Dana KKL Tak Masuk Perhitungan UKT


Purwokerto – Cahunsoed.com, Kamis (30/4), KKL yang menjadi mata kuliah wajib mahasiswa ternyata tak masuk perhitungan UKT. Seperti yang disampaikan dosen pengampu KKL Sosiologi, Haryadi. “Sifatnya dana bantuan, nggak masuk perhitungan UKT,” katanya.

Dana bantuan yang dimaksud merupakan dana dari fakultas. Besaran dana hanya 100 ribu, hal itu dirasa kurang mencukupi kebutuhan KKL. “Kalo buat KKL dana segitu ya kurang, jadi mahasiswa iuran lagi,” katanya.

Tidak adanya dana untuk KKL ini merupakan kelalaian dari Fakultas. Hal itu diakui oleh Wakil Dekan II, Waluyo. Waluyo beranggapan bahwa seharusnya sudah ada perumusan kembali untuk Unit Cost, “Harusnya masuk, tapi kebanyakan males ngerumusinnya lagi, susah,” katanya.

KKL angkatan 2011 lalu pun hanya diberi dana 100 ribu. Meski jurusan Sosiologi pernah mengeluhkan hal ini, namun belum ada perubahan dari fakultas. Salah satu mahasiswa Sosiologi 2012, Akbar Restu Fauzi mengeluhkan hal ini. Ia sangat menyayangkan kalau ternyata ada pungutan lagi di luar UKT pada mata kuliah wajib.

“Harusnya kalo udah pake UKT, kan KKL nggak usah bayar, terus apa bedanya SPP sama UKT kalau seperti itu, kita kira kalau sudah UKT itu pasti tidak akan ada bayaran lagi, karena sudah jelas kalau kebijakan UKT hanya sekali bayar,” kata Akbar.

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh Cahunsoed.com. Kecuali ilmu politik, semua mahasiswa 2012 di FISIP yang mengambil matakuliah KKL dikenakan biaya tambahan. Meski diawal sempat ada negosiasi dengan masing-masing jurusan, seperti ilmu komunikasi dan sosiologi, akhirnya mahasiwa tetap dikenakan biaya tambahan untuk KKL. Sedangkan ilmu politik untuk mengakali dana yang minim, mereka mengalihkan KKL ke program magang. (TRI)

PG Kalibagor Tak Layak Dibongkar

Diskusi Film PG Kalibagor di FIB Unsoed
Purwokerto - Cahunsoed.com, Rabu (29/4), Upaya mempertahankan PG Kalibagor terus dilakukan, salah satunya melalui diskusi film. Bertempat di Fakultas Ilmu Budaya Unsoed, diskusi ini mengambil tema ‘Jejak Warisan yang Dilenyapkan’. Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Bambang Lelono, menyayangkan pembongkaran PG Kalibagor. “Yang namanya history di dalamnya pasti ada distorsi,” katanya.
Menurut pegiat History Heritage, Jatmiko, PG Kalibagor sudah terdaftar sebagai bangunan cagar budaya tak bergerak di Kabupaten Banyumas. Hal ini tercantum dalam Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah tahun 2009 dan ditandatangani langsung oleh Kepala Dinbudpar Kab. Banyumas, Saptono Supriyanto. “Data ini kan ada pada dinas, harusnya PG Kalibagor diperlakukan layaknya bangunan cagar budaya,” katanya.
Sedangkan menurut perwakilan dari Dinbudpar, Edi Suswanto, PG Kalibagor tidaklah dibongkar hanya direnovasi. “Bangunan tua yang dibiarkan kan mudah sekali roboh, jadi kami renovasi,” katanya.
Film dokumenter yang diproduksi oleh CLC Purbalingga ini terbuka untuk umum. Salah satu peserta diskusi, Ahmad Sucipto mahasiswa Administrasi Negara 2009, menganggap pembongkaran PG Kalibagor ini bagian dari kapitalisme global. “Bisa jadi kalo PG Kalibagor dibongkar, bakal dikomersialisasikan,” katanya. Sebelumnya, pembongkaran PG Kalibagor ini telah dilakukan pada Minggu (12/4) lalu, yang menyebabkan cerobong asap sudah rata dengan tanah. (TRI)

Melalui Puisi, Mahasiswa Tolak Eksekusi Mati Mary Jane


Purwokerto-Cahunsoed.com, Selasa (28/04). Dukungan terhadap penolakan eksekusi mati Mary Jane semakin menguat. Kali ini bertepatan dengan hari puisi sedunia, puluhan mahasiswa  yang tergabung dalam Front Mahasiswa Nasional (FMN), menggelar aksi pembacaan Puisi untuk Mary Jane di depan patung kuda Unsoed. Amy Bondan Maharaja selaku humas aksi, mengatakan jika aksi ini merupakan reaksi terhadap eksekusi Mary Jane.

“Rencananya eksekusi Mary Jane dilaksanakan tengah malam nanti,” kata Bondan. 

Ia menambahkan aksi ini bertujuan untuk menolak eksekusi mati Mary Jane. Karena Mary Jane merupakan korban penipuan dan human trafficking, dan dia bukanlah pelaku sebenarnya dari penyelundupan narkoba.

Menurut data yang dipaparkan dalam aksi, putusan hukuman mati yang dijatuhkan kepada Marry Jane  Felloso, perlu dilakukan peninjuaan kembali. Peninjauan yang berkaitan dengan kesaksian bahwa Marry Jane telah ditipu oleh gembong mafia Internasional.

Salah satu peserta aksi, Marbun Sitonggang mengatakan aksi ini membuat kami tahu, bahwa hukum di Indonesia itu kejam. “Seperti yang diberitakan, bahwa Mary Jane tidak bisa bahasa Inggris. Jadi ketika ia disidang, ia tidak tahu apa-apa. Lalu kenapa harus dihukum mati?” ujarnya. (oL)
Satu Langkah Kecil

Satu Langkah Kecil

Oleh. Pembarep Wisnu*


Sumber: Google
Ibukota, yang berarti ibu dari semua kota

Kota yang isinya hampir masyarakat urbanisasi

Kota yang kecil dan hampir tenggelam ini

Dari sampah pabrik sampai sampah masyarakat, semuanya ada


Kerap banjir datang kau bilang bencana

Kemarau berkunjung kaubilang petaka

Tapi kau biarkan orang-orang serakah mengeruk hakmu termasuk tanahmu

Sedangkan drainase masih mampet sana-sini karena sampah


2015

*) Mahasiswa Sosiologi 2012, dan anggota Teater SiAnak Fisip Unsoed

Hari Kartini, Perempuan Masih Belum Peduli Lingkungan


Purwokerto - Cahunsoed.com , Selasa (21/4), Perempuan di Indonesia khususnya yang tinggal di lingkungan kampus masih belum peduli dengan lingkungan di sekitarnya. Itu terbukti dari keseharian mereka baik di kantin, kelas, bahkan sekre yang masih sering membuang sampah sembarangan.

Hal ini dikatakan oleh Presiden BEM FISIP Unsoed, Faisal Yanuar, menurutnya, perempuan bukan hanya tentang emansipasi, tapi juga harus peduli lingkungan. “Kita menyadarkan mahasiswa agar peduli lingkungan,” katanya dalam acara ‘Kartini Lingkungan’ yang diadakan oleh BEM FISIP Unsoed di Pendopo FISIP, Selasa (21/4) siang.

Faisal juga mengatakan, alasan tema Hari Kartini yang mengangkat isu lingkungan karena bertepatan dengan hari bumi, “Karna momennya pas aja,” kata Faisal. Follow up dari acara ini, dilanjutkan dengan bersama-sama membersihkan lingkungan kampus Rabu (22/4) besok.


“Simbolisasi untuk acaranya ini udah dapet tapi gerakan nyatanya belum ada,” kata Mahasiswa Sosiologi 2013, Teguh Susetyo. Teguh berharap acara ini tidak sekedar seremonial semata tapi juga harus diikuti dengan tindakan nyata yang bermanfaat. (MG-SHL/MG-DYH)

Masyarakat Tolak Pembongkaran PG Kalibagor

Purwokerto – Cahunsoed.com, Jumat (17/4), Pembongkaran Pabrik Gula (PG) Kalibagor yang sudah berlangsung sebulanan ini menuai kecaman dari masyarakat banyumas. Massa yang menamakan dirinya Aliansi Masyarakat Tanpa Nama Tanpa Bendera (#NoNameNoFlag), melakukan aksi ‘Setan-Setan Kalibagor Turun Aksi’ dengan melakukan longmarch dari pertigaan Stasiun Timur hingga Alun-alun Purwokerto. Sambil membunyikan kentongan, massa yang terdiri dari mahasiswa, Komunitas Banjoemas Heritage, seniman dan budayawan ini juga meneriakan yel-yel penolakan terhadap pembongkaran PG Kalibagor. Dalam orasinya, mereka menyerukan pembatalan pembongkaran PG Kalibagor, karena bangunan tersebut sudah terdaftar sebagai Cagar Budaya pada tahun 2009.

Korlap Aksi, Setiarji mengatakan, aksi ini dilakukan sebagai bentuk keprihatinan dan tuntutan kepada pemerintah daerah yang kurang berpihak pada bangunan cagar budaya. Terbukti dari banyaknya cagar budaya yang sudah dihancurkan oleh pemerintah seperti Gedung Soetedja dan Ringin Kurung. “Cagar budaya itu adalah aset Negara, sesuai undang-undang, yang menghancurkan cagar budaya itu berarti dia melanggar hukum,” katanya.

Hal itu diamini oleh Jatmiko Wicaksono, peserta aksi dari Komunitas Banjoemas Heritage. Menurutnya, Cagar Budaya adalah identitas bangsa, bila bangunan PG Kalibagor dihancurkan, maka sejarah Banyumas hanya tinggal cerita. “Jangan melupakan sejarah, Selain PG kalibagor adalah bangunan sejarah,  masyarakat banyumas juga mempunyai ikatan emosi yang tidak bisa dilepaskan dari PG Kalibagor,” kata Miko.

Dwi Pujiati, salah satu warga, mendukung aksi ini. Ia menyayangkan sikap pemerintah yang diam melihat simbol identitas budayanya dihancurkan. “Itu kan bangunan yang sangat bersejarah bagi masyarakat Banyumas. Kalau hancur kita tidak mungkin bisa dibangun lagi. Sayang kalau dihancurkan, lebih baik di renovasi dan digunakan untuk yang bermanfaat tanpa meninggalkan nilai sejarahnya,” kata Puji.


Massa mengakhiri aksinya dengan memberikan miniatur PG Kalibagor kepada pemda di depan pendopo Sipanji. “Kita tidak mau bertemu dengan pejabat/DPRD, kita sudah tidak percaya dengan mereka lagi. Hari ini cerobong Kalibagor sudah hilang, mungkin besok kita hanya bisa melihat miniaturnya saja, semoga mereka sadar setelah melihat miniatur ini,” kata Aji. (ALX)

Hasil Audiensi Sepihak, Gor Soesoe Disegel


Purwokerto - Cahunsoed.com, Rabu (15/4), Puluhan mahasiswa Unsoed yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Unsoed Pencinta Gor Soesilo Soedarman (AMPeGS) mengadakan aksi menuntut transparansi pengelolaan Gelanggang Olahraga Soesilo Soedirman (Gor.Soesoe) dengan melakukan aksi longmarch dari PKM sampai rektorat sambil menyanyikan yel-yel tuntutan, Rabu (15/4).

Audiensi dinilai sepihak karena tuntutan mahasiswa tidak digubris selain itu Wakil Rektor III, Prihananto tidak memberikan kesempatan kepada semua mahasiswa untuk masuk ke dalam ruangan audiensi. Rizky, Korlap Aksi, menyayangkan sikap rektorat yang tidak mau bertemu mahasiswa. “Rektor tidak ada itikad baik dalam menanggapi kasus ini, Padahal mahasiswa ingin menyampaikan keluhan secara langsung,” kata Rizky.

Pasca Audiensi, massa aksi lalu bergerak menuju Gor.Soesoe. Mereka lalu menyegel Gor.Soesoe sebegai bentuk kekecewaan pada pihak rektorat yang bertindak sepihak. “Kita sudah berbaik hati, kita yang nyamperin ke rektorat baik-baik, tapi mereka gak mau,” kata Agam Imam Pratama. Selain itu, Rizky mengatakan, Setelah penyegelan ini, massa akan bergerak kembali untuk menuntut audiensi ulang dari pihak rektorat. “Karena permasalahan ini, belum selesai sepenuhnya,” kata Rizky.

Fasilitas Masih Belum Memadai 

Dalam aksinya massa menuntut terbukanya akses peminjaman Gor untuk seluruh mahasiswa Unsoed, perbaikan fasilitas, dan transparansi anggaran pengelolaan Gor.Soesoe. Konflik Gor.Soesoe ini berawal kala Prodi Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Kreasi (PJKR) menggunakan Gor.Soesoe untuk kegiatan perkuliahan, semenjak itu beberapa UKM Bola mengaku kesulitan meminjam Gor karena bertabrakan dengan jadwal kuliah PJKR. “Saya terbuka buat semuanya yang mau pinjam, silahkan saja. Sebenernya saya sedih, mereka (red: mahasiswa PJKR) juga menuntut fasilitas yang banyak kurangnya,” kata Nanang Ketua Prodi PJKR. (ELN)

Budaya Egaliter di Banyumas Belum Menyentuh Perempuan


Purwokerto – Cahunsoed .com, Selasa (14/4), Banyumas yang secara budaya dipengaruhi oleh dua kebudayaan yakni jawa dan sunda, membuat Banyumas dianggap lebih egaliter. Hal ini dinyatakan oleh Dosen Ilmu Politik Unsoed, Dr. Sofa Marwah, sekaligus penyusun buku dalam bedah buku ‘Kontestasi Perempuan dan Politik dalam Budaya Banyumas’. “Jauhnya Banyumas  dari keraton, dan pengaruh dekatnya dengan masyarakat Sunda, membuat Banyumas lebih Egaliter dari wilayah Jawa lainnya,” ungkapnya. Namun ia menyayangkan kharakter egaliter ini hanya sebatas interaksi simbolik seperti penggunaan bahasa, ”Bukan secara substansi, sehingga tak begitu berpengaruh dalam konstetasi politik perempuan di Banyumas,” kata Sofa.

Dosen Ilmu Politik Unsoed, Luthfi Makhasin, Ph.D juga mengatakan, budaya egaliter belum menjamin diterminya perempuan dalam ranah politik. “Masih ada pengaruh lain yang sama kuat seperti faktor ekonomi dan sosial,” katanya. Sofa mengatakan, budaya egaliter seharusnya diiringi dengan kesadaaran masyarakat tentang kesetaraan perempuan khususnya dalam ranah politik, “namun nyatanya budaya patriarki masih sangat dominan di Banyumas,” tambahnya.


Bedah buku ini dilaksanakan di laboratorium politik, kerjasama antara laboratorium politik dan Himapol. Mengundang kalangan dosen fisip, dan UKM/HMJ. “Menurut saya diskusi semacam ini sangat bermanfaat, apalagi membahas perempuan dalam konteks lokal yaitu Banyumas,” kata Wahyuni Mahasiswa Ilmu Politik 2012. (FIT)

Pembongkaran PG Kalibagor Langgar Undang Undang Cagar Budaya

PG sebelum di bongkar. Sumber photo: Banjoemas.com

Purwokerto – Cahunsoed.com, Minggu (12/4), Pembongkaran Pabrik Gula kalibagor (PG Kalibagor) yang sedang berlangsung saat ini dinilai menyalahi aturan perundang undangan. Hal ini di katakan oleh Imam Hamidi Antasalam, Pamong Budaya Nasional Kemendikbud RI.  Hal tersebut Ia katakan dalam diskusi dan kajian bersama dengan mahasiswa, di kampus FISIP Unsoed.

“Ini sudah menyalahi aturan perundangan secara menyeluruh, yakni Undang Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya,” kata Imam.

Dalam aturan perundangan tersebut, berdasarkan analisis Imam, penyalahan aturan ini secara khusus terdapat  dalam paragraf 3 pasal 81, tentang revitalisasi. Penyalahan aturan ini bisa mendapatkan sanksi pidana yang juga di atur dalam undang undang tersebut.

Doc Istimewa ; Wiwit @Banyumase
Selain Imam, Jatmiko W salah satu pegiat Komunitas Heritage Banyumas, juga menilai jika Banyumas tidak bisa menjadi contoh dalam melestarikan budaya.  “Bangunan PG Kalibagor, sudah teregristasitrasi sebagai benda cagar budaya sejak tahun 2009 oleh Pemda Banyumas, aneh kalo pemda mengizinkan pembongkaran,” kata Jatmiko.


Menanggapi hal ini, salah satu mahasiswa yang juga tergabung dalam diskusi, Ragil Chandra, menyayangkan sikap pemerintah. Ragil mengkhawatirkan jika nantinya benda budaya yang lain juga akan dimusnahkan. (Qyu)

Menolak Pelatihan Militer di Tanah Urutsewu


Purwokerto - Cahunsoed.com, Rabu (8/4), Konflik antara petani dengan TNI di daerah Kebumen, tepatnya di tanah Urutsewu hingga saat ini masih terus berlanjut. Petani menolak ladang mereka dijadikan kawasan untuk latihan TNI yang membuat warga merasa tidak nyaman. Seperti yang disampaikan salah seorang anggota Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan (FPPKS), Seniman, ia menolak tindakan TNI yang terus melakukan pelatihan militer di Urutsewu. “Tanah Urutsewu ini sering dijadikan latihan TNI AD dan tempat uji coba senjata,” katanya dalam Diskusi ‘Studi Kasus Konflik Urut Sewu’ Oleh Teater Sianak dan HMI FISIP di Mushola FISIP, Selasa (7/4) kemarin.
Menurut Lurah Urutsewu, Widodo Sunu Nugroho, konflik mengenai tanah Urutsewu ini sudah berlangsung sejak zaman kolonial. Di tahun 2011, sempat terjadi bentrok antara warga dengan TNI AD tepatnya pada 16 April. Bentrok menyebabkan beberapa warga khususnya petani pada saat itu mengalami luka-luka akibat terkena senjata. Kerugian akibat pengrusakan motor warga oleh TNI pun belum diselesaikan. “Sampai sekarang tragedi 16 April belum selesai kasusnya,” kata Widodo yang menyampaikan pernyataannya pada diskusi peringatan Hari Bumi di FISIP Unsoed.
Dalam diskusi ini dijelaskan awal mula konflik yang terjadi di Urutsewu. Dari mulai sering dijadikan tempat latihan senjata, eksploitasi pasir besi, hingga pemagaran yang dilakukan oleh TNI.
Salah seorang peserta diskusi, Tukiban mahasiswa Sosiologi 2012, mengharapkan dukungan untuk mempertahankan tanah Urutsewu ini dilakukan oleh siapa saja. “Harusnya pemuda disana juga ikut andil mempertahankan tanahnya,” katanya. (TRI)

Sebulan Penggunaan Fingerprint, Mahasiswa Masih Kesulitan


Purwokerto – Cahunsoed.com, Kamis (2/4), Meski sudah berlaku sebulan, sistem presensi fingerprintdi Fakultas Ekonomi Bisnis, masih menyulitkan mahasiswa. Priska Indriani, Mahasiswa Manajemen 2012, pernah mengalami kesalahan dalam penggunaan alat ini. Ia sudah melakukan scanning ibu jari, tapi dalam sistem tertulis tidak hadir. 

“Akhirnya aku ke transit dan ngurus absen. Ribetnya harus cek ke e-SIA juga,” katanyaPenggunaan fingerprint sendiri berlaku mulai 15 menit sebelum dan sesudah perkuliahan. Di luar itu, mahasiswa tidak bisa melakukan absensi. Janitra Yoga, mahasiswa Akuntansi 2014,  mengatakan belum ada sosialisasi yang masif, hanya petunjuk di depan dan di atas fingerprint.

Penerapan sistem presensi baru ini bertujuan mengurangi budaya “titip absen” mahasiswa. Aribawa, Staf Subbag Akademik dan Kemahasiswaan Unsoed mengatakan, sosialisasi tidak perlu dilakukan sebab presensi ini hanya menyangkut perkuliahan dan Bapendik (Baca: Mahasiswa Tak Tahu Ada Sistem Presensi Baru). “Presensi ini kan hubungannya sama bapandik, mahasiswa saya pikir tidak perlu tahu. Yang penting mereka kuliah,” katanya.

E-presensi Diterapkan se-Unsoed
Ia menjelaskan lebih lanjut, kebijakan baru mengenai presensi ini diterapkan se-Unsoed. Bagi fakultas yang belum memiliki alat fingerprint, mekanisme rekapitulasinya menggunakan cara manual yang diunggah setiap hari di akademik.unsoed.ac.id. “Yang sudah menggunakan fingerprint hanya fakultas ekonomi, yang lainnya kami anjurkan tetap meng-upload presensinya dengan cara manual. Supaya kita bisa melihat absen mahasiswa secara realtime,” katanya.

Mengenai fakultas lain yang belum memiki fingerprint, Ari mengatakan pengadaan fingerprint masih terkendala dana. “Mungkin tahun depan mas, harganya lumayan mas 3-4 juta per unitnya,” kata Ari.

“Tapi meski sudah pakai fingerprint kita masih absen lagi di kertasnya dosen, jadi kayanya gak ada efeknya pakai finger print,” kata Ayu Budi Wardhani, Mahasiswa Manajemen 2014.

(MG-SHL)