Obat Penawar Keputusasaan
![]() |
| Cahunsoedcom/Keysa Jihan Rofi |
“Adikmu kambuh lagi.”
Itu bukan telepon yang biasa kutunggu waktu terik matahari sedang menggila di pucuk kepalaku.
Di tengah hiruk pikuk kota yang tidak pernah senyap, biasanya ini pemandangan normal. Serangan cahaya matahari, langkah gontai dan berkeringat, map lusuh di tangan yang isinya akan kubuang di tempat sampah terdekat karena lowongan pekerjaan mulai terlihat seperti manipulasi para elitis, dan segudang hal abstrak lain yang sering menjadi menu makan siangku. Biasanya, akan ada satu dua telepon yang masuk ketika aku sedang menghabiskan waktu di peron kereta sambil memikirkan total ongkos pulang, yang sampai saat ini masih kujawab dengan ‘terima kasih atas kesempatan wawancaranya, tidak apa-apa’ ketimbang ‘terima kasih atas kesempatannya, saya tidak akan mengecewakan anda’.
Tidak pernah terbesit satu kali pun di kepalaku bahwa untuk hari ini, telepon yang datang jauh lebih buruk dari jutaan penolakan tersebut.
“Kak? Kamu dengar suara ibu tidak?”
Suaraku hampir tercekat di tenggorokan, “..Aku dengar, bu. Kali ini apa?”
“Katanya sabu.. aduh, ibu juga kurang tahu. Tadi om Sena yang mengabari ibu. Ketemu Gio di belakang ruko sendirian.. sambil..” kata-kata ibu terputus di sana.
Setelah itu, yang menemaniku menunggu kereta hanyalah suara isakan Ibu di seberang. Tangisan itu persis dengan yang kudengar setahun lalu saat keluarga kami terpaksa mengirim Gio—adikku—ke pusat rehabilitasi setelah ketahuan memakai ganja bersama teman-temannya. Aku masih ingat seberapa keras aku menahan diri untuk tidak menghajar anak itu di tempat. Baru sebulan sejak dia keluar dan berkata kami tidak perlu khawatir lagi, dan telepon ini sudah terjadi? Rasanya dinding pertahanan yang susah payah kutopang sejak ayah meninggal mulai retak perlahan-lahan dan bisa-bisa hancur dengan terpaan konyol lainnya.
Kuharap ini bukan pertanda angin ributnya akan datang.
“Sekarang Gio di mana, bu?” ujarku singkat.
“Di rumah om Sena. Baru mau ibu susul, kamu cepat pulang saja nanti jaga rum–“
“Aku saja yang ke Om Sena.” Kuseret setiap langkah kaki dengan berat waktu kereta memasuki peron.
“Ibu tunggu saja di rumah.”
***
Ayahku dulu bukanlah laki-laki berduit yang rakus harta dan hobi menelantarkan keluarga. Sejauh yang bisa kuingat dari potongan memori masa kecil yang belum menguap, justru dia adalah salah satu contoh sempurna untuk figur kepala keluarga bersahaja dan punya cinta yang cukup untuk istri dan anak-anaknya. Pekerjaannya sebagai supir mobil sewaan memang mengharuskannya untuk menghabiskan waktu di luar rumah, tapi masa kecilku tetap dipenuhi kehangatan yang gigih. Hidup kami pernah sederhana dan bahagia.
Titik perubahan pertama datang waktu terjadi PHK massal di kantor tempatnya bekerja. Untuk pertama kalinya pintu rumah hari itu tidak terbuka dengan siulan ayah dan plastik berisi sate ayam ditenteng di tangan kanannya, melainkan kemuraman asing yang tidak pernah kubayangkan. Di usianya yang tidak lagi muda, mencari pekerjaan baru dalam waktu cepat bukanlah hal yang mudah. Terlebih saat itu Ibu belum lama baru saja melahirkan Gio, dan jadwal pendaftaranku masuk SMP sudah dekat, serta keuangan keluarga kami mulai menipis perlahan-lahan.
Seolah semua itu belum cukup, tidak lama kemudian ayah ditipu. Sisa simpanan uang keluarga kami ayah investasikan kepada teman lamanya yang sempat berkata akan membangun bisnis rumahan bersama. Namun begitu dua sampai lima bulan berlalu tidak ada kabar, yang ayah dapatkan hanya blokiran nomor dan rumor soal rekam jejak orang tersebut sejak beberapa tahun lalu.
Itulah momen keterpurukannya yang paling gila. Tekanan dahsyat itu mengubahnya menjadi pemabuk payah yang hanya tahu caranya melarikan diri pada minuman dan obat-obatan yang entah dia dapatkan dari mana. Orang gila yang hanya tahu caranya memukul anak dan menghajar istrinya karena mereka ‘tidak punya jalan keluar’. Ayah tidak menjadi gila harta, tidak pula kembali ke sedia kala. Dia sudah menjadi orang yang tidak kukenali sama sekali baik luar maupun dalam.
“Makanya waktu akhirnya dia mati, aku nggak pernah membayangkan rasa lega di hatiku bakal muncul secepat itu, tahu. Mau bagaimanapun dia pernah menyayangiku. Apa aku anak yang durhaka, ya?”
Teras rumah Om Sena sore itu begitu hening. Aku duduk di salah satu kursi kayunya, menyesap teh hangat perlahan setelah berceloteh soal masa lalu memuakkan tadi pada satu sosok di kursi seberang.
Aku terkekeh, “Kenapa juga aku cerita ke kamu, ya. Berusaha buka mata saja kamu susah, apalagi mendengarkan.”
Gio sedang duduk di sana. Seluruh wajahnya diselimuti keringat yang menetes dari pelipis sampai dagu. Wajah pucatnya itu kelihatan makin kurus dan meskipun alisnya bertaut keras, jelas-jelas ada kegelisahan yang kentara di sana. Ditambah jemarinya sibuk memainkan satu sama lain dan kakinya tidak bisa diam; anak ini benar-benar sejengkal lagi menuju hilang kesadaran.
“Aku.. mendengar..kan,” katanya dengan suara lemah.
Kulihat sudut bibirnya mulai berdarah karena digigit dengan keras. “Berarti kamu paham kenapa aku benci sekali sama narkoba sialan itu?”
Ekspresi Gio makin tertekuk, “Mau ka..kak apa..?”
“Aku nggak mau apa-apa,” ucapan itu datang sejujur-jujurnya dari lubuk hatiku. “Mungkin aku sudah nggak mengharapkan apa-apa.”
Kami berdua diam dengan kesunyian yang lumayan mencekik. Amarahku di kereta tadi kini sudah hilang entah ke mana. Mungkinkah karena yang kulihat begitu sampai di sini bukanlah Gio—18 tahun dan kacau balau—melainkan anak kecil dengan senyum sumringah yang menawarkanku kembang gula dari toserba? Aku bahkan lupa kapan terakhir kali melihat anak itu di dirinya.
“Aku sama ibu hancurin hidup kamu ya, Yo?”
Pertanyaan tak berencana itu keluar begitu saja dari mulutku, dan tentu saja menghasilkan reaksi dari Gio. Punggungnya yang sejak tadi menempel pada kursi kini menjadi tegak, matanya menatap nanar. “Ngomong apa.. sih?”
“Sejak aku sama ibu bilang kamu harus menunda kuliah karena kita nggak ada biaya, kamu mulai berubah. Kamu bilang itu nggak adil karena dulu pun aku sempat kuliah, dan seharusnya kamu juga bisa seperti aku, bukannya membantu om jaga toko.”
Aku menarik napas sebelum melanjutkan, “Kamu bilang kamu lelah hidup miskin, dan lebih suka melarikan diri dengan teman-teman bajinganmu itu.”
Kepalanya menunduk dan aku bisa melihat cengkeramannya menguat pada kaus lusuh miliknya. Rasa bersalah atau kemarahan lain? Aku tidak tahu.
“Aku minta maaf kalau kamu memang merasa begitu, karena kesempatan itu hilang bahkan sebelum ditawarkan ke kamu. Tapi, Yo,” aku memijit pelipisku kuat-kuat, “tolong jangan hancurin hati ibu lagi sebagai bayarannya.”
Mungkin memang seharusnya aku dan ibuku bercerita tentang ayah. Bahwa sosok yang hilang dari hidup Gio ketika ia seharusnya belajar soal kegagahan dan kekuatan bukan karena kematian semata, tapi karena seseorang tersebut memasuki lubang keputusasaan dengan cara yang sama seperti yang dilakukannya sekarang. Kalau saja aku melakukannya, apakah akan ada yang berubah? Mampukah aku mencegah ibu melihat bayangan laki-laki di masa lalu kami saat menatap Gio? Mungkinkah Gio hidup normal?
Samar-samar aku mendengar suara dari mulutnya.
“Ma..af.”
Belum sempat aku menjawab, dia kembali melanjutkan dengan suara terputus-putus, “A..ku yang minta maaf. Aku berani sumpah, waktu rehabilitasiku selesai.. dan mereka menawari untuk bergabung lagi.. semuanya sudah kutolak. Sempat kutolak.”
“Tapi kemarin.. aku dengar dari ibu kalau keuangan kita makin sulit. Dan ka..kak belum diterima kerja lagi di.. mana pun. Waktu aku dengar ibu bicara ka..lau kalian masih mengusahakan biaya kuliahku, aku.. malu setengah mati mengingat kemarahan..ku dulu. Karena merasa.. nggak berguna, aku ‘melarikan diri’ lagi..”
Hatiku sedikit terenyuh mendengarnya. “Kamu tanggung jawabku dan ibu, Gio.”
“Justru karena.. itu. Manusia macam apa.. yang sudah diusahakan sebe..gitunya, malah nggak tahu terima kasih..?”
Gio menangis di hadapanku, dan berkata, “Kak.. bukankah justru aku yang hancurin hidup kalian?”
Aku meringis. Tanpa bicara apapun, dalam sekejap aku berdiri dari kursi dan mendekap kepalanya.
“Anak gila.” Kuusap kepala anak itu seperti yang sering kulakukan dulu saat dia masih kecil. “Kamu adalah berkah untuk ibu dan aku.”
Aku merasa mendengar banyak sekali tangisan hari ini. Tapi tangisan Gio di pelukanku itu adalah sesuatu yang belum kudengar lagi setelah bertahun-tahun lamanya. Saat itu aku sadar, sekuat apapun tekadku untuk memberikan kehidupan yang berbeda baginya, tidak ada yang menjamin hasilnya tidak akan mengantarkan dia pada situasi yang justru paling ingin kuhindari.
“Maaf, kak..” racaunya pelan, “Aku benar-benar minta maaf.”
Sebab keputusasaan adalah sesuatu yang tidak memiliki prediksi. Ia hanya mengikuti dalam diam dan muncul dalam kondisi paling buruk saat segalanya berjalan pergi dari genggaman. Barangkali yang bisa kulakukan hanyalah mencegahnya tinggal lebih lama dari ini. Baik aku ataupun ibu, kami nggak akan membiarkan hal yang sama terjadi untuk kedua kalinya.
“Kalau aku masih boleh pulang bersama Kakak,” punggung Gio kian gemetar di lenganku, “apa ibu bakal memaafkan aku juga?”
Kalimat itu membuatku tersenyum tipis.
“Waktu menggantikan ibu menjemputmu ke sini, di kereta aku hanya memikirkan cara buat menghajarmu, tapi itu semua lenyap waktu melihat wajah gelisah dan permintaan maafmu,” jelasku singkat.
“Ibu berbeda dengan aku. Dia nggak perlu itu semua buat merasakan hal yang sama. Menurutmu kenapa aku sempat mencegah ibu datang?”
Penulis: Khansa Ainiya
Editor: Salwa Nurlatifah

Posting Komentar untuk "Obat Penawar Keputusasaan"