Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bukan Sekadar Tren, Orang Utan Layak Didengar



Cahunsodcom/Nurfadila Alya Kirani


Mereka sama hal nya dengan kita, ingin disayangi, ingin dikasihi, dan ingin hidup dengan tenang di tanah yang mereka kenal sebagai rumah. Hanya saja, mereka tidak memiliki suara untuk meminta, apalagi menuntut, sekedar merintih bila rumahnya hangus pun tidak cukup untuk membuat manusia berhenti egois. Maka sebuah apresiasi sudah semestinya diberikan kepada segelintir manusia yang masih bersedia menoleh dan mendengarkan suara-suara mereka, memastikan seluruhnya layak untuk hidup.

Media sosial begitu mudah membuat sesuatu ramai lalu dilupakan, saat ini muncul tren yang membawa seseorang mengenal orang utan lebih dekat. Melalui adopsi virtual orang utan, masyarakat dapat mengenal lebih orang utan, mengetahui kisah, mengikuti perkembangan, sekaligus turut memberikan dukungan bagi upaya konservasi. Mereka memang tidak benar-benar membawa pulang seekor orang utan, tetapi setidaknya ada satu hal yang dibawa pulang, kesadaran bahwa ada kehidupan lain yang selama ini berjalan berdampingan dengan manusia.

Tren ini mungkin berawal dari rasa penasaran, rasa gemas, atau sekadar keinginan untuk ikut serta dalam sesuatu yang sedang ramai. Tidak ada yang salah dengan itu, kepedulian tidak selalu lahir dari pengetahuan yang panjang. Kadang ia dimulai dari sesuatu yang sederhana, dari satu wajah yang kita lihat di layar, satu cerita yang kita baca, kemudian perlahan membuat kita bertanya tentang “apa yang sebenarnya sedang mereka hadapi”. Ketika sebuah tren mampu membawa manusia dari sekadar melihat menjadi ingin mengetahui, lalu menjadi peduli, di sinilah tren tersebut menemukan maknanya.

Selama ini, orang utan sering kali hanya hadir sebagai nama dalam pembicaraan mengenai satwa yang terancam punah. Kita tahu mereka membutuhkan hutan, tetapi mungkin tidak benar-benar membayangkan bagaimana rasanya ketika hutan itu tidak lagi ada.

Hutan yang mestinya menjadi tempat mereka hidup masih saja ditebang dan dibakar demi memuaskan nafsu segelintir manusia. Mereka kehilangan tempat mencari makan, kehilangan ruang gerak, dan kehilangan tanah yang selama ini mereka kenal sebagai rumah. Ada sesuatu yang menyakitkan dari kenyataan bahwa manusia dapat menjadi alasan seekor makhluk hidup kehilangan tempat tinggal, lalu pada waktu yang sama menjadi pihak yang merasa perlu menyelamatkan. Kita merusak, kemudian berusaha memperbaiki. Kita mengambil, kemudian belajar mengembalikan. Seolah-olah kerusakan selalu datang lebih dahulu dan kepedulian baru menyusul setelah semuanya terjadi. Mereka tidak dapat bertanya ketika makanan tidak datang. Tidak dapat menuntut ketika haknya diabaikan. Bahkan suara mereka sendiri tidak selalu kita pahami. Mungkin karena itulah, manusia seharusnya menjadi pihak yang paling berhati-hati ketika memegang tanggung jawab atas kehidupan mereka.

 

Maka, adopsi virtual seharusnya tidak berhenti sebagai sebuah tren yang ramai untuk beberapa waktu. Ia layak diapresiasi karena mampu menjadi pintu kecil menuju kepedulian yang lebih besar. Lewat satu orang utan yang dikenal melalui layar, memungkinkan munculnya kepedulian terhadap habitat, kesejahteraan satwa, hingga persoalan manusia yang selama ini berdiri di balik hilangnya ruang hidup mereka. Tidak perlu menganggap remeh kepedulian hanya karena ia bermula dari sebuah tren karena yang perlu dipertanyakan justru apa yang dilakukan setelah tren itu selesai. Apakah orang utan kembali menjadi sekadar gambar yang pernah lewat di linimasa, atau cerita mereka tetap tinggal dan membuat kita sedikit lebih berhati-hati dalam melihat hubungan manusia dengan alam?

Sebab pada akhirnya, mereka tidak membutuhkan kita untuk merasa kasihan sepanjang waktu. Mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk hidup dengan tenang di tempat yang mereka kenal sebagai rumah. Jika hari ini manusia memilih untuk menoleh, mendengarkan, dan ikut menjaga, maka biarlah tren itu menjadi awal dari sesuatu yang lebih panjang.

Karena ada kehidupan yang tidak pernah mampu meminta untuk diselamatkan. 


Penulis: Elsa Nia Mar’atun Khusna

Editor: Salwa Nurlatifah


 

Posting Komentar untuk "Bukan Sekadar Tren, Orang Utan Layak Didengar"