Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketika Ruang Publik Mahasiswa Kian Terbatas





Cahunsoedcom/Kayla Syafira


Purwokerto menjadi salah satu kota dengan ribuan mahasiswa yang terus bertambah tiap tahunnya. Ironisnya peningkatan jumlah mahasiswa belum diimbangi dengan fasilitas di ruang publik dalam mendukung aktivitas akademik terutama lingkungan di luar kampus. Khususnya, bagi mahasiswa yang seringkali merasa jenuh ketika belajar, diskusi, maupun mengerjakan tugas di kos atau rumah dengan ruang yang sama dan aktivitas yang berulang. Di situasi seperti ini, seringkali mereka membutuhkan ruang berbeda dengan memanfaatkan ruang publik yang tersedia sebagai alternatif dari kebutuhan tersebut.

Di tengah pola belajar mahasiswa yang semakin dinamis, kini ruang belajar tidak hanya bergantung di ruang kelas. Tetapi juga memanfaatkan ruang publik walaupun sekedar diskusi dan mengerjakan tugas dengan fasilitas yang memadai. Ia juga memanfaatkan akses internet, stop kontak, tempat duduk yang nyaman, serta suasana yang kondusif. Dengan suasana yang lebih bervariasi, akan menghasilkan suasana yang tidak membosankan sehingga, meningkatkan semangat belajar. Selain digunakan sebagai ruang diskusi atau mengerjakan tugas, ruang publik juga akan menjadi ruang yang dapat mengurangi kejenuhan dan meningkatkan produktivitas. 

Ruang yang nyaman seringkali mampu mendorong ide-ide, inovasi, serta diskusi yang lebih. Akibat keterbatasan tersebut tidak sedikit mahasiswa menjadikan kafe dan tempat komersial lainnya sebagai alternatif untuk berdiskusi atau mengerjakan tugas. Namun, kondisi ini menimbulkan persoalan baru. Jika melihat realitas yang ada, tidak semua mahasiswa memiliki kondisi ekonomi yang sama hanya untuk mendapatkan ruang belajar dan diskusi yang nyaman. Maka dari itu penyediaan ruang publik dapat mendukung proses akademik dengan akses yang setara tanpa dibatasi kondisi ekonomi bagi semua kalangan mahasiswa. 

Keberadaan ruang publik juga dapat meningkatkan kehidupan sosial mahasiswa sehingga mereka memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkup yang berbeda mulai dari lintas jurusan, fakultas, hingga universitas. Interaksi tersebut menciptakan lingkungan belajar yang lebih terbuka, terutama mahasiswa perantau yang rentan mengalami fase kesepian.

Melihat kondisi tersebut, ruang publik tidak hanya sebagai pelengkap fasilitas tetapi sudah menjadi kebutuhan mahasiswa atau pelajar untuk membantu proses akademik mereka serta dapat mengurangi kejenuhan. Menghadirkan lebih banyak ruang publik akan membuka kesempatan yang setara bagi kalangan mahasiswa atau pelajar secara gratis dan mudah dijangkau sehingga dapat diakses tanpa terhalang kondisi ekonomi. Oleh karena itu, penyediaan ruang publik perlu menjadi perhatian untuk memberikan kesempatan secara luas dengan melihat berbagai urgensi yang ada. 

Penulis: Keysa Jihan Rofi 
Editor: Salwa Nurlatifah

Posting Komentar untuk "Ketika Ruang Publik Mahasiswa Kian Terbatas "