Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Yu Mar, Saksi Hidup Perjalanan Warga FISIP Selama 36 Tahun Lewat Sepiring Pecel




Cahunsoedcom/Nurfadila Alya


Purwokerto, Cahunsoedcom - Keramaian Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) tidak hanya diwarnai oleh mahasiswa, tetapi juga para pedagang pencari nafkah di sekitarnya. Yu Mar, sosok iconic pedagang pecel yang setiap hari membuka lapak sejak pagi hingga sore di depan Musala FISIP.

Yu Mar mengaku sudah berjualan sekitar 36 tahun lalu dengan gendongan rinjing, tenggok, dan tampah. Selama puluhan tahun ia berjualan pecel, gorengan, donat, dan berbagai makanan lainnya yang menjadi favorit mahasiswa hingga dosen di FISIP. 

Pertamane sih gendong rinjing, nyangking tenggok, nyunggi tampah, jualan kacang godog, gedang rawunan,  terus sayur, arem-arem, lopis nah terusan sate [Pertama sih menggendong rinjing, menjinjing tenggok, jualan kacang dan pisang rebus, terus sayur, arem-arem, nah lalu sate], ” ujar Yu Mar saat ditemui di lokasi.

Setiap hari, aktivitas Yu Mar dimulai sejak dini hari. Menurutnya, berjualan merupakan cara produktif sekaligus sebagai penunjang kebutuhan hidup sehari-hari. 

Pagi bar subuh belanja dulu, terus racik bumbu pecel, ngrajangi sayuran, nyindiki usus, jam setengah delapan mulai goreng-goreng nganti jam sanga, jam setengah sepuluh adus terus mangkat [Pagi setelah subuh belanja dulu, terus racik bumbu pecel, merajang sayur, menusuk usus, jam setengah delapan mulai goreng-goreng sampai jam sembilan, jam setengah sepuluh mandi terus berangkat],” tuturnya.

Ya kepriwe maning mba, daripada neng ngumah nganggur ora ngapa-ngapa, mending jualan begini [Mau bagaimana lagi mba, daripada di rumah nganggur gak ngapa-ngapain, mending jualan begini],” jelasnya.

Menurut Gita, salah satu mahasiswa FISIP, mengaku sering membeli sejak semester awal saat masih berjualan di pendopo fakultas. Ia tertarik karena jualannya yang terlihat menggiurkan.

“Aku tau Yu Mar itu dari semester-semester awal. Karena beliau itu dulu suka jualan di pendopo FISIP. Jadi kayak tertarik nih, karena jualannya Yu Mar itu terlihat menggiurkan dan murah-murah ternyata. Sejak itu jadi sering langganan Yu Mar,” ujarnya.

Selain itu, salah satu hal yang membuat makanan Yu Mar digemari adalah cita rasanya yang mengajak untuk bernostalgia pada masakan rumah.

“Kalau di Yu Mar itu serasa kita makan masakan mbah, itu khas banget dan gorengan-gorengannya benar-benar ngingetin aku sama masakan nenekku. Selain itu juga kayak ada rasa khasnya, jadi kalau aku beli di tempat-tempat lain beda sekali. Pokoknya kalau beli di Yu Mar itu kayak masakan rumah sendiri gitu loh, bahkan sesederhana gorengan aja itu benar-benar kayak beda lah,” ujarnya.

Harga makanan yang terjangkau juga menjadi alasan banyak mahasiswa memilih membeli makanan di Yu Mar. 

“Misal lagi nggak ada duit nih, tapi bingung mau jajan apa, jajan ke Yu Mar. Nah, Yu Mar ini juga kadang itu sering, istilahnya ngasih gratisan. Jadi beliau memang baik sekali, kalau misalkan sudah kenal lama itu ya kadang dikasih pisang goreng, dikasih lebihan kayak gitu,” jelasnya.

Selain mahasiswa, para dosen juga menilai Yu Mar memiliki tempat tersendiri dan telah menjadi bagian dari kehidupan kampus. Dosen Ilmu Komunikasi, Ceacilia atau yang akrab disapa mbak Ceacil.

“Beberapa seniorku yang dulunya kuliah S1-nya disini pun itu jajannya sama Yu Mar, jadi memang ada historinya tersendiri begitu di kalangan dosen sama mahasiswa gitu, kadang Yu mar nya sendiri nyamperin ke dosen jadi yaudah bungkus,” ujarnya.

Menurutnya, kedekatan Yu Mar dengan orang-orang di kampus juga menjadi daya tarik tersendiri, terlihat dari bagaimana hubungannya dengan mahasiswa, dosen, hingga alumni. 

“Temen-teman juga banyak yang kaya gitu ya maksudnya kadang dari dosen, kadang alumni loh,” jelasnya.

Kedekatan tersebut membuat banyak alumni yang kembali ke kampus menemui Yu Mar, karena sebagian orang merasa terdapat kenangan masa kuliah mereka.

“Dia juga jadi saksi hidup dari perjuangan mahasiswa-mahasiswa disini, contoh ada dosen yang jadi mahasiswa disini, kuliah S1 disini, S2 disini, terus sampai sekarang jadi dosen jajannya masih tetap sama Yu Mar,” tambahnya.

Rutinitas yang dijalani selama puluhan tahun telah menjadikan Yu Mar sebagai bagian dari keseharian di FISIP, sosok yang menjadi saksi lintas generasi mahasiswa, dosen, hingga alumni melalui sepiring pecel, gorengan hangat, dan keramahan yang membawa kenangan tersendiri di hati para pembeli. 

Di tengah perubahan zaman dan meningkatnya kebutuhan hidup, kesederhanaan makanannya dengan harga terjangkau membuat orang terus kembali membeli. Yu Mar hadir dengan kemurahan hatinya yang menemani kampus dari generasi ke generasi.


Reporter: Ayu, Keysa, Gratia

Penulis: Lechya Najwa

Editor: Salwa Nurlatifah


Posting Komentar untuk "Yu Mar, Saksi Hidup Perjalanan Warga FISIP Selama 36 Tahun Lewat Sepiring Pecel "