OPINI: Penjara untuk Mahasiswa

OPINI: Penjara untuk Mahasiswa

Oleh : Ragil Chandra*

Penjara dan mahasiswa adalah dua kata yang sangat berbeda maknanya.  Penjara sangat identik dengan ruang sempit dan penuh dengan rajutan besi.  Bukan menjadi rahasia umum lagi apabila penjara merupakan tempat bagi orang-orang yang didakwa bersalah oleh hukum.  Oleh karena itu, penjara merupakan sebuah tempat isolasi yang diangap baik untuk menciptakan efek jera bagi para terdakwa.

Sedangkan mahasiswa identik dengan sosok terpelajar, muda, dan bergairah.  Gairah mahasiswa ini diangap sebagai gairah semangat kebebasan yang melekat pada kehidupan intelektualnya.  Hal ini dirasa wajar adanya, dapat dikatakan demikian karena label ini bisa melekat atas sejarah mahasiswa itu sendiri.  Sejarah yang mengatakan bagaimana mahasiswa menjadi salah satu aktor pada era reformasi.  Sejarah pernah pula mengatakan bahwa mahasiwa rela mengadaikan nyawanya untuk semangat kebebasan dari otoritarianisme orde baru.  Sejarah juga pernah menyebut ada mahasiswa rela membakar dirinya karna keputus asanya melihat kondisi Ibu Pertiwi.  Kumpulan sejarah-sejarah yang ada ini kemudian menjadi pelekat antara mahasiswa dan gairah pembebasan itu sendiri.

Apabila melihat kondisi kehidupan sosial saat ini, mungkin pembatasan makna antar mahasiswa dan penjara sudah kabur adanya.  Pengkaburan pembatasan ini dapat dilihat dalam dunia kampus yang menjadi lingkungan bagi mahasiswa itu sendiri.  Hal ini tidak berarti mereka (mahasiswa) menjadi terdakwa atau menghakimi kehidupan mahasiswa itu sendiri.  Namun hal ini dapat dilihat cerminan kampus yang menjadi penjara bagi para mahasiswanya.

Saat ini bisa dikatakan mahasiswa layaknya narapidana yang tengah menjalani masa hukuman.  Mahasiswa dibuat tidak berkutik oleh sistem yang membelengu dirinya seperti halnya narapidana yang terbelengu oleh rajutan besi.  Hal ini dapat dilihat dengan tekanan-tekanan yang diciptakan oleh sipir kampus (dosen) terhadap tahananya.  Sipir-sipir ini didikte oleh sistem untuk menjalankan roda kehidupan sistem tersebut.

Sistem ini perlu sebuah pengakuan agar lembaga yang menaunginya tetap mendapatkan sebuah penghargaan.  Penghargaan ini berupa lisensi yang membuat lembaga tersebut akan terjaga keberadaanya.  Tuntutan ini yang kemudian menjadi faktor adanya tekanan secara psikologis pada mahasiswa itu sendiri.  Mahasiswa didikte untuk cepat lulus, hal ini dikarenakan tingkat kelulusan mahasiswa menjadi salah satu faktor penolong lembaga pendidikan tinggi untuk mendapatkan lisensi itu sendiri.

Salah satu alat agar mahasiswa ‘sadar’ untuk mempercepat masa studinya adalah dengan mengkontradiksikan kehidupan sosial yang ada.  Sipir kampus ini menjelma sebagai peri penolong yang seolah-olah mengerti kehidupan keseharian mahasiswa itu sendiri.  Mahasiswa diciptakan agar mengerti bagaimana orang tua mereka susah payah mendapatkan uang untuk ongkos studinya.  Hal ini yang kemudian menjadi senjnata ampuh untuk doktrinasi sipir kepada mahasiwanya agar lulus cepat menjadi salah satu senjata penolong orang tua mereka.  Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, apabila demikian adanya mengapa pendidikan tinggi harus berbayar mahal?

Selain tekanan psikologis yang diciptakan, sistem ini kemudian membuat sebuah kepuasan palsu terhadap objek pendidikan (mahasiswa).  Sistem ini mempermudah mahasiswa untuk mendapatkan IP memuaskan dengan menurunkan standar penilaian.  Hal ini mungkin tidak dirasa oleh mahasiswa, karena mahasiswa juga mendapatkan untung atas dasar penurunan standar penilaian.  Namun cara ini dianggap efektif bagi sistem itu sendiri untuk menciptakan kepuasan bagi para mahasiswa.  Hal yang kemudian terjadi adalah, mahasiswa semakin mudah menyel;esaikan masa studinya karena mereka semakin mudah mendapatkan syarat kelulusan.

Paksaaan-paksaan yang tak terlihat ini kemudian menjadikan kampus sebagai penjara.  Mahasiswa diciptakan untuk berfikir terlalu tua.  Mahasiswa dibuat asyik ditengah ketakutan yang ada.  Mahasiswa takut untuk mencoba keluar dari doktrinasi yang diciptakan oleh sistem tersebut.  Namun ketakutan ini menjadi hal yang asyik sehingga mereka tidak sadar hidup penuh dengan ketakutan-ketakutan yang ada.  Mahasiswa semakin dijauhkan untuk berfikir liar di luar kotak kehidupan mereka.  Hal ini wajar adanya, karena sistem dimana ia tinggal menciptakan kondisi demikian.  Sistem menciptakan ketakutan yang sangat mengasyikan.


Oleh karena itu, fenomena partisipasi mahasiswa diluar perkuliahan menjadi wajar.  Hal ini dikarenakan titik psikologis mahasiswa dibuat hanya memikirkan masa studinya.  Rutinitas ketakutan ini akan berjalan apa adanya dan membuat mahasiswa lupa akan keindahan dunia sosial di luar bangklu kuliahnya.  Saat ini yang mereka kenal hanyalah bangku kuliah, beban, dan hiburan semata.  Proses menempuh waktu studi merupakan pilihan bagi para mahasiswa itu sendiri, bukan pilihan yang dipaksakan  Hal ini bisa dikatakan sistem membuat mahasiswa sebagai robot yang berperasaan.

*) Mahasiswa Ilmu Politik 2011
OPINI: Birokrasi Unsoed, Permasalahan Alokasi Dana Beasiswa

OPINI: Birokrasi Unsoed, Permasalahan Alokasi Dana Beasiswa

Oleh: Mohamad Khaidir Nurjaman*

            Berbicara birokrasi tentu berbicara mengenai para birokrat kampus yang memegang jabatan beserta power yang di milikinya untuk menentukan segala bentuk kebijakan kampus. Birokrasi tentu berkaitan erat dengan negosiasi yang berisi dengan segala kepentingan yang berujung pada sebuah kebijakan kampus. Kebijakan yang harus di taati oleh si mahasiswa dan seluruh buruh kampus yang bekerja dalam ruangan-ruangan ber-AC. Ada juga buruh-buruh tekhnis kebijakan. Di kenal sebagai karyawan bapendik, tata usaha, dan tak lupa, dosen yang menjadi alat transformasi ilmu kepada mahasiswa termasuk buruh kampus juga.

Birokrasi, bagian yang tak lepas dari sistem yang menentukan jalannya kebijakan. Ada syarat khusus dalam birokrasi yang dikatakan baik. Salah satunya adalah terbuka , transparan, serta melayani.
Dalam sistem birokrasi kampus, pemegang alur kebijakan tertinggi adalah Rektor, dan jajarannya. Lalu ada pula di fakultas, hinga yang berkaitan dengan Tata Usaha, dan kemahasiswaan. Terlalu rumit, jika dijelaskan dalam satu kalimat, Njlimet, berbelit, dan jelas berbau kepentingan.

Namun kita lihat saja bagaimana gambaran birokrasi sehari hari. Mereka yang berlindung di balik perisai jabatan dan kesucian pemegang kekuasaan. Berlambang spatu mengkilat, jas mewah, ditemani secangkir kopi,dan cigarette, tak lupa gadget berisikan games angry birds (maybe). Mereka memantau berjalannya kebijakan setelah kebijakan berjalan.

Mengapa demikian, ini mungkin karena mereka takut di kebiri kekuasaannya, anti-kritik, sehingga hal-hal itu membuat mereka harus bersembunyi apabila ada yang tidak beres dengan kebijakan yang di putuskannya.

Contoh realnya, ketika seorang mahasiswi jurusan Sosiologi yang tak lain teman kelas saya sendiri hendak mengambil judul mengenai permasalahan “Alokasi Dana Beasiswa Bidik Misi, BBM dan PPA” sebagai skripsi untuk menyelesaikan studi sarjananya. Namun yang terjadi, dia di kritik habis-habisan oleh pembimbingnya, yang juga pemangku kebijakan tingkat rektorat. Kelar di kritik langsung ditandas, ‘Ganti judul tersebut.

Ada sebuah kejanggalan disini, mahasiswa yang harus dituntut kritis akan berpikir dan bertanya mengapa harus di bendung langkahnya? Mengapa judul itu harus di ganti? apa yang salah? Bukan masalah penyusunan bahasa ataupun kata-kata tentunya. Melainkan judul yang hendak di bedah dan dicari informasi kebenarannya.

Memang Permasalahan beasiswa menyangkut keberlanjutan mahasiswa dalam menjalankan studinya. Terkhusus, yang tidak kurang mampu membiayai pendidikan. Artinya alokasi anggaran yang dipertanyakan dalam kasusu skripsi teman saya layak dipertanyakan. Teman saya sendiri mendapat beasiswa.  Ia mendapat jatah beasisiwa, perolehan beasiswa dengan pembatasan tahun, Bidik Misi nama beasiswanya. Dengan Ia sebagai orang yang mendapat beasiswa, Ia pun diganjal pula beasiswanya. Jika judul skripsinya tetap dilanjut, maka beasiswanya akan dicabut.

Lain lagi, ruang pelayanan bapendik pun lucu. Sebagai elemen yang seharunya melayani, malah banyak sekali terjadi kontra pelayanan yang baik. Seperti dalam hal pemberian informasi mengenai opening pendaftaran beasiswa, pihak bapendik sering kali memainkan tanggal pembukaan dan penutupan penyerahan pendaftaran dan persyaratan pengajuan beasiswa.

Pernah saya alami sendiri, juga beberapa teman-teman satu jurusan yang saya ketahui, bahwa pengumuman pendaftaran beasiswa sering kali mendadak, di tambah dengan tidak adanya kejelasan mengenai persayaratan apa  saja yang di butuhkan oleh pihak kampus. Contohnya, ketika itu saya dan kawan saya hendak menanyakan informasi mengenai pendaftaran beasiswa, namun pihak bapendik hanya menjawab, “belum tahu, belum ada, kalau sudah adapun biasanya kami umumkan di papan informasi”.

Memang benar di umumkan ketika itu, Tapi antara waktu pembukaan pendaftaran dan penutupan penyerahan persyarat lebih sering diberikan dengan tenggang waktu sempit. Belum lagi tak adanya kejelasan mengenai persayaratan apa yang harus di serahkan, karena pada saat itu deadline kurang 5 hari. Saya bergegas mempersiapkan persayaratan yang dibutuhkan, jelas cukup banyak da rumit. Sudah seperti itu, kelar urusan yang sudah ditentukan dengan ketidak jelasan info. malah .mahasiswa disalahkan. Berbelit, meminta syarat diganti atau apa lah, sampai waktu itu saya tergesa-gesa.

Inilah yang terjadi senyatanya, birokrasi kampus memang lucu. Tak ada transparansi, pelayanan tak jelas, dan lainya yang memang bertele-tele. Paling krusial dari Pertanyaan saya adalah, soal teman saya. kenapa sampai enggan menerima judul yang di ajukan kawan saya tentang dana. bukankah seharusnya bentukan birokrasi yang baik adalah birokrasi yang terbuka dan transparan. Lalu, apa salahnya jika seorang penerima beasiswa meneliti tentang keganjalan unsoed, Hingga mendapat ancaman di cabut Beasiswanya.


*) Mahasiswa S1 Sosiologi Fisip Unsoed

Menumbuhkan Kembali Solidaritas Warga FISIP


Purwokerto – Cahunsoed.com, Sabtu (27/9), FISIP terkenal dengan kampus perjuangan, rasa kebersamaan dan solidaritas warga FISIP pun sudah ada sebelum fakultas ini terbentuk. Persatuan ini ada, bukan hanya pada tataran mahasiswa, tapi juga dosen, pegawai akademik sampai karyawan kampus. Untuk menjaga rasa persaudaraan itu, Hooligan FISIP mengadakan acara Welcome Party Hooligan FISIP di lapangan politik pada Sabtu (27/9) malam, seperti yang diungkapkan oleh Ketua Panitia Welcome Party, Sulistyo Bani Prastyawan.

Ia mengatakan rasa solidaritas di FISIP sudah kian memudar, acara ini menjadi pemersatu mahasiswa se-FISIP agar menjadi semakin solid. Acara ini pun diisi oleh UKM dan HMJ serta berbagai elemen mahasiswa lintas jurusan di FISIP. “Arti Solidaritas ini ditunjukan dengan mendukung kegiatan apa saja baik itu dari UKM maupun HMJ di FISIP dan juga selalu bersinergi dengan kegiatan yang ada di FISIP,” kata Sulistyo.

Dekan FISIP, Ali Rohman dalam sambutannya mengapreasiasi acara ini. Ia menuturkan kampus FISIP bukan hanya milik mahasiswa saja, tapi milik dosen, karyawan, dan seluruh warga di FISIP. “Kita harus tetap menjaga solidaritas di kampus perjuangan ini, jangan sampai luntur,” katanya.

Acara yang baru diadakan pertama kali ini, disambut baik oleh Isti Wahid Damayanti, Administrasi Negara 2014, Sebagai mahasiswa baru ia merasa tersambut dengan rasa solidaritas di FISIP. “Aku ngerasa bener-bener bisa membaur sama satu mahasiswa yang ada di FISIP,” kata Isti. Menurutnya bentuk solidaritas di FISIP berbeda di kampus-kampus lainnya. “Aku gak nemuin rasa solidaritas kaya gini di tempat lain, solidaritas seperti ini harus tetap dijaga jangan sampai hilang,” katanya.
Tanggapan lain datang dari Loransjia Milazania, Ilmu Budaya 2014, menurutnya rasa solidaritas di FISIP sangat bermanfaat bagi seluruh warga FISIP, terutama untuk mengatasi masalah bersama. “Harapan aku kedepannya acara solidaritas kaya gini tetep ada dan lebih disesuaikan sama masalah yang sedang mahasiswa alami sekarang ini,” kata Loransjia.


Hoologan sendiri, adalah komunitas suporter FISIP, komunitas ini terbentuk pada April 2009. Acara yang diisi penampilan musik, game, dan teatrikal oleh UKM dan HMJ se-FISIP ini ditutup dengan nyayian lagu “Padamu FISIP” secara bersama-sama. (RJL/ALX)

Dekan Peternakan Akui UKT Tidak Perlu Dinaikan


Purwokerto – Cahunsoed.com, Kamis (25/9), Dekan Fakultas Peternakan, Akhmad Sodiq mengakui UKT tahun 2014 tidak perlu dinaikan. Menurutnya nominal UKT tahun 2013 sudah cukup memenuhi kebutuhan mahasiswa. “Selain itu, karena disini banyak yang berpenghasilan minim,” katanya. Menanggapi kenaikan UKT berbagai jurusan di Unsoed, Akhmad menegaskan, kenaikan tersebut harus diimbangi dengan peningkatan prasarana dan sarana mahasiswa. “Segala kebutuhan mahasiswa harus sudah terpenuhi,” katanya.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2014, Adita Widya Pangestika mengatakan, banyak teman-temanya yang keberatan dengan biaya UKT yang diterima. ”Kalo dihitung dari penghasilan sama pengeluaran orang tua, UKT ya lebih dari gaji yang diterima, ini ya cukup berat,” kata Adita. Adita juga mengeluhkan prasarana dan sarana akademik yang tidak mengalami peningkatan semenjak ia masuk kuliah. “Prasarananya masih gitu-gitu aja gak ada peningkatan,” keluhnya.


Akhmad Sodiq juga setuju perlu adanya pengawalan bersama tentang alokasi dana UKT. “UKT harus dikawal dengan baik, agar tidak timbul permasalah lain,” katanya. Ia berharap agar UKT mahal ini cepat diatasi. “Supaya banyak orang yang bisa merasakan bangku kuliah,” kata Akhmad. (LRS)

Membangkitkan Nasionalisme Melalui Lagu

Purwokerto – Cahunsoed.com, Jumat (19/9), Nasionalisme dapat diaplikasikan dengan banyak wujud, salah satunya dengan lagu. Dibalik keindahan sebuah lagu, sesungguhnya mengandung makna yang tersimpan, ungkap Ketua Paduan Suara Mahasiswa Gita Buana Soedirman (PSM GBS), Ratna Anisa. ”Lagu wajib yang dinyanyikan pada lomba kali ini memang mengandung doa untuk anak negeri agar tetap menjaga Negeri dan bersyukur dengan apa yang ada di dalamnya,” kata Anisa pada Festival Paduan Suara 2014 (FPS GBS), di Gedung Soemardjito Unsoed, Kamis (18/9).

Lebih lanjut Ratna menjelaskan lomba ini diikuti oleh siswa SMA se-Barlingmascakeb, mengingat kini banyak remaja yang sudah banyak melupakan nilai-nilai nasionalisme. “Dan kita sebagai mahasiswa berkewajiban untuk senantiasa membawa dan menyebarkan nilai-nilai itu,” ungkap Ratna.


Sando Darmawan, salah satu penonton FPS GBS, mengatakan bila tema yang dibawa sangat sesuai dengan situasi yang ada saat ini. ”Apa lagi jiwa nasionalisme sudah mulai luntur,” katanya. Ia juga berharap agar lomba yang mengangkat tentang nasionalisme semacam ini terus ada. (LRS)

Unsoed Menagih Uang Kepada Mahasiswa Nonaktif


Purwokerto - Cahunsoed.com, Kamis (18/9), Pada Surat Penagihan Rektor No.6627/UN23/KU/2014 Tahun 2014, dijelaskan bila mahasiswa yang belum membayar biaya pendidikan agar segera melunasinya sampai 30 September 2014. Penagihan ini didasarkan pada anjuran Badan Pengawas Keuangan (BPK) hasil evaluasi tentang Laporan Keuangan Unsoed Tahun 2013. Kepala Bagian Keuangan Unsoed, Ariyanto, menjelaskan saat evaluasi, BPK menemukan kekurangan dana dalam laporan Unsoed. 

Menurutnya, kekurangan tersebut diterletak pada Piutang dari Kegiatan Operasional (Jasa Layanan Pendidikan) per 31 Desember 2013. “Maka kami menagih piutang mahasiswa untuk menutupi kekurangan keuangan dana dalam laporan,” kata Ariyanto.

Namun, pada lampiran surat yang tercantum dalam website www.unsoed.ac.id tersebut tercantum nama-nama mahasiswa yang sudah tidak aktif. “Iya disitu banyak mahasiswa angkatan lama kaya tahun 2003 sama 2005 yang udah lama keluar dari Unsoed,” kata Henrikus Setya Adiapratama, Administrasi Negara 2008.

Ariyanto pun mengaku tidak terlalu memahami terkait status mahasiswa pada lampiran surat tersebut. Pihaknya hanya menerima lampiran daftar mahasiswa dari bagian registrasi dan statistik. “Saya gak tau, itu data dari pihak registrasi,” katanya.

Sedangkan Staff Subbag Keuangan Unsoed, Alivia Prasetya Ramadhon, mengakui adanya mahasiswa yang tidak aktif yang tercantum dalam tagihan piutang ini. Ia meyakini ada banyak mahasiswa tidak aktif yang mungkin tercantum di surat penagihan tersebut. “Ya mungkin banyak mahasiswa non aktif yang tercantum disana,” kata Alivia.

Lebih lanjut Alivia menjelaskan bila model penagihan ini hanya sebatas surat peringatan sebanyak 3 kali. “Klo masih gak bayar, setelah itu kita hapus data piutangnya, itu anjuran BPK,” kata Alivia. Sementara itu, Wiratmoko, Staf Registrasi dan Statistik Unsoed, tidak tahu menahu terkait daftar mahasiswa dalam lampiran tersebut. “Saya malah baru liat sekarang mas,” katanya.(ICA/ALX)

Proses Re-Akreditasi Tersendat Anggaran

           
Purwokerto – Cahunsoed.com, Rabu (17/9), Rencana re-akreditasi Jurusan Ilmu Komunikasi yang telah dipersiapkan berbulan-bulan tersendat karena kekurangan dana. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi, Toto Sugito. Hasilnya proses re-akreditasi ulang tidak berjalan hingga melewati batas kadaluarsa pada 28 Agustus 2014.

Toto menjelaskan lebih lanjut, bila proses re-akreditasi ini melibatkan dosen padahal itu bukan Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) dosen. Ia mempertanyakan hak dosen tim re-akreditasi.“Dalam pembuatan borang, kami tidak mendapatkan honor. Kami menginginkan hak yang jelas,”kata Toto. Menurutnya, honor dan pembagian tugas seharusnya sudah terselesaikan jauh hari sebelum akreditasi kadaluarsa. “Ini yang membuat proses perpanjangan akreditasi tidak rampung-rampung,” ungkap Toto.

            Pembantu Dekan I, Masrukin, membenarkan hal tersebut. Alasannya anggaran dari pihak rektorat minim sehingga dosen tidak mendapatkan dana yang layak . ”Hal ini yang membuat honor dosen tak diberikan,” kata Masrukin.

            Padahal, pada pertemuan Pembantu Dekan I se-Unsoed dengan Pembantu Rektor I, disepakati setiap program studi diberikan 25 juta rupiah untuk akreditasi. Namun pada kenyataannya, dana yang diberikan tahun 2014 hanya 5 juta rupiah. “Mungkin dicoret oleh pembantu rektor bidang lain untuk alokasi yang lain,” lanjutnya.

            Lambannya proses re-akreditasi ini dikeluhkan oleh mahasiswa, khususnya mahasiswa yang lulus pada periode September ini. “Beban juga sih lulus tanpa akreditasi, takutnya sulit dapat kerja,” ungkap Faiz Ridhal Malik, mahasiswa Ilmu Komunikasi yang baru diwisuda bulan ini.

Berdasarkan pengamatan Tim Cahunsoed.com, jurusan lain pun mengalami kejadian serupa. Terhitung pada September 2014 ini ada 11 program studi dengan status kadaluarsa, belum diperpanjang. Hingga berita ini diturunkan, baik Pembantu Rektor I maupun Pembantu Rektor II belum bisa dihubungi terkait permasalahan tersebut.
(PDL)

Kebebasan Mengakses Lingkungan Kampus Dibatasi


Source: http://www.lpm-projustitia.com
Purwokerto – Cahunsoed.com, Selasa (16/9), Pihak Dekanat Fakultas Hukum (FH) melalui Pembantu Dekan II, melakukan pengusiran terhadap stand oprec UKM FH di Lobi Justitia 1, Rabu (10/9). Pengusiran tersebut diakui Dekan Fakultas Hukum, Angkasa, alasan pengusiran tersebut datang dari keluhan dosen. “Banyak dosen mengatakan stand itu mengganggu akses masuk dan saya rasa juga mengganggu estetika,” ungkapnya. Ia justru menganjurkan UKM untuk membuka stand di pinggir Justitia 1. “Itu kan posisinya di dekat pohon, jadi cukup teduh dan tidak menggangu lalu lintas serta keindahan,” kata Angkasa.

Padahal Menurut Bangkit Adi, UKM LKHS, Lobi Justitia 1 merupakan tempat yang paling strategis. “Ya, kalo di lobi sini kan tempat orang lalu-lalang, jadi ya udah yang paling stategis,” kata Bangkit. Menanggapi pengusiran tersebut, perwakilan UKM dan BEM telah berkumpul untuk melakukan konsolidasi dan menyepakati menolak pemindahan yang disarankan. Esoknya mahasiswa kembali membuka stand UKM.


Agung Priambodo, UKM JEC, mengatakan hasil dari konsolidasi ini, mahasiswa dan BEM FH sepakat untuk mengadakan audiensi dengan pihak dekanat, supaya tetap menggunakan tempat semula. “Tapi belum ada respon dari dekanat, kata Agung.  Namun, menurut Angkasa, tidak terlaksanannya audiensi ini karena BEM belum siap untuk mengadakan audiensi. “Mungkin karena baru ganti kepengurusan,” ujarnya. (IND/QYU/TRI)

Posko Aduan UKT Siap Didirikan se-Unsoed


Purwokerto – Cahunsoed.com, Senin (15/7), Melihat permasalahan UKT yang semakin mendesak dan kebutuhan mahasiswa akan ruang pengaduan UKT. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsoed akan membuka posko pengaduan UKT di setiap fakultas se-Unsoed. Hal ini diungkapkan oleh Presiden BEM, Harvin Nurulhaq, dalam Forum Seninan SOMASI UNSOED di PKM Unsoed, Senin (15/9) malam. “Kita memberikan ruang untuk menampung keluhan mahasiswa tentang UKT untuk semua angkatan khususnya 2014,” kata Harvin. Tujuan dari pendirian posko ini untuk mengumpulkan data mahasiswa yang bermasalah dengan UKT, guna mempermudah proses advokasi lebih lanjut. Posko ini pun didirikan BEM bersama SOMASI UNSOED. “Ini penting, mengingat banyaknya keluhan dan masalah mahasiswa tentang UKT,” kata Harvin. Ia juga berharap agar BEM dari setiap fakultas dan jurusan bisa bekerjasama untuk berkoordinasi dalam pengumpulan data ini.

Fiky Firdaus, mahasiswa Ilmu Budaya, mendukung langkah ini, menurutnya banyak mahasiswa 2014 yang UKT-nya bermasalah. Pendirian posko UKT ini diharapkan bisa menjawab kebingungan mahasiswa untuk mengadukan masalahnya. “Posko Aduan UKT ini adalah langkah awal untuk menyelesaikan permasalahan mahasiswa,” kata Fiky.

Dalam Forum Seninan SOMASI UNSOED yang dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai fakultas dan jurusan se-Unsoed ini. Dibahas tentang berbagai permasalahan serta keluhan mahasiswa tentang UKT. Seperti kenaikan level, UKT diluar kemampuan orangtua, hingga pungutan diluar UKT. Forum ini pun akan terus diadakan setiap hari Senin. Oji Hanafi, salah satu peserta forum mengajak setiap mahasiswa agar datang ke forum ini khususnya mahasiswa yang ingin membahas terkait UKT. “Forum ini terbuka bagi setiap mahasiswa, Senin besok kita masih pertemuan di PKM. Selanjutnya pertemuan ini bakal giliran di setiap fakultas,” kata Oji. (ALX)


Mahasiswa 2014 Pertanian Butuh Ruang Pengaduan UKT


Purwokerto – Cahunsoed.com, Senin (15/9), Mengeluh dengan UKT yang tidak sesuai dengan kemampuan orangtua, mahasiswa baru 2014 pertanian mengaku bingung harus mengadu ke mana. Mereka menyatakan kalau masih banyak mahasiswa yang UKT-nya bermasalah tetapi tidak ada tempat untuk mengadukannya. Salah satunya Monica, Agribisnis 2014, Ia mengeluhkan jika Ia membutuhkan tempat untuk mengadukan keluhannya soal UKT.

“Kita bingung mau ngadu kesiapa,” kata Monica. Ia mengharapkan adanya tindakan dari BEM fakultas untuk menjaring mahasiswa yang bermasalah dengan UKT.
“Banyak yang bermasalah. Saya harap BEM Pertanian mau menanggapi masalah UKT kita, habis mau kemana lagi kita mengadu,” katanya.

Tidak hanya Monica yang berharap adanya sosialisasi dan tanggapan dari pihak BEM, Puput Indah, Agrobisnis 2014 juga menginginkan adanya ruang pengaduan terkait keluahan soal UKT 2014.

Menanggapi hal ini, Presiden BEM Pertanian, Samsul Mashari, berjanji akan segera menampung keluhan mahasiswa melalui wadah BEM. “Dalam minggu minggu ini kita akan buka Posko, sehingga mahasiswa yang mengeluh bisa sesegera mungkin melaporkan,” katanya. (FHR/RJL)

KBMF Akan Buka UKT Corner

UKT KBMF UNSOED
Purwokerto – Cahunsoed.com, Rabu (03/09), Menanggapi banyaknya keluhan dari mahasiswa baru 2014, BEM beserta DLM , UKM dan HMJ FISIP akan membuka posko pengaduan UKT. Hal tersebut, diputuskan melalui rapat terbuka KBMF yang di adakan di ruang 2 kampus FISIP. Menurut penuturan Faisal Yanuar ABS, sebagi presiden BEM FISIP terpilih posko tersebut di adakan karena banyak mahasiswa yang mengeluhkan beban biaya UKT.

“Keluhan soal level yang membebani itu banyak, akhirnya kita bikin UKT Corner, untuk menjaring dan mendata mahasiswa yang merasa UKTnya bermasalah” kata Faisal.

 Selain itu, hadirnya UKT Corner juga di tujukan sebagai simbolisasi atas perjuangan UKT yang sampai hari ini belum selesai.  “Masih banyak masalah soal UKT, jadi masih kita perjuangin.” Kata Ketua DLM FISIP, Irfan Nurhidayat.

Rencananya UKT Corner ini akan diselenggarakan pada Kamis, (04/09) pukul 09.00-14.00, bertempat di Jalan Perjuangan FISIP. (ELN)