Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hipokrisi Narasi

Oleh: Muflih Fuadi

Aku adalah sekumpulan aksara yang terlanjur menjelma
Diperanakkan oleh prostitusi perpolitikan
Dibesarkan oleh tumpang tindih gradien modal
Dididik oleh semrawut degradasi moral

Aku adalah kenistaan ujung profan
Ketika benarku terlanjur dicap sebagai comberan
Setiap idealismeku hanyalah jadi bahan tertawaan
Maka setiap asa hanya menjadi sasmita yang tak ikhlas disasmitakan

Eksistensiku kini hanya semu
Sekedar stigma yang didogmakan
Oleh bangku-bangku sekolah yang terkomersialisasi
Yang maknanya melebur dalam jerat distorsi
Sehingga lahirlah berbagai definisi yang kontra esensi

Patuh, patuh kerjakan!
Atau kau tak akan mendapat jatah kursi dalam jajaran birokrasi
Atau kau tak bisa menjadi bagian dari modern slavery bernama teknisi
Atau kau tak akan bisa duduk bersama parlemen yang sibuk berdebat dengan kepala tanpa isi
Pada deretan individualisme yang terpatri

Dan,
Barisan nisan permodalan telah mengebiri embrio pemikiran
Telah memaksa membungkam hasrat penciptaan
Memaksa pendapat patuh pada ancaman pendapatan
Pada sederetan angka-angka
Yang mengukuhkan pintu modal di atas pusara

Aku masih terduduk
Pada kursi rotan yang kian lapuk
Aku tak lagi dapat aku bersikap lembut pada malam indah yang kian larut
Yang telah menceraikanku dari senja
Yang telah menyesaki paru ini dengan candu puja dan puji dogma

Maka.
Sabdakan amarahku pada gedung-gedung yang menggores langitku
Lantangkanlah suaraku bersama teriakan lembaran selulosa dan narasi
Ceritakan tangisan berebut nasi
Sertakan tinta pada darah dalam nadi
Sehingga literasi dan narasi tak akan mati sia-sia malam ini
Sehingga kebenaran tak hanya monopoli kitab suci
Akhirnya candu dan lena pun tak sanggup menidurkanmu pada subuh pagi

Medio September 2016

Posting Komentar untuk "Hipokrisi Narasi"