Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dari Kekerasan Seksual Hingga Polusi Udara, Pembangunan Gedung UT Purwokerto Timbulkan Keresahan

Cahunsoedcom/Rakanna Bih

Purwokerto, Cahunsoedcom Universitas Terbuka (UT) Purwokerto akhirnya melanjutkan proses pembangunan gedung barunya. Pembangunan ini berlokasi di Jalan Kampus, Kelurahan Grendeng, Purwokerto Utara, yang berseberangan langsung dengan Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Namun pada prosesnya menimbulkan banyak ketidaknyamanan yang dialami oleh warga dan mahasiswa sekitar proyek.  


Pembangunan ini mulai dikerjakan pada Januari 2024 dan sudah mencapai 10% pada April 2024 yang mana akan selesai pada Oktober 2024. Hal ini disampaikan oleh Fendy Hartanto selaku Admin Teknis kepada reporter LPM Solidaritas pada Selasa (2/4).


"Kalau untuk progresnya saat ini mungkin sudah mau 10%, jadi sudah jalan sekitar 4 bulan, soalnya mulai dari Januari. Untuk target dari proyek itu sendiri, mungkin sampai bulan Oktober," ucap Fendy. 


Keresahan dan ketidaknyamanan menjadi salah satu dampak yang dirasakan masyarakat maupun mahasiswa sekitar pembangunan. Perilaku para pekerja menjadi salah satu sorotan. Beberapa mahasiswi mengeluhkan terkait seringnya para pekerja pembangunan melakukan catcalling. Adanya peristiwa ini tentunya merugikan mahasiswi yang sering melewati wilayah pembangunan. 

“Tentunya nggak nyaman dan merasa agak traumatized, juga merasa sangat amat terganggu. Kalau bisa, ada yang dapat menghentikan itu, agar aku bisa leluasa untuk jalan ke kampus setiap harinya,” ucap salah satu mahasiswi korban catcalling (20/3). 

Respon dari para pekerja pembangunan UT tidak selalu berpihak kepada korban. Salah satunya disampaikan oleh Rifki yang akrab dipanggil Sirdung. 

“Namanya cowok ngeliat cewek kan kadang-kadang pengen goda buat hiburan sesaat, jenuh di proyek kadang-kadang pengen kenalan kan apa salahnya sih? Namanya orang pengen kenal kan,” tuturnya (19/3). 

Menanggapi adanya kekerasan seksual yang terjadi, Indaru selaku salah satu dosen FISIP Unsoed berpendapat hal itu harus segera dilaporkan ke pihak UT dan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS). 

“Kalau begitu anda bisa komplain ke UT, itu pelecehan seksual, jadi kalian bisa melapor ke PPKS. Jadi teman-teman menunjukkan siapa, bentuknya apa, dan laporkan supaya bisa disampaikan ke UT. UT harus menegur pekerja. Memang soal edukasi mereka gak paham, mereka hanya pekerja. Cuman, itu pelecehan seksual verbal, soal bosen nggak bosen itu urusan mereka, bukan berarti harus kayak gitu,” ujar Indaru (28/3). 

Tak sampai di situ, dalam prosesnya, pembangunan ini juga menyebabkan banyaknya debu di sekitar lokasi pembangunan, yang membuat kerugian bagi salah satu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yakni fotokopi di dekat pembangunan. Meskipun sudah menyertakan surat Analisis Dampak dan Lingkungan (Amdal), warga sekitar tetap merasakan dampaknya.


“Mesin fotokopi saya sudah rusak sampai empat kali karena debu, mesin printer sering kotor beberapa kali. Kemarin saya sempat disertakan surat dari Amdal. Tapi secara fisik, beberapa warga lingkungan sini terkena dampaknya, ada yang sumurnya serat, ada yang retak,” ungkap Adi, selaku pemilik fotokopi sekaligus Ketua RT setempat (20/3). 


Meskipun mendapat dampak negatif dari pembangunan, Adi mengungkapkan bahwa setiap pembangunan pasti memiliki pengorbanan. Ia berpendapat bahwa pembangunan ini juga memberikan dampak positif bagi warga sekitar. 


Saya rasa di mana-mana kalau ada pembangunan pasti ada dampak negatif dan positif. Kalau misal dampak positif, dari segi ekonomi dan pembangunan infrastruktur yang diperkirakan bagus,” tutur Adi. 

Berbagai keresahan sudah disampaikan oleh masyarakat dan mahasiswa sekitar, beberapa di antaranya sudah ditanggapi oleh pihak proyek. Namun, masyarakat mengaku masih belum puas karena pihak UT belum ikut turun tangan sampai saat ini. 

“UT bisa sosialisasi ke warga, selama ini dilakukan pembangunan juga ga pernah ngomong ke warga. Hanya pemberitahuan akan dibangun, tapi enggak tau nih kapan dibangunnya, siapa, ketemu siapa. Hadap ke kita sebagai yang ada di masyarakat juga enggak, surat pun juga  enggak ada, tau-tau udah ada pembangunan, malah saya lebih appreciate sama proyek,” ungkap Adi. 

Reporter: Atikah Shelfina, Afifahtun Nabilah, Devi Putri, Tata Indrawati, Rizka Noviana, Septiyo Rizki, Reynaldo Alfariza

Penulis: Rizka Noviana 

Editor: Hanna C

Posting Komentar untuk "Dari Kekerasan Seksual Hingga Polusi Udara, Pembangunan Gedung UT Purwokerto Timbulkan Keresahan "