UKM/HMJ di FISIP Kian Sepi Peminat: Kesibukan atau Perubahan Pola Pikir Mahasiswa?
![]() |
| Cahunsoedcom/Kayla Syafira |
Organisasi kemahasiswaan selama ini dikenal sebagai wadah yang mampu membentuk karakter, kepemimpinan, serta kemampuan sosial mahasiswa. Namun, keadaan di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Minat mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) terhadap Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) kian menurun. Kondisi ini kemudian menimbulkan pertanyaan, apakah hal ini semata-mata disebabkan oleh kesibukan akademik, atau justru karena mahasiswa mulai mempertanyakan kembali relevansi organisasi lingkup fakultas dengan perkuliahan mereka?
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa beberapa UKM dan HMJ di lingkup FISIP mulai ditinggalkan peminatnya. Berdasarkan pengalaman penulis, tidak sedikit pengurus yang mengeluhkan menurunnya partisipasi mahasiswa dalam berorganisasi. Berbagai upaya sudah dilakukan, mulai dari sosialisasi hingga open recruitment dengan penyebaran informasi yang lebih masif. Namun, hasilnya belum maksimal. Kondisi ini tentu berdampak pada melemahnya dinamika organisasi serta menurunnya partisipasi mahasiswa dalam kegiatan kampus.
Menurunnya minat mahasiswa barangkali dipengaruhi oleh faktor perubahan prioritas mahasiswa. Beberapa mahasiswa merasa bahwa mengikuti organisasi membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup besar. Mereka khawatir waktu dalam berorganisasi akan merenggut setengah hidupnya di perkuliahan.
Sebagian mahasiswa juga merasa ragu untuk bergabung karena organisasi sering dianggap terlalu mengikat serta bertele-tele dalam prosesnya. Hal ini membuat beberapa mahasiswa berpikir dua kali sebelum mendaftar, karena mereka tidak yakin dapat menjalankan tanggung jawab tersebut dalam waktu yang lama.
Faktor lain yang cukup berpengaruh adalah sistem penilaian kredit poin keaktifan di FISIP. Keterlibatan mahasiswa dalam UKM/HMJ memang menyumbang poin, namun, bobotnya sering dianggap tidak sebanding dengan usaha dan waktu yang dikeluarkan. . Akibatnya, mahasiswa lebih memilih kegiatan lain yang dinilai lebih cepat atau lebih banyak memberikan poin.
Disisi lain, sistem internal organisasi juga turut memengaruhi minat mahasiswa. Kegiatan seperti rapat yang berbelit-belit hingga larut malam yang memakan waktu sering dianggap melelahkan dan kurang efektif. Di lingkungan FISIP sendiri, kualitas organisasi seringkali diukur dari seberapa besar pengorbanan waktu dan tenaga yang diberikan anggotanya. Akibatnya, budaya pulang malam, diskusi berjam-jam, dan aktivitas organisasi yang padat perlahan dianggap sebagai hal yang wajar. Kondisi ini membuat sebagian mahasiswa merasa kurang nyaman untuk terlibat lebih jauh karena organisasi tidak lagi dipandang sebagai wadah untuk menambah pengalaman dan relasi, melainkan sebagai aktivitas yang banyak menyita waktu dan tenaga di tengah tuntutan akademik yang juga semakin padat.
Oleh karena itu, organisasi mahasiswa perlu mulai berbenah. Menurunnya minat terhadap UKM/HMJ tidak cukup diatasi hanya dengan sosialisasi, open recruitment, dan penyebaran informasi yang lebih masif. Organisasi juga perlu melakukan perubahan pada sistem dan budaya yang selama ini dianggap terlalu menguras waktu dan tenaga, sehingga mahasiswa tidak lagi merasa bahwa berorganisasi harus mengorbankan banyak hal di luar aktivitas akademik.
Pada akhirnya, turunnya minat terhadap UKM/HMJ bukan hanya soal kesibukan. Lebih dari itu, fenomena ini juga menunjukkan adanya perubahan cara berpikir dan prioritas mahasiswa saat ini, terutama dalam melihat budaya organisasi yang dianggap terlalu menyita waktu dan tenaga. Maka dari itu, perlu ada upaya bersama antara organisasi dan pihak kampus untuk mengevaluasi sistem serta budaya yang selama ini dipertahankan agar dapat kembali menghidupkan semangat berorganisasi di lingkungan FISIP Unsoed.
Penulis: Corrina Anindya
Editor: Salwa Nurlatifah

Posting Komentar untuk "UKM/HMJ di FISIP Kian Sepi Peminat: Kesibukan atau Perubahan Pola Pikir Mahasiswa? "