Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menilik Pram dalam Sinema, Ironi Kemerdekaan dalam Khianat Film Perburuan

 


Cahunsoedcom/Khansa Ainiya

Judul Film : Perburuan

Sutradara         : Richard Oh

Penulis Skenario : Richard Oh dan Husein M. Atmojo

Aktor Utama : Hardo oleh Adipati Dolken; Ningsih oleh Ayushita

Tahun Rilis : 2019

Genre : Drama Sejarah 


Perburuan, baik dalam tulisan maupun manifestasi visualnya seumpama menghantarkan kita kembali pada ingatan akan sejarah yang tergambar kelam. Dalam karya asli berbentuk tulisan, Pramoedya Ananta Toer menjadikan Bukit Duri bak saksi bisu dalam menuang ironi, yakni mengenai pelarian dan kemerdekaan yang justru dirangkai tatkala dirinya menjadi tahanan— secara fisik ia tidak merdeka. Karya itu kemudian dimuat ulang menjadi layar lebar oleh Richard Oh dengan judul sama, Perburuan, di mana menekankan sisi eksistensial manusia yang terpojok oleh situasi kontras dengan awali


Sinopsis Singkat perihal Pelarian di Tanah Blora

Latar waktu dalam cerita ini berjalan secara rapat, berbeda dengan film populer kemerdekaan khas televisi— semacam Soekarno yang digambarkan lewat latar berbulan bahkan bertahun-tahun. Perburuan, berfokus pada momentum masa-masa pelarian tokoh utama.


Lewat tokoh utama, Hardo, seorang komandan peleton Pembela Tanah Air (PETA), penonton diajak untuk masuk dalam kegagalannya melakukan pemberontakan terhadap tentara Jepang, sehingga mengubah statusnya menjadi buron. Keadaan membuat Hardo terpaksa pulang ke kampung halaman di Blora untuk menyamar, masuk ke dalam hutan dan bersembunyi di balik remang pohon-pohon sembari memupuk trauma.  


Sepanjang pelariannya itu, trauma Hardo muncul bukan hanya lewat kondisi diburu tentara Jepang, tetapi juga datang dari pengkhianatan orang-orang terdekatnya yang tergiur imbalan berupa materi demi stabilitas hidup dalam fasisme. 


Radikalitas Bahasa dan Tubuh Trauma Adipati

Richard Oh memperlakukan film ini selayaknya panggung teater. Sebab, dari sisi plot cerita, narasi yang dibangun lebih menekankan kepada ketegangan psikologis tokoh dibanding adegan baku tembak maupun ledakan bom. Dialektika dibangun untuk menyelami dilema moral perihal bagaimana arti kesetiaan, kemerdekaan, serta kepasrahan manusia. 


Saya yakin, penikmat sastra yang menonton film ini akan merasa dimanjakan sebab dialog-dialog yang hadir  setia dengan teks asli Pram yang sifatnya panjang, puitis, serta filosofis sehingga menjadikan kemewahan tersendiri dapat hadir dibantu bentuk visual. 


Lanskap Blora dalam latar tempat cerita ini ditampakkan secara apik. Sinematografi seperti permainan malam yang pekat, pencahayaan di ruang-ruang sempit nan temaram membantu narasi berupa dialog terasa hidup dan berjalan sesuai dengan rasa sang tokoh yang terisolasi. 


Perihal akting, Adipati Dolken yang memerankan Hardo berhasil membawa narasi buron yang kumal, kurus, ringkih ke dalam fisik Hardo. Perubahan fisik dan psikologis yang dimainkan Adipati dalam Hardo tergambar kontras lewat permainan suara dan sorot matanya yang kelu, mengubahnya bahkan bukan hanya manusia yang kalah melainkan personifikasi dari trauma perang itu sendiri. Selain Adipati, Ayushita sebagai Ningsih, tunangan Hardo, juga patut diacungi jempol sebab perannya yang berhasil menambah ruwet konflik dalam memainkan emosional tokoh utama. 


Jinaknya Teror Serdadu Jepang

Pada hemat saya, kelemahan film ini datang lewat ketidakmampuan memotret serdadu Jepang sebagai ancaman yang berdarah dingin. Pembawaan para pemeran serdadu Jepang justru terasa tanggung dan kurang meyakinkan. Secara gestur dan fisik penggambaran sosok mereka tidak menggambarkan ancaman yang terlalu signifikan meskipun perebutan kemerdekaan dari Jepang merupakan tema besar dalam film ini. Kendati demikian, ketegangan masih dapat dirasakan lewat adanya pengkhianatan orang-orang terdekat tokoh utama. Namun tetap cukup disayangkan apabila setiap tekanan yang tergambar dalam alur waktu tak berjalan dengan maksimal. 


Selain itu, meski di atas sempat saya singgung soal kemewahan bahasa, dari sisi penempatan dialog film ini terkesan cukup mengganggu. Sebab, para tokoh tidak konsisten dalam memetakan kapan mereka harus berbahasa Indonesia, Jepang, maupun berbahasa Indonesia dengan logat tertentu. 


Kesimpulan dan Rekomendasi 

Perburuan (2019) bukan sebuah film sejarah yang ditujukan untuk menghibur atau memicu adrenalin nasionalisme penonton. Film ini justru lebih berusaha mengawinkan bagaimana sastra Pramoedya dapat hidup dalam bilik sinema. Eksistensialisme manusia dihadirkan sebagai tema utama dalam film ini sebab penyorotan tokoh lebih kepada seorang tokoh pejuang yang dikuliti habis sehingga menyisakan kediriannya yang paling telanjang— paling dasar, paling dalam, serta gelap. Di mana seluruh atribut sosialnya seperti sebagai komandan, pejuang, bahkan manusia dilucuti habis oleh keadaan mempertahankan kewarasan serta martabat. 


Film ini sangat saya rekomendasikan bagi para pecinta karya Pram, penikmat film independen, atau siapa saja yang tekun pada studi adaptasi sastra ke film. Namun, bagi penonton yang datang dengan gairah mencari kecamuk perang yang banal atau melodrama mengharukan, Perburuan mungkin akan terasa sukar. Sebab, film ini menuntut beberapa syarat untuk dapat dinikmati, yakni kesabaran, kesediaan untuk mendengarkan, dan pikiran lapang untuk ikut merenungkan arti sebuah kemerdekaan yang dirajut lewat  tekanan dan khianat. 



Penulis: Kheisya Khoirunissa

Editor: Salwa Nurlatifah


Posting Komentar untuk "Menilik Pram dalam Sinema, Ironi Kemerdekaan dalam Khianat Film Perburuan"