Berbincang Ganja, Negara dan Absurditasnya

Oleh: Nadia Halim Prasetyaningtyas*

Di era negara modern dengan segala hukum yang selalu diproduksi, ganja dikonstruksi sebagai barang haram yang merusak. Meskipun bila menilik ganja secara objektif, tanaman satu ini memiliki riwayat farmakologis yang panjang. Manuskrip pengobatan herbal kuno selalu mengidentifikasi ganja sebagai tanaman obat yang luar biasa, terutama sebagai anti-nyeri dan stimulus syaraf otak biar tenang.

Momok ganja sebagai candu yang merusak tubuh, yang digulirkan melalui Undang-Undang menjadi representasi model kekuasaan gaya baru, sebagaimana yang disampaikan oleh Michel Foucault. Bahwa kekuasaan di era modern telah meninggalkan bentuk primitifnya (sebagai cerita seputar lembaga formal yang kaku). Bahwa kekuasaan di era modern penuh dengan upaya pembenaran melalui konstruksi wacana (discourse) yang dianggap sebagai kebenaran oleh masyarakat.

Itulah mengapa kata Foucault ada hubungan antara kekuasaan dengan pengetahuan. Negara punya kekuasaan membuat undang-undang tentang narkoba. Meski pasal ganja masih dianggap terlalu dangkal uraiannya, tetap saja dianggap sebagai kebenaran dan rujukan hukum untuk menjerat para produsen dan konsumen ganja.

Jika ganja legal, apa yang terjadi? Itulah pertanyaan mendasar yang akan jadi rumusan masalah dalam artikel ini. Saya menulisnya karena merasa gelisah, merasa perlu menulis ini. Saya termasuk orang yang memandang positif ganja untuk diteliti secara serius.

Tidak perlu berbasa-basi, mahasiswa pasti tahu apa itu ganja, kan? Ganja adalah nama tanaman yang dianggap narkotika karena bila dikonsumsi memicu euforia. Ganja dikenal pula dengan nama Cannabis atau Marijuana.

Ganja asal Indonesia terkenal memiliki cita rasa yang khas, perpaduan timur dan barat. Ganja lekat dengan kultur masyarakat tempo dulu, karena dijadikan kudapan sehari-hari sebagai sayuran, serta kerap disajikan pada acara-acara kerajaan sebagai hidangan istimewa bagi tamu.

Mengapa ganja istimewa di masa lalu? Karena bisa memicu perasaan bahagia bagi yang mengonsumsi. Mengapa ganja istimewa bagi sebagian masyarakat era sekarang? Alasannya masih sama, karena bisa memicu perasaan bahagia

Jika rakyat bisa bahagia karena  ganja. Mengapa negara justru melabeli ganja dengan julukan narkotika? Tentu saja karena negara punya kepentingan memerangi narkoba. Negara sedang mencoba menerapkan aturan hidup bagi rakyatnya.

Ganja dianggap musuh karena membuat rakyat lupa diri, lengah, dan cenderung malas. Maunya senang-senang saja. Bayangkan bila seluruh pemuda bangsa Indonesia hobi menyulut ganja? Bisa-bisa Indonesia menjadi "Kelab Malam", isinya orang-orang ketawa, dengan pikiran kosong, imajinasi nyeleneh, dan sambil jalan pincang sempoyongan. Sampai-sampai diperangi negara lain secara militer malah anggap bom atom sebagai teriakan vokalis band metal kelas dunia.

Ya... Itu intermezzo saja... Memang benar kok, menjadi pecandu narkoba itu tidak bakal bisa hidup normal. Saya sendiri punya kenalan yang sudah langganan keluar masuk penjara gara-gara narkoba. Dia  hidupnya jarang menapak realitas, seringnya euforia di padang rumput imajiner, bagai mayat hidup. Tapi ya efek zombie itu tidak jelas dari narkoba jenis apa, ganja atau  bukan, soalnya dia punya riwayat kasus yang kompleks, tidak hanya ganja.

Nah…! Persoalan efek ganja inilah yang sudah beberapa tahun belakangan menuai kontroversi. Apakah ganja benar-benar memicu candu? Dan lambat-laun merusak mental serta fisik manusia? Jika demikian, mengapa popularitas ganja sebagai obat herbal sudah terjadi sejak zaman peradaban kuno? Dan mengapa ganja sering dipakai sebagai simbol kreativitas dalam bermusik? Mengapa ganja yang dimitoskan merusak itu, di sisi lain dianggap sebagai makanan surga?

Adalah Lingkar Ganja Nusantara (LGN), sebuah organisasi yang mendukung legalisasi ganja untuk bidang farmasi. Mereka bersikukuh  mengembalikan ganja pada kodratnya sebagai tanaman obat. Mereka tidak terima ganja yang sangat berkhasiat, lenyap begitu saja dari muka bumi karena labelling narkotika, tanpa proses penelitian ilmiah mendalam, namun hanya pembenaran yang terburu-buru.

Ketika menanam dan menyimpan ganja dilarang negara dan diancam penjara, maka sudah dapat dibayangkan susahnya melakukan riset ganja. Oleh karena itu LGN gencar melakukan kampanye agar pemerintah mendukung riset ganja dengan memberikan ijin. Tentu saja kampanye itu pada akhirnya membuahkan hasil, LGN berhak meneliti ganja dengan dukungan dari Kementerian Kesehatan.

Isu legalisasi ganja untuk bidang farmasi bukan hanya menjadi isu nasional, melainkan sebenarnya adalah isu internasional yang merembes ke skala nasional. Berbagai trik dilontarkan untuk membentuk common sense bahwa pada dosis penggunaan tertentu ganja tidaklah buruk. Ganja didengung-dengungkan pula sebagai obat kanker. Bila ganja terbukti mengobati kanker, konon harga jual obatnya tidak akan semahal obat sintetis yang selangit karena permainan mekanisme pasar.

Jika sudah begini, sebenarnya siapa yang benar? Ganja itu baik atau buruk? Ganja itu racun atau obat? Inilah tantangan IPTEK. Inilah tantangan para mahasiswa dan sarjana farmasi. Inilah tantangan ilmuwan biologi, agroteknologi, kedokteran. Mereka harus mampu menganalisis, memetakan, menguraikan dengan ilmiah kandungan zat dan dosis pemakaian ganja.

Jika sudah dibuat laporan ilmiahnya, tentu saja negara tidak boleh terus-menerus "ngeyel melabel buruk ganja". Tapi dalam benak saya, bila kitab ganja hasil penelitian ilmiah itu telah hadir, belum tentu pemerintah akan mau membuat regulasi dalam produksi dan distribusinya. Biaya sistem informasinya pasti mahal. Biaya pengawasannya mahal. Belum lagi kemungkinan teror Marijuana Culture, melegalkan dalam bidang farmasi, malah merembes ke budaya populer. Itu bisa saja terjadi karena negara dan masyarakat Indonesia belum siap menerima sisi positifnya ganja.

Sungguh persoalan ganja ini sangat absurd. Tanaman ini terlanjur dijadikan diskursus nihilisme fatalis yang kental dengan oposisi biner, baik dan buruk. Terlalu rumit pengelolaannya bila sampai dilegalkan. Banyak bentrok kepentingan pula. Bila negara mengambil-alih hak tenurial atas ladang ganja, maka black market ganja akan mati gaya. Bila negara memproduksi obat dari ganja, lawannya jelas industri obat-obatan yang telah dipatenkan.

Ini sungguh sangat rumit. Padahal baru satu tanaman bernama ganja. Padahal jika menilik ke alam planet bumi ini, ada begitu banyak tanaman lain yang mengandung zat halusinogen. Mahasiswa Unsoed mungkin perlu sesekali mengamati taman depan UPT Perpustakaan pusat. Dekat undak-undakkan tangga ada tanaman yang belum dicap narkotika tapi efeknya serupa.

Saya pernah dengar di daerah Piasa, Banyumas, para pekerja tambang pasir menggunakan bunga, buah, atau daun dari tanaman ini sebagai obat kuat. Saya tidak perlu menyebut nama tanaman ini, karena takut dikira memprovokasi. Yang jelas mabuk tanaman ini sebagaimana mabuk ganja, lekat dengan kultur masyarakat. Malah menurut saya, tanaman berbunga cantik ini terkesan lebih keras efeknya, membuat orang menjadi skizofrenia berhari-hari.

*Mahasiswa Ilmu Politik Unsoed 2012

Dianggap Komunis, Pemutaran Film di FFP 2016 Dihentikan

Aliansi Pemuda Cinta Pancasila Purbalingga, diwakili Heri W.
menyatakan penolakan atas pemutaran Film Pulau Buru,Tanah Air Beta.
Foto: Candra Darmawan
Purbalingga – Cahunsoed.com, Sabtu (28/5), Pemutaran film di Festival Film Purbalingga 2016 dihentikan karena dianggap membawa pengaruh PKI, pada Jum’at (27/5) siang. Pemutaran dihentikan oleh pihak kepolisian karena desakan ormas yang tidak setuju dengan film berjudul “Pulau Buru Tanah Air Beta” karya Rahung Nasution. Film yang bernuansa sejarah ‘65 ini dianggap membawa paham komunisme ke masyarakat Purbalingga. Salah satu anggota ormas, Heri W. tidak setuju dengan pengangkatan isu komunisme. “Kami tidak setuju dengan film yang mengangkat isu komunis dan mengatakan bahwa komunisme itu benar,” katanya.

Dia juga mengatakan, mendukung para pelajar untuk membuat karya dalam bentuk film, namun tidak perlu mengangkat paham komunisme. “Pelajar boleh saja membuat film mengenai sejarah, tetapi yang sesuai dengan Pancasila dan NKRI” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Program Festival Film Purbalingga, Dimas Jayasrana, memaparkan alasan diputarnya Film Pulau Buru karena ingin mengapresiasi karya sejarah. “Padahal ini bagus, film karya anak lokal tentang sejarah,” katanya.

Direktur Festival Film Purbalingga 2016, Bowo Leksono mengatakan walaupun ada penghentian, namun akan terus berusaha memutar Film Pulau Buru di lain kesempatan. “Karena mengapresiasi sebuah film adalah sebuah kebebasan” ujarnya.

Bowo menambahkan dalam pemutaran film juga dibuka ruang diskusi yang seharusnya digunakan untuk saling bertukar pikiran antara penonton dan pembuat serta pemutar film.
Dua film bernuansa ’65 lainya karya pelajar yang tetap diputar yakni “Kami Hanya Menjalankan Perintah Jendral” karya Ilman Nafa’i dan “Izinkan Aku Menikahinya” karya Raeza Raenaldy Sutrimo.

Tak Hanya Pulau Buru, Film Ilman pun Sempat Dicurigai PKI
Sutradara Film Kami Hanya Menjalani Perintah Jendral,
Ilman Nafa'i (Tengah) dan Izinkan Aku Menikahinya, Raeza
Raenaldy Sutrimo (Kanan),  menjelaskan mengenai film mereka.
Foto: Candra Darmawan
Seperti Film Pulau Buru, film dokumenter berjudul  “Kami Hanya Menjalankan Perintah Jendral” yang disutradarai oleh Ilman Nafa’i pun pernah dicurigai PKI. Alhasil ia pernah didatangi Kodim disekolahnya. “Padahal aku cuma ingin bikin film tentang sejarah, nggak ngerti-ngerti banget soal PKI-PKIan.” jelas Ilman.

Pihak sekolah pun memberikan respon negaif dengan menolak proposal yang diajukan oleh Ilman untuk pembuatan film. “Pihak sekolah menolak proposal saya katanya filmnya ‘sensitif’, jadi saya bergabung bersama CLC,” jelas Ilman.

Direktur Program Festival Film Purbalingga, Dimas Jayasrana, dalam konferensi pers pun berharap jika anak muda yang membuat film berisi kritikan terhadap pemerintah, tidak mendapatkan intimidasi. Alasanya, masyarakat berhak untuk berpendapat termasuk para pemuda melalui filmnya. “Toh kritikan yang diberikan untuk kebaikan bersama,” katanya. (Muhammad Rijal/ Fita Nofiana)


Ed: Triana Widyawati/ Riska Yulyana D

Dekanat Ingin Fungsi Tatib Dihilangkan

Purwokerto – Cahunsoed.com, Jumat (27/5), Pertemuan panitia ospek bersama dekanat yang membahas mengenai kegiatan ospek menginginkan fungsi tatib dihilangkan. Hal ini berdasarkan evaluasi ospek tahun lalu yang diterima fakultas terkait banyaknya keluhan mengenai divisi tatib. Seperti yang disampaikan Wakil Dekan I Bidang Akademik Joko Santoso. “Kalo fungsinya untuk mendisiplinkan mahasiswa baru, tidak perlu dengan cara membentak-bentak,” katanya.
Menurut Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Ahmad Sabiq, masih adanya model militer di dalam ospek seperti pengondisian justru yang seharusnya perlu dikikis. “Tidak perlu ada model-model pengondisian seperti militer,” katanya.
Presiden BEM FISIP Azzy D’vastya Kesuma mengatakan terkait penghilangan fungsi tatib oleh fakultas, hal ini merupakan upaya untuk penghilangan kekerasan verbal di ospek. Namun dia menambahkan pelaksanaan ospek lebih cocok diadakan oleh mahasiswa. “Ini merupakan sebuah kritik dan dari mahasiswa juga memperbaiki diri,” kata Azzy.
Menanggapi pernyataan tersebut, koordinator divisi tatib Azmi Zimaryanto mengatakan bahwa cara yang digunakan untuk mendisiplinkan mahasiswa baru melalui divisi tatib sudah tepat sehingga tidak perlu dihilangkan. “Tatib ngga akan bentak-bentak tanpa ada penyebabnya, kecuali kalo ada peserta yang melanggar tata tertib dan tidak bisa dikondisikan,” kata Azmi.
Joko Santoso juga menambahkan jika fungsi tatib masih dipertahankan, maka fakultas akan langsung mengambilalih ospek. “Kalo kalian ngga mau merubah, lebih baik kepanitiaan diambil alih dekanat,” kata Wadek I Joko Santoso. (Triana WidyawatiMG-Ivana Aristantia)
Ed: Muhammad Rijal

Dekanat FISIP Janjikan Ospek Dipegang Mahasiswa

Foto: MG-Ivana Aristantia
Purwokerto – Cahunsoed.com Jumat (27/5), Wakil Dekan I Bidang Akademik FISIP Joko Santoso, menjanjikan ospek tetap dipegang mahasiswa. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat panitia ospek bersama dekanat. “Ospek tetap dipegang mahasiswa, sebagai bentuk kerjasama fakultas dengan mahasiswa,” kata Joko Santoso di Ruang Rapat Dekanat Kamis (26/5) siang.
Joko juga menambahkan, agar hasil evaluasi ospek dari tahun sebelumnya dijalankan. Terutama mengenai pengenalan kampus agar lebih perbanyak dari sisi edukasi. “Perbanyak sisi edukasinya, seperti kegiatan mahasiswa dan akses ke perpustakaan,” tambahnya.
Kesepakatan mengenai ospek ini, berawal dari kekhawatiran mahasiswa karena adanya pengambilalihan kepanitiaan ospek oleh dekanat di beberapa fakultas di Unsoed seperti yang terjadi tahun lalu. Ketua Panitia Ospek FISIP, Aris Ramdhani, menanggapi janji pihak fakultas yang ingin bersinergi dengan mahasiswa. Aris mengatakan dari kepanitian akan menjaga dan mengawasi janji ini tetap terpenuhi. “Panitia bakal mengawasi janji dari dekanat“ katanya.  
Aris menambahkan, salah satu tujuan Ospek dipanitiai oleh mahasiwa karena selain agar mahsiswa bisa memberikan edukatif tentang fakultas namun juga memberikan pengenalan kampus dengan melakukan pendekatan kepada  mahsiswa baru.
Kepanitiaan Ospek FISIP atau yang dikenal dengan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB), telah membahas nilai-nilai yang akan dibawa pada ospek tahun ini. Aris pun berharap agar kepanitiaan ospek ini bisa mewujudkan mahasiswa baru yang lebih kritis. “Semoga mahasiswa baru nantinya biar lebih kritis,” katanya. (Muhammad Rijal/ MG-Ivana Aristantia)

Ed: Triana Widyawati/ Riska Yulyana

Laboratorium Komunikasi Dijanjikan Kembali Berfungsi

sumber: MG-Galang 
Purwokerto – Cahunsoed.com, Rabu (18/5) Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM) melakukan audiensi dengan ketua lab komunikasi dan kepala jurusan pada Selasa, (17/5). Hal ini sebagai respon cepat untuk menjawab keresahan-keresahan para mahasiswa Ilmu Komunikasi mengenai kejelasan akan kegunaan dari laboraturium komunikasi selama ini. Mahasiswa merasa keberadaan lab tidak memiliki fungsi yang maksimal dalam menunjang mata kuliah mahasiswa. Audiensi dihadiri Kepala Laboratorium Komunikasi, Edi Santoso dan Kepala Jurusan Ilmu Komunikasi, Agoeng Nugroho. Kajur Ilmu Komunikasi ini membenarkan pendapat mahasiswa terkait tidak maksimalnya fungsi lab komunikasi  sebagaimana seharusnya. “Lebih baik peralatan laboratorium rusak karena sering digunakan, daripada rusak karena lapuk lantaran tidak pernah digunakan seperti selama ini,” katanya dalam forum audiensi.
Dalam audiensi, Edi selaku kepala laboratuium berjanji bahwa laboraturium komunikasi mulai seminggu kedepan sudah bisa digunakan.  “Tinggal sedikit beres-beres dan sedikit pengaturan dan juga pengecekan, alat-alat dan bantuan tenaga ahli juga sudah disiapkan,” katanya. Ia juga mengeluhkan adanya barang-barang yang sudah rusak karena lama tidak digunakan. Selain itu, kegiatan laboratorium juga masih harus dilakukan di ruangan lama, yang dirasa kurang layak. Edi juga mengatakan jika sudah ada permintaan dari pihaknya untuk ruangan baru, “Kita masih menunggu adanya renovasi untuk menyiapkan ruangan baru tersebut,” katanya.
Dalam audiensi Edi mengeluhkan kecilnya anggaran terhadap pengadaan dan perawatan maupun untuk operasional berjalanya kegiatan laboratorium. “Jurusan Ilmu Komunikasi di beratkan UKT yang paling tinggi, tapi kenapa dana untuk praktikum saja tidak selalu ada,” ujarnya. Selain itu pengadaan fasilitas di laboratutium tersebut sering kali salah sasaran dan melenceng dari apa yang dibutuhkan oleh mahasiswa, sehingga banyak pula yang terbengkalai dan akhirnya rusak. Atas kejadian ini, Edi mengharapkan peran dari mahasiswa untuk masuk ke dalam pengurus harian dalam menjalankan fungsi laboratorium agar dapat berjalan, dan membantu mengawal pemenuhan kebutuhan lab.
Menurut Salsabila Ainurrohman, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi 2013, mengaku selama ini belum pernah merasakan fasilitas laboratorium untuk kegiatan praktikum. Beberapa kali mengambil matakuliah praktikum, Salsabila tidak pernah diarahkan untuk menggunakan fasilitas lab. Hal ini membuat mahasiswa Ilmu Komunikasi tidak merasakan adanya manfaat dari keberadaan lab komunikasi tersebut.
Selain itu, ia berharap kedepannya angkatan dibawahnya sudah bisa menggunakan fasilitas dari laboraturium tersebut untuk kegiatan praktikum. “Ya meskipun alatnya terbatas, tapi kan seenggaknya kita punya, dan tentu harus dimanfaatkan, ngga cuma dibiarkan terus rusak,” ujarnya saat diwawancarai. Ia sangat menyayangkan laboratorium yang selama ini tidak pernah terlihat peran serta fungsinya. Caca juga berharap laboraturium kedepanya dapat memfalitasi sarana dan prasarana kegiatan perkuliahan. (MG-Galang Kris Nanda/ Triana Widyawati)

Ed: Fahri Abdillah

Mahasiswa Komunikasi Pertanyakan Fungsi Laboratorium

Laboratorium Ilmu Komunikasi FISIP Unsoed. (Foto: Candra)
Purwokerto – Cahunsoed.com, Selasa (17/5), Mahasiswa Ilmu Komunikasi yang mengikuti mata kuliah praktikum, tak pernah menggunakan peralatan dari laboratorium komunikasi. Kebanyakan dari mata kuliah yang seharusnya menggunakan peralatan praktek, justru tidak terfasilitasi dengan adanya laboratorium komunikasi. Hal ini membuat Mahasiswa Ilmu Komunikasi mempertanyakan fungsi laboratorium komunikasi.

Salah satu mahasiswa yang mengeluhkan tak adanya praktikum di laboratorium yakni Deviani Puspitasari. Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2013 ini, tidak merasakan keberadaan labkom sebagai tempat praktikum mahasiswa ilmu komunikasi. “Dari dulu praktikum ngga pernah pake alat labkom, ke labkom cuma buat pengganti ruangan,” katanya.

Meski di ruangan labkom terdapat laboratorium produksi siaran tv, radio, dan fotografi, namun untuk mata kuliah praktikum tidak pernah menggunakan ruangan tersebut, baik untuk tempat praktek maupun menggunakan peralatan di dalamnya. Seperti yang disampaikan Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2014 Jaka Budiman. Memakai ruangan labkom justru dikarenakan ruang kelas yang lain penuh atau sebagai ruangan untuk jadwal pengganti. “Labkom malah dipake buat jadwal pengganti atau karena kelasnya penuh, tapi yang jelas praktikum kita selalu di luar ruangan dan pake alat sendiri,” kata Jaka.

Keluhan mahasiswa Ilmu Komunikasi ini, mendapat tanggapan dari Kepala Laboratorium. Menurut Edi Santoso, hal ini dikarenakan tidak adanya mahasiswa yang memanfaatkan peralatan labkom. “Labkom bisa bermanfaat kan kalo ada mahasiswa yang pake alat-alatnya, tapi kami memang baru menata kekurangan alat, termasuk usulan peralatan radio juga sedang kami usahakan,” katanya. (TRIANA WIDYAWATI)

Ed: Fahri Abdillah

Pameran Foto 1980's Refleksi

Pengunjung sedang mengamati pameran 1980
Foto by: Candra Darmawan
Purwokerto – Cahunsoed.com, Kamis (12/5). UKM fotografi FISIP, Refleksi, mengadakan pameran dengan mengangkat tema vintage yang berjudul 1980. Mengangkat tema vintage merupakan tantangan tersendiri bagi Refleksi, selain unik, juga memiliki nilai tersendiri ketika di tampilkan ke publik. “Alasannya karena ambil foto vintage terdapat kesulitannya sendiri. Judulnya 1980 karena 1980 simple, tapi memiliki makna dan menunjukkan kesan jaman dahulu.” ujar ketua panitia, Faisal Al Ihsan, mahasiswa Hubungan Internasional 2015.

Pameran ini diadakan selama 3 hari, mulai tanggal 9 hingga 11 Mei 2016. Adapun pameran diadakan dari pukul 09.00 WIB hingga 15.00 WIB. Pameran yang dibuka untuk umum ini terlihat berbeda dengan pameran-pameran sebelumnya. Pada lokasi pameran 1980, terdapat sepeda onthel dan juga motor vespa, “Agar menambah kesan vintage, dan pengunjung semakin tertarik,” kata Faisal.

Panitia sedang menceritakan dibalik foto vintage
Foto by: Candra Darmawan
Selain bertujun untuk mengangkat kembali moment-moment jaman dahulu, pameran ini juga untuk menunjukkan hasil dari pembelajaran calon anggota. “Jadi setiap calon anggota yang mau masuk refleksi harus adain pameran. Hampir setahun calon anggota diksar. Di diksar mereka diberi materi tentang fotografi kaya lighting dan fokus, jadi belajar dasar-dasarnya dulu. Setelah belajar dasar-dasarnya, baru ada hunting,” kata Athifah Septiani, ketua UKM Refleksi.

Salah satu pengunjung pameran 1980, menganggap pameran tersebut sangat kreatif dan merasa terkesan dengan konsep yang diangkat. “Refleksi kreatif dan inovatif, karena tema yang diangkat unik, selain itu dengan karya yang dipamerkan, orang yang membuat karya merasa mendapat apresiasi,” kata Eka dipta, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi 2015. (Cheria Syafali, Inadha Rahma Nidya)



Ed: Fahri Abdillah

Mahasiswa Biologi Tolak Kenaikan UKT 2016

Mural buatan mahasiswa Biologi menggambarkan kenaikan
biaya kuliah yang menyulitkan mahasiswa, Foto by: Triana W
Purwokerto – Cahunsoed.com, Rabu (11/05), Terdapat sebuah mural pada dinding sekre bersama UKM Biologi Unsoed. Mural tersebut bertuliskan “#BIOLOGIBERGERAK #MENOLAKMAHAL” dengan gambar “seorang calon peraih gelar S.Si  yang diikat lehernya dengan uang oleh pimpinan fakultas biologi”. Hal ini merupakan bentuk ekspresi dan respon dari mahasiswa yang menolak naiknya ukt 2016. Mereka merasa jika naiknya biaya UKT akan semakin memberatkan mahasiswa.

Karya seni buatan mahasiswa ini sontak mendapat respon dari berbagai pihak. Salah satunya Ganjar Cahyo A, mahasiswa aktif Fakultas Biologi ini mendukung bentuk protes mahasiswa yang dilakukan melaui mural. Menurutnya, melonjaknya biaya kuliah akan berdampak besar pada terbatasnya akses pendidikan tinggi bagi masyarakat yang secara ekonomi, rendah.

Melihat isu yang beredar mengenai naiknya ukt. Kita melihat keadaan perekonomian mahasiswa di Fak. Biologi sendiri yang notabene mayoritas memilikin kemampuan ekonomi rendah, membuat mereka termasuk saya keberatan apabila nominal UKT dinaikkan,

Ia juga menambahkan kenaikan ukt tersebut tidak dilakukan secara transparan dan tidak ada sosialisasi sebelumnya dari pihak fakultas. Dia juga berharap semua pihak untuk  lebih pro aktif dalam mengkaji perihal UKT, Kajian ini berguna saat UKT bermasalah tidak bingung untuk bersikap dan tidak dimanfaatkan oleh pihak lain,”  katanya.

Dukungan juga datang dari Mahasiswa Prodi Biologi angkatan 2014, Karnia Rosmiati dia mengatakan mendukung adanya bentuk kritikan seperti itu. “Biaya kuliah di Biologi Unsoed itu seharusnya tidak mahal dan tidak memberatkan  mahasiswa. Di tambah lagi tidak ada transparansi dari pihak fakultas sehingga menciptakan informasi UKT di Biologi simpang siur,” ujarnya.

Terkait hal tersebut, pihak BEM Fakultas Biologi juga mendukung bentuk protes terhadap kenaikan UKT 2016. Selain itu, BEM juga ingin bertemu dengan pihak pembuat mural. “Hal ini agar dapat ditemukanya jalan tengah dalam penyelesaian masalah mahalnya biaya kuliah dan naiknya UKT ini, sehingga maksud dari mural tersebut bisa tersampaikan ke fakultas.” Ujar Rizkinta Widiasti selaku wakil presiden BEM Biologi.

Tindak lanjut dari permasalahan ini, Rizkinta juga menambahkan bahwa Minggu ini,  pihak BEM akan mengadakan audiensi dengan pihak Dekanat mengenai UKT yang akan dihadiri oleh seluruh mahasiswa Fakultas Biologi. Tujuan dari audiensi ini adalah transparansi dan sosialisasi mengenai UKT Fakultas Biologi serta Sosialisasi bagaimana cara mengajukan penyesuaian UKT. Audiensi ini dilakukan karena audiensi sebelumnya dianggap masih belum representatif

Terkait dengan permasalahan ini pihak dekanat enggan memberikan tanggapan. Wakil dekan III, Agus Nuryanto melalui staf administrasi menolak memberikan tanggapan dengan dalih “sudah pernah” padahal ini mengenai mural yang munculnya belum seminggu. (MG/FAUZI AKMAL DHIATAMA, MG/ANGGARA DWI USMAN MAULANA)



Ed: Fahri Abdillah, Muhammad Rijal

Pemilihan Ketua PKK FISIP 2016 Diulang

Purwokerto – Cahunsoed.com, Rabu (11/05), Melalui forum klarifikasi yang diadakan oleh BEM FISIP pada Senin, (9/5), UKM/HMJ beserta DLM menganggap keputusan BEM FISIP memilih ketua PKK melalui rapat internal BEM, tidak sah. Perwakilan mahasiswa yang hadir mengkritisi langkah yang diambil BEM tersebut.

 "Yang menjadi perdebatan bukan karena siapa ketuanya, melainkan mekanismenya. Disini BEM tidak melibatkan Badan Kelengkapan Organisasi dalam pemilihan ketua, mengacu pada AD/ART BAB 4 yang mewajibkan adanya rapat BKO untuk menyikapi segala hal yang dianggap darurat, atau setidaknya koordinasi terlebih dahulu," kata Gugun Wardiono, perwakilan Himpunan Mahasiswa Politik.

Berdasarkan saran dan aspirasi UKM/HMJ dan DLM yang hadir, Wakil Presiden BEM FISIP, Muhammad Surya Abadi memutuskan untuk mengulang kembali pemilihan ketua PKK FISIP. “Kalo temen-temen memang menganggap keputusan ini tidak sah kami siap untuk melakukan pemilihan ulang” ujar Surya saat berlangsungnya forum. Keputusan tersebut disepakati oleh seluruh peserta forum.

Terkait hal tersebut, ketua PKK terpilih sebelumnya, Adita Widya Pangestika mengaku sama sekali tidak keberatan jika harus dilakukan pemilihan ulang ketua PKK FISIP 2016. “Yang terpenting bagi saya, kita sama-sama bekerja baik dan konsisten dalam kepanitian PKK FISIP. Saya pribadi menginginkan adanya perbaikan dalam metode Ospek tahun ini,” kata Adita saat forum yang diadakan di sekretariat BEM FISIP Unsoed.

Pemilihan ketua PKK FISIP 2016 dilakukan setelah peserta forum menyepakati pemilihan sebelumnya tidak sah. Melalui musyawarah, Aris Ramdhani terpilih menjadi ketua PKK FISIP 2016. 
(MG/Nabilah Agil)


Ed: Fahri Abdillah

BEM FISIP Tidak Terima Dianggap Sepihak

OA Line BEM FISIP
menanggapi pemberitaan cahunsoed.com

Purwokerto – Cahunsoed.com, Sabtu, (7/5), BEM FISIP Unsoed, keberatan dengan pemberitaan Cahunsoed.com, dengan judul “BEM FISIP Pilih Ketua PKK Sepihak” pada Jumat (6/5). Menurut Presiden BEM FISIP, Azzy D’vyastia Kesuma, keputusan tersebut bukanlah keputusan sepihak melainkan keputusan bersama. Saat dimintai alasan keberatan pemberitaan, Azzy tidak mau berkomentar banyak. “Lihat saja di postingan Line BEM FISIP,” katanya.

Dalam rilis postingan Official Account Line BEM FISIP Unsoed, disebutkan tiga poin mengenai pernyataan sikap BEM terhadap pemberitaan. Ketiga poin tersebut: Pembentukan panitia adalah kewenangan BEM berdasarkan rapat koordinasi UKM/HMJ, tentang term ‘sepihak’ yang dilontarkan Cahunsoed.com padahal BEM sudah menginisiasi forum terbuka sebanyak tiga kali, pengambilan keputusan sudah sesuai AD/ART karena berdasarkan rapat internal BEM. 

Keputusan BEM memunculkan respon dari berbagai pihak. Salah satunya Heru Fadhil Utomo, Ketua UKM Bola FISIP. Heru menyayangkan sikap BEM yang memutuskan untuk memilih ketua hanya melalui rapat internal BEM. Ia pun tidak sepakat dengan sikap BEM yang menyebutkan bahwa keputusan tersebut bukanlah keputusan sepihak. “Jelas jika BEM memilihnya berdasarkan rapat internal BEM saja dan tanpa pemberitahuan apapun, berarti itu namanya sepihak,” katanya setelah dikonfirmasi melalui pesan singkat, Sabtu (7/5).

Menurut Heru, yang dinamakan rapat internal bukanlah internal BEM saja, namun bersama Badan Kelengkapan Organisasi (BKO) yakni UKM, HMJ dan DLM. “Seharusnya BEM mengumpulkan teman-teman UKM, HMJ beserta DLM sebagai badan kelengkapan organisasi untuk duduk bersama membicarakan persoalan pemilihan ketua ini,” katanya.

Ketua UKM Bola ini berharap diadakannya perkumpulan antara BEM dengan UKM, HMJ, DLM beserta ketua angkatan setiap jurusan untuk memilih kembali ketua PKK FISIP 2016. “Jika BEM kekeh tidak bisa diubah dengan alasan waktu yang semakin sempit, menurut saya pribadi, kejadian ini justru akan memperlambat kerja kepanitiaan PKK,” kata mahasiswa Jurusan Sosiologi angkatan 2013 ini.
(Alexander Agus Santosa/Fahri Abdillah)


Ed: Triana Widyawati

BEM FISIP Pilih Ketua PKK Sepihak


Pengumuman dan klarifikasi PKK FISIP
melalui official account BEM FISIP


Purwokerto – Cahunsoed.com, Jumat (6/5), Ketua PKK FISIP Unsoed 2016 telah ditetapkan, yakni Adita Widya Pangestika, Ilmu Komunikasi 2014. Tidak seperti biasanya, pemilihan ketua PKK FISIP Unsoed kali ini diputuskan berdasarkan rapat internal BEM FISIP Unsoed yang digelar di Sekre BEM FISIP Unsoed pada, Kamis (5/5) kemarin.

Presiden BEM FISIP Unsoed, Azzy D’vastya Kesuma menyatakan keputusan ini dilakukan setelah melalui berbagai pertimbangan. Seperti tiga kali rapat PKK FISIP yang tidak membuahkan hasil karena minimnya partisipasi mahasiswa, tenggat registrasi fisik pada 31 Mei 2016 yang sudah di depan mata, serta pertimbangan hari raya lebaran di tengah proses rapat PKK sehingga menurutnya, pemilihan ketua harus segera dilakukan. “Padahal kita sudah melakukan publikasi besar-besaran tapi hasilnya tetap nihil, maka dari itu kita (red: BEM FISIP) harus segera melakukan langkah taktis, ini bukan tirani ya,” kata mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional ini.

Keputusan sepihak ini menimbulkan pertanyaan dari berbagai kalangan mahasiswa FISIP. Mereka mempertanyakan kewenangan BEM dalam membuat keputusan pada kegiatan KBMF. Seperti yang dikatakan oleh Fradista Yulipradana, Mantan Ketua PKK FISIP 2015. Fradista mengaku kaget mendengar terpilihnya ketua PKK FISIP yang dilakukan oleh BEM. Menurutnya kegiatan PKK FISIP adalah kegiatan seluruh mahasiswa FISIP, segala keputusannya pun harus melibatkan berbagai elemen mahasiswa yang ada di FISIP.  “Ini seperti bukan FISIP. Kalau mekanismenya seperti ini berarti PKK FISIP sudah bukan milik seluruh mahasiswa FISIP lagi,” kata mahasiswa yang akrab dipanggil Adis ini.

Darmawan Hakim, Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (Himapol), menilai bila rapat sepi bukanlah menjadi alasan utama untuk mengubah metode, justru disitulah peran BEM untuk memantik mahasiswa agar berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang ada di FISIP.

Hal serupa diungkapkan oleh Dyah Weru Zaputri, Ketua Keluarga Besar Mahasiswa Sosiologi (KBMS). Menurutnya BEM saat ini terkesan berjalan sendiri dengan mengabaikan berbagai elemen mahasiswa yang ada di FISIP. “Jujur aku kaget mengenai informasi tersebut, kok bisa sih tanpa ada gembor-gembor sebelumnya. Kesannya kita sebagai warga FISIP, tapi kita bukan yang utama lagi di FISIP, ya salah satunya penetapan Ketua PKK tersebut,” ujar Dyah Weru selaku Ketua KBMS.

BEM Melanggar AD/ART
Anggaran Dasar KBMF

Rifaldi Syafitra, Koordinator DLM FISIP Unsoed, menyayangkan keluarnya keputusan tersebut. Hal ini dikarenakan BEM belum membicarakan penetapan ketua PKK ini dengan pihak DLM maupun KBMF. Menurutnya, meskipun hal itu keputusan internal BEM, minimal harus memberitahu terlebih dahulu. Akibatnya, banyak pihak yang bertanya-tanya  karena tidak mengetahui mekanisme yang digunakan. “Selain itu, dengan lahirnya keputusan tersebut, artinya BEM telah menyalahi aturan dalam AD/ART FISIP,” katanya.

Sedangkan,  absennya mahasiswa 2014 dalam rapat PKK sebelumnya pun diakui oleh Gugun. “Memang rapat kemarin sempat gagal karena minimnya partisipasi mahasiswa 2014. Tetapi menurut aku pribadi, inti permasalahannya bukan karena kurang massa tetapi karena kurang menggemanya PKK di FISIP. Itu adalah bukti bahwa BEM tidak bisa merangkul mahasiswa FISIP, terkait langkah penetapan Ketua PKK FISIP oleh internal BEM adalah langkah yang sangat salah,” kata Gugun Wardiono, mahasiswa Ilmu Politik 2014.

Ia pun berharap agar masalah ini segera diselesaikan. Jika permasalahan semakin berlarut, maka ditakutkan menurut Gugun akan berimbas pada panitia PKK secara keseluruhan. “Ini menjadi bukti bila FISIP sedang tidak baik-baik saja, saya berharap ke depan di forum selanjutnya seluruh elemen mahasiswa yang ada di FISIP bisa hadir untuk berpartisipasi dalam PKK dan menyelesaikan masalah ini bersama,” katanya.
(MG-Novia Sagita Dewi)


Ed: Alexander Agus Santosa/Triana Widyawati