Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Serapah Saku


Cahunsoedcom/Keysa Jihan

Tidak, tidak, tidak! 

jangan berburuk pikir padaku,

jari mengeram merogoh saku,

tapi bukan untuk merebut milikmu.

Kalau kau mau tau, 

akulah si penunggu wahyu,

kususur panggilan telepon sampai jadi layu.


Satu hari, dua hari, aku tunggu,

satu minggu, dua minggu, berlalu

satu bulan, dua bulan, ditempuh

satu tahun, dua tahun, bajingan sungguh! 


Namun ia yang berdiri amat pantas dirutuk,

kalau-kalau mau kuludahi ia dengan kutuk

sesuai dengan janji yang tak mampu ia jemput,

sembilan belas juta lapangan kerja yang terkubur,

hingga jadi bangkai di tanah yang bisu. 


Tertimbun, terderau, kacau!

Lalu ia yang berdiri menatap beku, 

menutup telinga mengguna debu,

membiarkan kami busuk menjadi abu.


Penulis: Kheisya Khoirunissa

Editor: Salwa Nurlatifah




Posting Komentar untuk "Serapah Saku"