Gatotkaca, Masihkan Anti-Israel?
Dalam bunga rampai pemikiran Abdurrahman Wahid, akrab disapa Gus Dur, pada buku “Tuhan Tidak Perlu Dibela” terdapat sebuah fragmen kalimat yang seketika memantik binar mata saya, “Gatotkaca Anti-Israel.” Dalam tulisan Gus Dur, disebutkan slogan tersebut tertulis di jalan aspal pada muka sebuah gedung di Jalan Thamrin, Jakarta. Secara eksplisit, sang penulis slogan tak memberi penjelasan perihal makna dibaliknya. Tak diketahui pula siapa penulis sebenarnya.
Akan tetapi, Gus Dur dengan analisis cerdik beranggapan bahwa kemungkinan Gatotkaca ialah tokoh yang paling dipuja si penulis, sementara Israel adalah tumpuan atas segala kebenciannya. Dalam esai tersebut, Gus Dur sebetulnya sedang menggambarkan kegelisahan perihal ketiadaan tokoh panutan bagi anak muda. Namun, saya melihat slogan itu bisa saja dimaknai lebih dari sekadar persoalan panutan.
Panggung Wayang dalam Bayang-Bayang Kepentingan
Sejak masih kecil, kita mengenal Gatotkaca sebagai tokoh pewayangan hebat pembela kebenaran dengan julukan "otot kawat balung wesi," ksatria yang melesat untuk menjaga kedaulatan dari setiap bentuk penindasan.
Kendati demikian, dunia tak lagi sesederhana panggung wayang yang bebas dari kalkulasi kepentingan maupun basa-basi birokrasi nyata. Di luar sana kita bisa melihat konflik Israel Palestina telah berlangsung lebih dari tujuh dekade dan memasuki fase yang semakin mengerikan dalam beberapa tahun terakhir. Sejak 1967, Tepi Barat dan Gaza berada dalam pendudukan Israel. International Court of Justice (ICJ) dalam laporannya menuliskan sekitar 465.000 pemukim Israel tinggal di Tepi Barat dan tersebar sekitar 300 pemukiman serta pos terdepan. Hal ini juga merupakan isu yang dipersoalkan sebab masuk dalam tindakan ilegal menurut hukum internasional.
Eskalasi besar pada tahun 2023 juga menempatkan Gaza pada krisis kemanusiaan yang serius karena ribuan korban sipil dan infrastruktur yang hancur. Hal ini secara jelas menggambarkan sebuah situasi yang bukan sekadar perihal politik, tetapi pula rencana tragedi soal kemanusiaan yang dibunuh habis.
Wujud Cinta Prabowo terhadap Donald Trump dan Kroninya
Mari kita kembali pada persoalan Indonesia yang saya gambarkan pada tokoh Gatotkaca, di mana semula saya yakini ia berpihak.
Hal ini bermula dari dukungan Palestina kepada kemerdekaan Indonesia. Apabila ditilik kembali, tentu bukan hal yang aneh ketika Indonesia juga turut serta dalam melakukan hal yang sama kepada Palestina, apalagi didukung faktor kultur serta konstitusional Indonesia sendiri.
Namun, yang menjadi persoalan, apakah fondasi moral tersebut masih bertahan di hari ini?
Di era Presiden Prabowo, tak dapat dimungkiri bahwa dinamika global menuntut Indonesia turut aktif dalam percaturan internasional. Namun, sayang seribu sayang realitas pelik justru menghantam saat diketahui bahwa Indonesia bersinggungan dengan agenda yang memiliki rekam jejak berlawanan.
Board of Peace (BOP) namanya, sebuah forum yang lahir dari ambisi Donald Trump, sosok yang diyakini banyak orang sebagai penggaduh tatanan dunia dengan kebijakannya yang menjilat kepentingan. Tentu saja, publik pasti masih mengingat bahwa pada 2017 pemerintahan Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel serta memindahkan Kedutaan Besar Amerika Serikat ke kota tersebut.
Langkah ini tentu saja menyuplai banyak kritik sebab dianggap mengubah status wilayah yang disengketakan tanpa kesepakatan final.
Rekam jejak yang dicetak Trump serta ambisi kroninya sejak lama sebetulnya tak perlu dijelaskan secara panjang. Apalagi ketika bukan hanya disinyalir, tetapi memang betul-betul kenyataan bahwa Palestina sebagai negara yang paling berkepentingan justru tidak tergabung dalam forum tersebut.
Tentu, dapat disimpulkan bahwa bergabungnya Indonesia merupakan bentuk diplomatik yang mengkhawatirkan, pengabaian kemanusiaan, serta pengkhianatan konstitusional. Di meja forum, kita tak tampil sebagai Gatotkaca yang berdiri dalam adil, namun sebatas penggembira dalam orkestra kepentingan asal Trump senang.
Ironi Kepala Negara dan Pengabaian Kemanusiaan
Begitulah sekiranya cuap-cuap birokrasi dan diplomatik kita hari ini. Di bawah komando Prabowo, agaknya kita diajarkan bagaimana menjadi penjilat geopolitik ulung yang menggadaikan harga diri konstitusi demi restu sang penggaduh dunia.
Sebuah ironi, sebab kita dipertontonkan secara jelas bagaimana Gatotkaca yang biasanya “otot kawat balung wesi”, kini bertekuk lutut, sibuk memoles sepatu antek asing yang dahulu sering ia maki dalam orasi. Agaknya, terbang tinggi di angkasa sudah tak lagi menarik bagi ksatria kita, sebab ia lebih memilih mendarat lalu bersimpuh di kaki kepentingan yang menjanjikan kursi.
Penulis: Kheisya Khoirunissa
Editor: Salwa Nurlatifah

Posting Komentar untuk "Gatotkaca, Masihkan Anti-Israel? "