Lebih dari Sekadar Uang, Pak Ogah di Depan FIB Unsoed Jadi Penjaga Keselamatan
Purwokerto, Cahunsoedcom – Arus lalu lintas di pertigaan depan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jenderal Soedirman nyaris tak pernah benar-benar sepi. Setiap pagi, kendaraan melaju bersamaan dengan mahasiswa yang berlalu-lalang menuju kelas. Di tengah kondisi tersebut, hadir sosok Pak Slamet, atau yang akrab disapa Pak Mame, yang selama beberapa tahun terakhir secara sukarela membantu mengatur lalu lintas.
Pak Slamet mulai menjalani aktivitas tersebut sejak 2022. Ia mengaku keputusannya turun ke jalan bukan semata-mata untuk mencari uang, melainkan karena keprihatinannya terhadap seringnya kecelakaan yang terjadi di titik tersebut.
“Saya ingin membantu supaya tidak ada yang celaka. Bukan karena uang,” ujar Pak Slamet saat ditemui di lokasi.
Dengan rompi sederhana dan gerakan tangan yang tegas, Pak Slamet kerap memberi aba-aba kepada pengendara agar mahasiswa dapat menyeberang dengan aman. Meski keberadaannya menuai beragam respons, sebagian besar pengguna jalan justru mengapresiasi perannya. Tidak sedikit mahasiswa, dosen, maupun warga sekitar yang memberinya uang secara sukarela sebagai bentuk terima kasih.
Keberadaan Pak Slamet juga dirasakan langsung oleh para pedagang di sekitar FIB. Husain, penjual cireng, mengatakan sebelum ada Pak Slamet, pertigaan tersebut kerap menjadi lokasi kecelakaan.
“Dulu sering tabrakan. Sekarang lebih tertib, meskipun beliau sering tetap turun meski kakinya sakit,” katanya.
Hal serupa disampaikan Hesti, penjual bakpao, yang menilai peran Pak Slamet sangat penting, meski idealnya tidak hanya dijalankan seorang diri.
“Kalau lagi ramai, satu orang jelas kewalahan. Harusnya ada yang mendampingi,” ujarnya.
Dari sisi mahasiswa, keberadaan Pak Slamet dinilai memberi rasa aman, terutama pada jam-jam padat. Adelia, mahasiswi FIB, menyebut peran Pak Slamet sangat krusial di titik rawan kemacetan tersebut.
“Beliau tetap membantu meskipun kondisinya pincang. Itu bikin terharu,” ucapnya.
Sementara itu, Nindya, mahasiswa lainnya, menilai keikhlasan Pak Slamet menjadi contoh nyata kepedulian sosial.
“Beliau bekerja dengan hati, bukan sekadar mengejar imbalan,” katanya.
Meski begitu, imbalan sukarela yang diterima Pak Slamet tidak selalu cukup untuk menopang kebutuhan hidupnya. Ia mengaku ada hari-hari ketika pulang tanpa membawa uang sama sekali. Sesekali bantuan datang dari mahasiswa maupun dosen, bahkan ia pernah menerima THR dari pihak fakultas. Namun, bantuan tersebut belum bersifat berkelanjutan.
Kisah Pak Slamet menjadi potret ketulusan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk jalanan kampus. Ia tidak hanya membantu mengurai lalu lintas, tetapi juga menghadirkan rasa aman bagi sivitas akademika dan warga sekitar. Di balik pengabdian tersebut, terselip harapan akan adanya perhatian lebih dari pihak kampus maupun pemerintah, agar ketulusan seperti ini tidak terus berjalan sendirian.
Reporter: Fanesa Dwi, Ardi Irianto, Fahira Annida, Alya Kirani
Penulis: Devi Sulfiana
Editor: Anyalla Felisa
Posting Komentar untuk "Lebih dari Sekadar Uang, Pak Ogah di Depan FIB Unsoed Jadi Penjaga Keselamatan"