Comments

  • Headline News

    Monday, April 3, 2017

    Kado untuk Anak Emas Universitas

    Laporan Utama

    Oleh: Asep Saripudin dan Ivana Aristantia

    Akhir tahun, beberapa pembangunan telah selesai. Gedung berdiri sebatas syarat akreditasi, tak sesuai kebutuhan, selebihnya hanya perbaikan kerusakan atap yang reyot. Beberapa fakultas teranggurkan, masih menunggu janji realisasi.

    Hajat proyek gedung di Unsoed telah usai di akhir tahun 2016. Sebutlah Fakultas Biologi, FISIP, Fakultas Teknik, dan RSGMP. Fakultas dan lembaga yang ada di Unsoed berlomba-lomba mengajukan proyek gedung guna meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun, dari sekian pengajuan, hanya ada beberapa fakultas dan lembaga saja yang sampai pada tahap pembangunan. Beberapa fakultas yang mengajukan untuk ruang kelas, ruang laboratorium, bahkan gedung dekanat, pengajuannya mandek tak sampai terlaksana.

    Pembangunan gedung lantas tak langsung menyelesaikan persoalan mahasiswa selama ini. Contohnya gedung baru Fakultas Biologi yang rencana akan dibangun menjadi aula serbaguna. Aula ini dibutuhkan agar tak mengganggu jadwal kegiatan belajar mengajar yang acap kali menggunakan ruang kelas. Saya juga males kalo ada wisudaan suka pakai ruang kelas, udah tau jadwal biologi padet, bingung kalo mau ganti kelas tuh dimana,” kata Khures, Biologi 2014.

    Namun, pembangunan gedung senilai Rp 2,26 miliar ini yang dikira menjadi aula, nyatanya tak sesuai keinginan. Pasalnya, gedung tersebut justru menjadi ruang kelas mahasiswa S3. “Saya ketemu WD 3 katanya mau dibikin gedung serbaguna, saya juga baru tahu ternyata mau dibangun kelas untuk S3,” kata Yogyian, (cahunsoed.com, 10/16).

    Ketika Tim Suluh mengonfirmasi ke pihak dekanat, Dekan Biologi Yulia Sistina justru menjawab singkat. “Gedung itu buat macam-macam,” katanya. Sementara itu Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan Fakultas Biologi Husein Sastranegara, mengatakan sejak awal gedung tersebut untuk menunjang mahasiswa S3 yang bangunannya belum memenuhi standar. Di satu sisi, Husein juga menjanjikan gedung yang perencanaanya sejak empat tahun lalu itu tetap dapat digunakan oleh semua mahasiswa Biologi. “Iya itu untuk memenuhi standar kuliah S3 kalo mahasiswa S1 dan S2 mau pake ya gapapa,” kata Husein saat dikonfirmasi pada Selasa (18/10) lalu.

    Bukan hanya Fakultas Biologi yang memenangkan proyek gedung. Ada pula rehabilitasi atap gedung Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang menghabiskan dana sebesar Rp748 juta. Rencana renovasi sudah diajukan lama. Namun menurut Wakil Dekan II Bidang Umum dan Keuangan FISIP Muslih Faozanudin, baru terealisasi ketika wakil rektor dan rektor mengunjungi FISIP dan melihat atap gedung yang reyot. “Atapnya sudah hampir roboh, makanya kita mengajukan untuk segera diperbaiki,” kata Muslih saat dikonfirmasi pada (20/10) lalu.

    Proyek gedung yang telah dikerjakan tahun lalu, tak membuat fakultas lainnya ikut merasakan pembangunan. Masih minimnya fasilitas yang ada di Fakultas MIPA adalah salah satu contohnya. Dua ruangkelas yang dimiliki Fakultas MIPA membuktikan betapa minimnya fasilitas di fakultas tersebut. Akibatnya Laboratorium Terpadu yang dipakai tiga fakultas (Fakultas Biologi, Fakultas Pertanian, Fakultas MIPA ) harus dijadikan kelas guna menanggulangi kurangnya ruang kelas.

    Laboratorium Terpadu nyatanya ruangannya tak lebih baik. Ruangannya sempit, tanpa pendingin ruangan, membuat kegiatan belajar mengajar tidak kondusif. “Belajar di Lab Terpadu itu ngga kondusif, ruangannya panas banget, apalagi kapasitasnya kurang,” ujar Ibnu Ginanjar Matematika, 2013.

    Keluhan mengenai ruangan yang dipindahkan ke Lab Terpadu juga datang dari Dosen Matematika Sri Maryani, “Jadi kondisi di Lab Terpadu sendiri sangat panas tidak ada AC-nya, kita juga harus membawa proyektor ke sana,” katanya (cahunsoed.com, 11/16).

    Kekurangan fasilitas juga di alami oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK). Kurangnya laboratorium di FPIK mengharuskan mahasiswa praktikum dengan menumpang ke fakultas lain. Hal tersebut pun dikeluhkan oleh salah satu pengurus HIMAKUA, Rizky Nur Baity jurusan Budi Daya Perairan. “Praktikum masih sering menumpang di laboratorium Fakultas MIPA dan Fakultas Biologi. Sehingga sering juga harus mengantri saat praktik,” katanya, (cahunsoed.com, 11/16).

    Selain mahasiswa, dosen pun mengeluhkan hal yang sama. Salah satunya seperti yang diungkapkan Dosen Manajemen Sumber daya Perairan Junnedi. Menurutnya laboratorium merupakan fasilitas penunjang yang paling penting dalam proses belajar mengajar khususnya di kampus eksakta. Namun ia menyayangkan, selama ini laboratorium di FPIK hanya bersifat umum serta fasilitasnya kurang. “Dosen-dosen eksakta lebih membutuhkan laboratorium Karena lebih banyak praktik,” tuturnya, (cahunsoed.com, 11/16).

    Jika Fakultas MIPA masih kekurangan ruang kelas, FPIK masih kekurangan laboratorium, maka hal tersebut tidak jauh berbeda dengan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (Fikes). Bahkan Fikes masih sangat membutuhkan banyak pembangunan dan pengadaan fasilitas yang memenuhi standar belajar mengajar, baik pembangunan ruang kelas maupun fasilitas penunjang praktikum di laboratorium.

    Padahal, menurut bagian perencanaan, semua fakultas yang mengajukan perencanaan pembangunan sudah di setujui dan anggaran pun telah diberikan. Beberapa fakultas seperti Fakultas MIPA, Fikes, FPIK, dan FIB terlibat dalam pengajuan perencanaan pembangunan. Namun, beberapa pengajuan perencanaan pembangunan tersebut terhenti di pihak ketiga, yakni pada tahap pelelangan.

    Saat ditemui di ruangannya, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama & Humas Unsoed, Sigit Wibowo, mengaku heran perihal fakultas lama yang disetujui pengajuan perencanaan pembangunannya, “Kita mengajukan semuanya tapi saya juga heran yang dapet kok kebetulan fakultas lama semua,”katanya.

    Selain itu, dia juga menambahkan bahwa pembangunan di Unsoed didasarkan atas skala prioritas kebutuhan. Namun, mengenai batalnya pembangunan untuk Fikes, FPIK, FMIPA, dan FIB merupakan kegagalan dari pihak luar dan Unsoed tidak bias berbuat banyak. Kita ngga bisa ngapa-ngapain meskipun kita tahu ruang kelas dan lab itu memang prioritas, paling tahun depan diajukan lagi,” kata Sigit.

    Tiga tahun sejak fakultas baru disahkan, belum ada sentuhan pembangunan. Jika Unsoed belum siap membuka fakultas baru, jangan korbankan mahasiswa dan dosen untuk mendiaminya. Apalagi jika pembangunan untuk menunjang kegiatan akademik, rupanya masih jauh dari kata nyaman. Bisa jadi gedung-gedung yang dibangun hanya sebagai hiasan tanpa mempertimbangkan kebutuhan. *
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Kado untuk Anak Emas Universitas Rating: 5 Reviewed By: LPM Solidaritas
    Scroll to Top