lain lagi dengan Jenang Jaket Mersi. “Omset kotornya bisa mencapai 100 juta per bulan,” ungkap Daryanti, yang memiliki 35 orang pekerja. Sebenarnya tidak hanya dua usaha di atas yang bisa menghasilkan omset besar. UKM lain pun bisa asalkan pengelolaan dan manajemennya dilaksanakan secara maksimal, serta mendapat perhatian penuh dari pemerintah. Bahkan dengan pengembangan UKM yang serius, bisa menjadi solusi masalah pengangguran dan kemiskinan di Banyumas.
Selain memberikan permodalan dan pelatihan, pemerintah juga seharusnya gencar melancarkan promosi produk-produk yang dihasilkan oleh UKM. Karena selama ini, produk tersebut masih berkutat di pasar lokal. Seperti mireng, kerupuk soto, tongkol, dan bandeng presto hanya di pasarkan ke pasar tradisional dan daerah-daerah eks-karesidenan Banyumas.
“Untuk jenang jaket, sempat di pasarkan ke luar kota, tapi sekarang sudah berhenti,” papar Daryanti, Ibu lima anak ini. Padahal jenang jaket, mendoan, dan tempe kripik adalah makanan khas Banyumas. Jika promosi dan pemasaran digencarkan, bukan tak mungkin akan menembus pasar nasional maupun internasional.
Seperti yang diceritakan oleh pemilik Sawangan No. 1, “Makanan Indonesia sebenarnya bisa go international. Saya sedang mencoba agar produk saya menembus pasar internasional, lewat sahabat saya di Malaysia,” tutur perempuan alumnus Manajemen UNSOED ini dengan penuh semangat. Baginya menunggu gerakan pemerintah akan terlalu lama, sehingga dengan mandiri, Eni Andayani mencoba merintis itu semua. Soal kualitas produk, jelas bisa bersaing. Pasalnya Jenang Jaket Mersi dan Sawangan No.1 terus mengutamakan mutu dengan tidak memakai bahan pengawet dan selalu berinovasi terhadap produk-produknya.
Hati pemerintah mungkin belum tergugah dengan begitu besarnya potensi UKM. Namun belum terlambat untuk terbangun dari tidur panjang. Karena bukan tak mungkin, UKM bisa menyerap pengangguran yang merajalela dan menciptakan kemandirian ekonomi bagi masyarakat. Bahkan jika dikelola secara maksimal, Banyumas dapat dikenal sebagai sentra produk UKM tertentu. Dan bukan sesuatu yang mustahil pula, jika akhirnya produk UKM Banyumas sebagai ciri khas yang mampu menembus pasar nasional maupun internasional. (Ade, Anis, Chang, Wiwit)