Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rumah Huru Orde Baru


Cahunsoedcom/Khansa Ainiya

Rumah Huru Orde Baru

Oleh: Agil Muhamad Saputra


Menggeliat di tanah, anak-anak perangsang reformasi

Mengayun papan, menerjang gedung, tantrum anak negara

Hendaklah sang ayah mendengar mereka

Hendaknya tiap tinta merah terbacakan

Namanya “si Penyubur” tanah telah dilaminating

Ternyata hanya penjual anak kepada si terasing

Ayah mana yang menjual anaknya demi namanya

Ayah mana yang memakan jatah anaknya demi selirnya


Sembilan delapan menjadi pukulan keras

Anak-anak yang kau bungkam tidak lagi terdiam

Mereka turun dan mengusir ayahnya dari rumah

Tak sanggup lagi mereka menganggapnya ayah


Namun dia tak tinggal diam

Tiga belas anak mulut rakyat lenyap dimakan arus keruh

Empat anak belia tertidur tanpa mengantuk di tengah riuh

Tempat memberi aksi menjadi ajang provokasi

Bentrok anak emas dan anak cemas menjadi diversi


Pada akhirnya apalah daya dia tanpa bidaknya

Tanpa wajah, ayah mundur sebagai ayah

Reformasi penuh provokasi terealisasi

Namun, trauma reformasi kian terhilirisasi



 

Posting Komentar untuk "Rumah Huru Orde Baru"