Merekayasa Kehadiran, Tanggung Jawab Kian Menghilang
![]() |
| Cahunsoedcom/Nurfadila Alya |
Eksistensi mahasiswa dalam perkuliahan merupakan bentuk komitmen terhadap proses pembelajaran dalam dunia akademik. Namun, realitas sosial berbanding terbalik,tidak sedikit mahasiswa yang bolos kuliah namun tetap mengamankan daftar hadir melalui praktik titip absen (tipsen). Hingga saat ini, tipsen masih menjadi suatu budaya yang normal dilakukan di dunia akademik. Ketika mahasiswa meminta rekannya untuk menitipkan kehadirannya, ia akan mendapatkan pengakuan seolah-olah telah mengikuti perkuliahan tersebut, padahal kenyataannya tidak. Menurut hemat penulis praktik ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai akademik.
Menormalisasi budaya tipsen menandakan adanya perubahan persepsi terkait pelanggaran aturan di lingkungan akademik. Sesuatu yang awalnya dianggap tidak etis perlahan berubah menjadi hal yang lumrah karena dilakukan banyak mahasiswa. Kalimat seperti "yang penting sudah absen" atau "tolong tipsenin dulu" menjadi lontaran yang sering terdengar di lingkungan kampus. Penggunaan kalimat tersebut menunjukkan bahwa praktik tipsen tidak lagi dipandang sebagai suatu bentuk pelanggaran yang serius, melainkan bagian dari kebiasaan sehari-hari mahasiswa. Di sisi lain, alasan yang mendasari mahasiswa sehingga terpaksa tidak hadir di perkuliahan bisa dikarenakan sakit, pekerjaan paruh waktu, urusan keluarga, dan lain sebagainya. Selain itu, metode pembelajaran yang dinilai kurang menarik membuat mahasiswa merasa bahwa menghadiri kelas tidak berpengaruh besar terhadap nilai asal catatan absensi selalu terisi.
Meskipun begitu, berbagai alasan tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk memalsukan absensi kehadiran. Kampus pada umumnya telah menyediakan mekanisme perizinan bagi mahasiswa yang berhalangan hadir. Jika muncul masalah dalam sistem tersebut, langkah yang tepat adalah memperbaiki sistemnya, bukan memalsukan kehadirannya lewat tipsen. Ketidakhadiran yang disertai alasan yang jelas seharusnya dapat disampaikan melalui prosedur yang telah ditetapkan oleh pihak kampus. Dengan demikian, mahasiswa tetap dapat menunjukkan tanggung jawabnya tanpa harus melakukan tindakan yang bertentangan dengan aturan akademik.
Selain itu, praktik tipsen juga menunjukkan adanya hubungan antara tindakan individu dan lingkungan sosial di sekitarnya. Seorang mahasiswa mungkin pada awalnya merasa ragu untuk melakukan tipsen karena menganggapnya sebagai tindakan yang tidak benar. Namun, ketika praktik tersebut terus dilakukan oleh teman-temannya dan dianggap sebagai sesuatu yang biasa, rasa bersalah dan keraguan akan semakin hilang. Lingkungan pertemanan secara tidak langsung dapat membentuk kebiasaan dan memengaruhi cara mahasiswa dalam memandang suatu pelanggaran. Hal yang dilakukan secara berulang dan diterima oleh banyak orang pada akhirnya dapat membentuk budaya yang sulit untuk diubah.
Berbicara soal upaya untuk mengatasi budaya tipsen tidak cukup hanya dilakukan dengan memberikan sanksi kepada mahasiswa yang melakukannya. Diperlukan pula kesadaran dari mahasiswa untuk memahami pentingnya kejujuran dan tanggung jawab dalam kehidupan akademik. Pihak kampus dan dosen juga dapat berperan dalam menciptakan sistem pembelajaran yang lebih menarik, terbuka, dan mampu mengakomodasi mahasiswa yang memiliki alasan tertentu untuk tidak hadir. Pada akhirnya, budaya titip absen bukan sekadar persoalan mengisi daftar hadir, melainkan cerminan kualitas integritas, tanggung jawab, dan budaya akademik yang dibangun di lingkungan perguruan tinggi.
Penulis: Ayu Sudrajat
Editor: Salwa Nurlatifah

Posting Komentar untuk "Merekayasa Kehadiran, Tanggung Jawab Kian Menghilang"