Masihkah Kritik menjadi Alat Kontrol Sosial di Era Viral Lewat Lagu MBG?
![]() |
| Cahunsoedcom/Hasna Aurum Mutia |
Kritik terhadap pejabat publik seringkali disampaikan dengan cara yang lebih kreatif dan mudah viral. Cara tersebut dilakukan agar kritik dapat tersampaikan oleh semua kalangan masyarakat dan menjadi sentilan bagi pejabat publik. Salah satunya melalui lagu atau meme internet yang banyak beredar di media sosial. Di tengah maraknya budaya digital, bentuk kritik semacam ini semakin mudah menyebar dan menjangkau publik yang lebih luas. Fenomena tersebut terlihat pada lagu Mas Bahlil Ganteng (MBG) yang ramai menjadi perbincangan publik.
Meskipun terdengar lucu dan menghibur, lagu ini sebenarnya lahir dari satire dan kritik yang dilontarkan warganet terhadap sosok Bahlil sebagai pejabat publik. Kumpulan komentar sinis dan cemooh terhadap Bahlil di media sosial kemudian diolah dengan bantuan Artificial Intelligence (AI) menjadi lagu yang mudah diingat dan mudah viral. Artinya, akar dari lagu tersebut sebenarnya adalah kritik publik, bukan pujian tulus.
Alih-alih menanggapi kritik dan melakukan refleksi terhadap kebijakan yang dipermasalahkan publik, Bahlil justru tampak menikmati popularitas lagu tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan adanya lomba video kreatif menggunakan lagu MBG ini yang diadakan oleh Golkar selaku partai yang menaungi Bahlil. Di beberapa kesempatan di hadapan publik, Bahlil tampak tidak terlalu menghiraukan ketika lagu MBG disinggung. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah kritik yang viral masih mampu menjalankan fungsinya sebagai kontrol terhadap kekuasaan?
Tampaknya di era media sosial, pejabat publik semakin piawai mengubah kritik menjadi komoditas pencitraan. Tetapi di sisi lain, ini juga menunjukan bahwa pejabat publik terkesan cuek terhadap kritik berbentuk satire atau sarkasme dan tidak mengindahkan kritik publik yang banyak beredar. Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa budaya internet dapat melemahkan substansi kritik politik. Ketika kritik dikemas menjadi meme, lagu AI, atau konten hiburan, masyarakat perlahan lebih fokus pada sisi hiburannya dibanding isi kritiknya. Akibatnya, pejabat yang seharusnya mendapat tekanan publik justru memperoleh keuntungan dari popularitas tersebut. Kritik pun kehilangan daya tekan politiknya dan beralih fungsi menjadi alat promosi yang nyaris tanpa biaya.
Masyarakat perlu lebih sadar bahwa tidak semua konten viral berhenti sebagai hiburan. Lagu MBG menunjukkan bagaimana kritik digital bisa dengan mudah dikooptasi oleh kekuasaan untuk membangun citra yang lebih santai, dekat dengan rakyat, dan friendly. Padahal inti persoalannya bukan soal lucu atau tidaknya lagu tersebut, tetapi bagaimana publik menilai kinerja dan tanggung jawab seorang pejabat negara.
Penulis: Diah Ayu Nawang Wulan
Editor: Salwa Nurlatifah

Posting Komentar untuk "Masihkah Kritik menjadi Alat Kontrol Sosial di Era Viral Lewat Lagu MBG?"