Budaya Memaafkan atau Membiarkan? Sulitnya Menerapkan Cancel Culture di Masyarakat Indonesia
![]() |
| Cahunsoedcom/Hasna Aurum Mutia |
Pada era modern informasi berkembang pesat lewat media sosial, dimana dampak positif dan negatif berdatangan. Banyak influencer di platform digital yang saat ini bermunculan merupakan salah satu dampak dari modernisasi. Jika direfleksikan kembali, Influencer bukan hanya soal jumlah followers atau centang biru. Mereka adalah orang-orang dengan segala keahlian, gaya hidup, atau citra yang mereka bangun punya “daya sihir” yang memengaruhi seseorang.
Masalahnya, zaman sekarang seringkali lebih menghargai sensasi daripada substansi. Tidaklah mengherankan semakin banyak influencer yang terkenal bukan karena kualitas, melainkan kontroversi. Logikanya sederhana, semakin aneh, semakin viral, semakin viral, semakin cuan.
Urusan nilai, etika, atau dampak sosial? Nanti dulu. Yang penting ramai. Membuktikan bahwa cancel culture di Indonesia masih sulit diterapkan. Cancel culture diartikan sebuah budaya “membatalkan” seseorang yang dianggap bermasalah dengan memboikot karier dan reputasinya sebagai kontrol sosial bagi para pengguna media sosial.
Di Indonesia, cancel culture sulit diterapkan karena rakyatnya mudah sekali melupakan dan memaafkan. Permintaan maaf dianggap cukup untuk mengakhiri polemik, namun tidak digunakan untuk evaluasi atas kesalahan yang terjadi sehingga tidak menimbulkan efek jera. Selain itu, dinamika algoritma media sosial masyarakat Indonesia cenderung masif, sangat mudah untuk mengalihkan perhatian publik karena diganti dengan tren baru yang terus muncul. Hal ini membuat upaya cancel culture tidak berlangsung lama.
Akibatnya, terus ada influencer dengan konten yang tidak bermutu dan tidak edukatif, yang berlomba-lomba menjadi paling aneh dan kontroversial karena tetap diminati masyarakat Indonesia. Kondisi ini terjadi akibat kurangnya penerapan cancel culture yang membentuk lingkaran setan.
Di sisi lain, upaya untuk menerapkan cancel culture juga telah dilakukan, salah satunya melalui ajakan untuk meningkatkan kesadaran pengguna media sosial. Hal ini terlihat dalam salah satu unggahan Instagram oleh akun @politiksebatsantuy yang mengangkat topik “Stop Ngasih Makan Influencer Sampah!” sebagai bentuk seruan kepada publik agar lebih selektif dalam memberikan dukungan terhadap figur di ruang digital.
Tentunya pada kolom komentar tersebut tidak semata-mata berisi komentar positif yang mendukung, masih banyak juga netizen yang “menolak” untuk diedukasi dan tetap membela sang idola mereka. Alih-alih mencerna pesan edukatif, sebagian netizen memilih menutup telinga dan pasang badan membela idolanya mati-matian. Rasionalitas kalah oleh fanatisme. Hanya karena foto yang dipakai menampilkan influencer kesayangan mereka.
Sarkasme pun bertebaran, seperti komentar “beras bigmo emang enak” yang jelas-jelas bukan argumen, tapi upaya meremehkan isu. Belum lagi tudingan standar ganda yang dilontarkan “katanya cancel culture, tapi yang di cancel pilah-pilih, standar ganda ya?” Seolah-olah ini bukan soal substansi, tapi sekadar ajang mencari celah untuk menyerang balik. Meskipun penerapan cancel culture di Indonesia tidak sekuat negara-negara seperti Korea, masyarakat Indonesia bukan semata-mata tidak peduli, melainkan karena adanya perbedaan faktor budaya, sosial dan juga ekonomi.
Penulis: Lindi Astuti
Editor: Salwa Nurlatifah
.png)
Posting Komentar untuk "Budaya Memaafkan atau Membiarkan? Sulitnya Menerapkan Cancel Culture di Masyarakat Indonesia "