Rayakan Hari Jadi dengan Aksi, Aliansi Banyumas Raya Tuntut Evaluasi Kebijakan yang Menggerogoti Rakyat
![]() |
| Cahunsoedcom/Kayla Syafira |
Purwokerto, Cahunsoedcom – Aliansi Banyumas Raya kembali menggelar aksi mimbar bebas di depan Pendopo Si Panji pada Senin (23/02/26). Aksi bertajuk "Banyumas Problematik: Rayakan dengan Aksi, Lawan Kebijakan yang Menggerogoti Rakyat Indonesia" dipilih lantaran sesuai dengan momentum hari jadi Banyumas yang ke-455.
Setiawan, selaku koordinator lapangan menegaskan bahwa momentum ini harus menjadi ajang refleksi atas kebijakan yang terus menggerogoti kesejahteraan rakyat.
"Kita merayakan ulang tahun Banyumas bukan hanya dengan upacara-upacara seremonial yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Banyumas. Tapi kita merayakan itu dengan refleksi atas kebijakan-kebijakan yang menggerogoti rakyat Indonesia," katanya (23/02/26).
Setiawan juga menyebutkan pada aksi kali tuntutan berupa pernyataan sikap dari Aliansi Banyumas Raya terhadap kondisi bangsa dan daerah yang memprihatinkan.
"Kita ingin adanya pernyataan sikap di depan sini. Nanti mungkin, kayaknya kita bakal pindah deh buat nyari atensi lebih banyak gitu," tuturnya (23/02/26).
Sementara itu, kritik terhadap ketimpangan sosial di Banyumas disuarakan oleh Fatan, salah satu peserta aksi asal Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Sebagai putra daerah, ia menunjuk keberadaan Kampung Sri Rahayu dan Kampung Pemulung sebagai bukti nyata pembangunan yang belum merata.
"Temen-temen bisa lihat di kampung Dayak itu, kampung Sri Rahayu, terus kita kaya masih denger loh Kampung Pemulung di Banyumas ini, jadi kalau di Banyumas masih ada nama-nama itu berarti masih ada ketimpangan sangat luas lah," ujarnya (23/02/26).
Bagi Fatan, pemerintah daerah saat ini hanya menutup mata dan telinga. Ia menilai aspirasi masyarakat hanya dianggap sebatas formalitas belaka.
"Udah dari kecil di sini, enggak ada perubahan sama sekali lah. Yang aku rasa ya sekarang suara rakyat cuma buat bahan, apa ya, 'oh ada', suaranya ada, cuma tetep aja pertimbangannya di suara-suara aja gitu," jelasnya kecewa (23/02/26).
Tidak hanya mahasiswa, Munsyifah, salah satu warga yang hadir dalam barisan massa, mengungkapkan bahwa kehadirannya merupakan bentuk keprihatinan seorang ibu terhadap situasi negeri.
"Saya itu mungkin di antara sekian ibu yang prihatin dengan kondisi ini," ungkapnya (23/02/26).
Bagi Munsyifah, menyuarakan pendapat di jalanan adalah cara agar kebenaran tetap terjaga, meski ia merasa suara rakyat sering kali tidak ditanggapi.
"Kalau menurut saya sih nggak direspon. Kalau istilahnya diterima atau tidak, didengar atau tidak, kita menyuarakan kebenaran aja. Sampai kebenaran itu dinyatakan, benar-benar diakui.” pungkasnya.
Reporter: Kheisya Khoirunissa, Rafly Husna, Salwa Nurlatifah
Penulis: Kheisya Khoriunissa
Editor: Salwa Nurlatifah

Posting Komentar untuk "Rayakan Hari Jadi dengan Aksi, Aliansi Banyumas Raya Tuntut Evaluasi Kebijakan yang Menggerogoti Rakyat"