Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Review Film Kartini (2017): Bayang Tradisi dalam Pikiran Kartini

         

Cahunsoedcom/Keysa Jihan Rofi Nabila

        “Tubuh boleh terpasung, tetapi jiwa dan pikiran harus terbang sebebas-bebasnya.”

Kutipan tersebut terasa seperti jantung dari film Kartini, sebuah karya sinema yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan dengan Dian Sastro sebagai bintang utama. Film ini tidak sekadar menarasikan perjalanan hidup Raden Ajeng Kartini sebagai tokoh emansipasi perempuan Indonesia, tetapi juga menghadirkan refleksi tentang literasi, kebebasan berpikir, serta keberanian seorang perempuan melampaui batas zamannya.

Dalam film ini, Kartini dikisahkan sebagai seorang perempuan bangsawan Jawa di Jepara yang hidup dalam sistem sosial feodal yang menyesakkan. Tradisi pingitan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan perempuan setelah memasuki usia tertentu pada masa itu, perempuan dibatasi dalam menjalani kehidupan di ruang domestik hingga datangnya lamaran dari seorang pria. Tidak ada pilihan atas masa depan mereka sendiri, hidupnya  seakan berakhir setelah menyandang gelar seorang istri. 

Di tengah keterbatasan selama pingitan, Kartini digambarkan sebagai sosok yang memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia luar. Kegemarannya dalam membaca dan keinginan untuk terus belajar menjadi sumber dari lahirnya gagasan-gagasan yang jauh melampaui zaman. Melalui pengetahuan, Kartini mulai mempertanyakan posisi perempuan dalam masyarakat serta ketidaksetaraan yang selama ini dianggap lazim sehingga keberaniannya dalam mempertanyakan tradisi menjadi sebuah tindakan yang luar biasa.

Konflik terbesar dalam film ini muncul ketika kesempatan Kartini untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda akhirnya tidak dapat terwujud. Tawaran beasiswa datang saat Kartini harus menjalani pernikahan dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat. Sebuah ironi yang menyakitkan, ketika kesempatan untuk memperluas wawasan terbuka, keadaan justru memaksanya untuk merelakan peluang emas tersebut. Namun, perjuangan Kartini bukan sekadar ambisi pribadi. Dalam keterbatasan yang ada, ia tetap berupaya memperjuangkan pendidikan bagi perempuan dengan mendirikan sekolah dan menyebarkan gagasan tentang pentingnya menempa ilmu. Cuplikan saat Kartini berpamitan dengan ibunya menjelang pernikahan adalah momen paling menyentil hati dalam film ini. 

Penampilan Dian Sastrowardoyo sebagai Kartini menjadi salah satu kekuatan utama film ini. Karakter Kartini direpresentasikan sebagai perempuan yang cerdas, tegas, dan penuh keberanian, tetapi tetap manusiawi. Kartini bukan sekadar simbol perlawanan, melainkan sosok yang juga merasakan keraguan, kesedihan, dan harapan. Pada akhirnya, Kartini menghadirkan kisah tentang perjuangan seorang perempuan yang memilih berpikir bebas di tengah sistem sosial yang membatasi ruang kebebasannya. Melalui gagasan, keberanian, dan keteguhan sikapnya, dia telah menyalakan harapan bagi perempuan perempuan generasi selanjutnya untuk berani bermimpi dan memperjuangkan hak mereka.

Setiap 21 April, kisah Kartini selalu kembali diingat, bukan sekadar mengenang sosoknya sebagai pahlawan nasional, tetapi juga sebagai pengingat bahwa perjuangan untuk pendidikan, kesetaraan, dan kebebasan berpikir masih terus berlangsung. Kartini menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari keberanian untuk mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap sebagai takdir. Semangat Kartini tidak berhenti pada zaman itu. Dirinya hidup dalam setiap perempuan yang berani belajar, berani berbicara, dan berani menentukan jalan hidupnya sendiri. Sebab, seperti yang pernah diyakini Kartini, tubuh manusia mungkin akan hancur dimakan waktu, tetapi, pikiran akan tetap abadi dan tidak terbatas.


Penulis: Elsa Nia Mar’atun Khusna

Editor: Salwa Nurlatifah


Posting Komentar untuk "Review Film Kartini (2017): Bayang Tradisi dalam Pikiran Kartini"